Tabooo.id: Deep – Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon saat menjalankan misi yang dunia sebut sebagai penjaga perdamaian. Peristiwa ini langsung memunculkan pertanyaan keras seberapa aman sebenarnya misi yang Indonesia jalankan di zona konflik?
Pemerintah menegaskan sikapnya jelas. Indonesia tidak menarik pasukan dari UNIFIL, meski evaluasi keamanan terus berjalan.
Indonesia Tegaskan Sikap, Evaluasi Jalan
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan pemerintah tidak akan menarik pasukan TNI dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
“Tidak ada untuk ke situ (penarikan pasukan). Evaluasi tetap berjalan, evaluasi ke dalam dan keluar,” kata Teddy di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Pemerintah tetap memegang komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Teddy menyebut amanat itu mengacu pada Pembukaan UUD 1945.
Ia juga menjelaskan bahwa Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Menteri Luar Negeri Sugiono terus mengawasi aspek keamanan prajurit di lapangan.
Kronologi Serangan di Lebanon
Serangan di Lebanon selatan menewaskan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL.
Serangan artileri pertama terjadi di dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026. Dalam insiden itu, Praka Dua Farizal Rhomadhon kehilangan nyawanya.
Sehari setelahnya, serangan terhadap konvoi pasukan kembali terjadi. Dua prajurit, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, gugur saat menjalankan pengawalan.
Selain itu, lima prajurit lain mengalami luka-luka dalam rangkaian serangan tersebut. Mereka termasuk Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana serta beberapa personel lainnya.
UNIFIL juga mencatat insiden lanjutan pada 3 April 2025 di El Addaiseh, yang melukai tiga prajurit Indonesia akibat ledakan.
Ketika Misi Damai Bertemu Realitas Perang
Jika dilihat secara permukaan, peristiwa ini berdiri sebagai bagian dari risiko operasi di wilayah konflik.
Namun jika ditarik lebih dalam, pola yang muncul jauh lebih kompleks. Pasukan perdamaian justru bergerak di ruang yang tidak benar-benar damai.
UNIFIL menempatkan prajurit di tengah dua kekuatan yang terus berkonflik. Di titik itu, status “netral” tidak selalu melindungi dari bahaya.
Dampak ke Prajurit dan Publik
Ini dampaknya buat kamu negara mengirim prajurit untuk menjaga perdamaian, tapi keluarga mereka tetap hidup dengan ketegangan yang sama setiap hari.
Indonesia ingin memperkuat posisi di panggung global melalui misi perdamaian. Namun di sisi lain, risiko di lapangan tetap nyata dan terus meningkat.
Pertanyaan penting pun muncul sampai batas mana sebuah negara siap menanggung risiko demi peran globalnya?
Analisis Tabooo
Pemerintah memilih tetap mempertahankan pasukan di UNIFIL sambil memperketat evaluasi keamanan.
Langkah ini menunjukkan konsistensi diplomatik, tetapi juga membuka ruang diskusi yang lebih dalam.
Apakah misi perdamaian global benar-benar berdiri di atas prinsip netralitas, atau justru ikut terseret dalam struktur konflik yang lebih besar?
Satu hal yang sering terlupakan: perang tidak selalu menolak kehadiran “penjaga perdamaian”, tetapi juga tidak selalu memberi mereka perlindungan.
Closing
Dunia tidak pernah benar-benar memberi ruang aman di tengah konflik.
Pertanyaannya kini bukan hanya soal bertahan atau mundur, tetapi berapa banyak nyawa yang masih bisa dianggap harga wajar atas nama perdamaian? @dimas







