Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Wisuda Tak Selalu Tentang Toga, Ada Perjuangan yang Tak Terlihat

by teguh
Agustus 3, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Setiap musim wisuda, ribuan foto memenuhi media sosial. Toga hitam, bunga, pelukan orang tua, dan senyum lega seolah menjadi penutup sempurna perjalanan mahasiswa. Dari luar, semua tampak sederhana. Seorang mahasiswa menyelesaikan skripsi, mengikuti sidang, lalu berdiri di atas panggung sambil menerima ucapan selamat.

Tabooo.id – Namun, kenyataan tidak selalu berjalan seperti itu. Banyak mahasiswa sebelum wisuda harus melewati revisi yang tak kunjung selesai, jadwal yang terus berubah, birokrasi yang berlapis, hingga tekanan psikologis yang perlahan menggerus semangat. Pada titik tertentu, kampus tidak lagi menguji kemampuan akademik, tetapi menguji seberapa lama seseorang mampu bertahan menghadapi sistem.

Kasus Jessica Sofia Tunardjo, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, menjadi potret yang mengguncang banyak orang. Sidang skripsinya dilaporkan batal hingga 12 kali. Situasi tersebut membuat kondisi psikologisnya menurun hingga ia harus menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Wirasakti Kupang.

Peristiwa itu segera memicu diskusi luas di media sosial. Banyak mahasiswa merasa kisah Jessica bukan sesuatu yang asing. Mereka mungkin tidak mengalami pembatalan sidang hingga belasan kali, tetapi mereka memahami rasa lelah ketika kepastian terus menjauh.

Ketika Kampus Mengajarkan Cara Menunggu

Tidak ada mata kuliah yang mengajarkan mahasiswa cara menghadapi birokrasi. Namun, hampir semua mahasiswa mengenalnya sebelum mereka wisuda.

Sebagian harus mengejar dosen pembimbing dari satu ruangan ke ruangan lain. Jadwal sidang berubah berkali-kali tanpa kepastian. Waktu kelulusan akhirnya bergantung pada banyak faktor yang sering berada di luar kendali mereka. Lambat laun, budaya menunggu berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Padahal, ketidakpastian yang berlangsung lama dapat menguras energi emosional seseorang. Psikologi mengenal kondisi itu sebagai tekanan kronis, ketika seseorang kehilangan kontrol atas proses yang menentukan masa depannya.

Merespons polemik tersebut, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana, Prof. Dr. Ir. Apris A. Adu, S.Pt., M.Kes, menjelaskan bahwa pimpinan fakultas langsung menggelar rapat koordinasi setelah informasi tersebut menjadi perhatian publik pada Rabu, 29/07/2026.

“Sejak informasi tersebut kami terima pada Rabu pagi, pimpinan fakultas langsung menggelar rapat koordinasi yang melibatkan wakil dekan, kepala tata usaha, ketua program studi, operator, serta pihak-pihak terkait,” ujar Prof. Apris dalam konferensi pers di Gedung FKM Undana, Kamis, 30/07/2026.

Fakultas juga mengakui bahwa proses klarifikasi belum selesai sepenuhnya karena salah satu dosen penguji sedang mengalami masa berduka.

“Kami memberikan kesempatan satu sampai dua hari agar beliau dapat melewati masa dukanya. Setelah itu kami akan memperoleh informasi secara lengkap dari semua pihak.”

Penjelasan tersebut menunjukkan adanya upaya menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Akan tetapi, publik tetap mempertanyakan mengapa sistem akademik tidak memiliki mekanisme yang mampu mencegah pembatalan sidang berulang hingga berdampak pada kesehatan mental mahasiswa.

Pendidikan Tidak Boleh Kehilangan Wajah Manusianya

Pendidikan lahir untuk membangun manusia karena itu, setiap proses akademik seharusnya menjaga martabat mahasiswa, bukan sekadar mengejar penyelesaian administrasi.

Menyadari kondisi Jessica, pihak fakultas memilih mendahulukan proses pemulihan sebelum melanjutkan tahapan akademik.

“Kita urus dulu anak ini supaya pulih. Setelah itu baru kita masuk ke tahapan berikutnya. Jadi mohon semua pihak bersabar,” kata Prof. Apris.

Fakultas juga menugaskan tim psikologi Universitas Nusa Cendana untuk mendampingi Jessica. Menurut Prof. Apris, Jessica merupakan mahasiswi yang memiliki prestasi akademik baik dan masih memiliki masa depan panjang.

“Kami membutuhkan dia untuk kembali kuliah. Dia anak yang pintar dan kami berharap bisa segera pulih serta melanjutkan ujian hasilnya.”

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan mental akhirnya menjadi prioritas. Meski demikian, muncul pertanyaan yang lebih besar. Mengapa perhatian terhadap kesehatan mental baru muncul setelah sebuah kasus menjadi viral?

Budaya Akademik Perlu Berani Berkaca

Kasus Jessica sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Fenomena mahasiswa yang mengalami keterlambatan sidang, revisi berkepanjangan, atau ketidakpastian akademik sudah lama menjadi percakapan di berbagai kampus. Bedanya, sebagian besar cerita itu berhenti di ruang kelas, lorong fakultas, atau meja diskusi mahasiswa. Hanya sedikit yang akhirnya diketahui publik.

Sosiolog Prof. Robertus Robet pernah menekankan bahwa institusi pendidikan harus membangun ruang yang menghargai kebebasan berpikir sekaligus martabat manusia. Ketika prosedur administratif menjadi lebih penting daripada pengalaman belajar, pendidikan perlahan kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang pembebasan.

Pandangan serupa juga kerap disampaikan Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Prof. Eko Prasojo. Menurutnya, setiap birokrasi publik harus berorientasi pada pelayanan, bukan pada prosedur semata. Prinsip tersebut berlaku pula di lingkungan pendidikan karena mahasiswa bukan sekadar objek administrasi, melainkan warga akademik yang memiliki hak atas pelayanan yang adil dan pasti.

Sementara itu, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, berulang kali mengingatkan bahwa kepastian prosedur merupakan bagian dari perlindungan hak setiap warga negara. Kampus memang memiliki otonomi akademik, tetapi otonomi itu tetap harus berjalan berdampingan dengan prinsip keadilan dan akuntabilitas.

Toga Selalu Terlihat Indah, Prosesnya Belum Tentu

Orang hanya melihat foto wisuda tapi jarang ada yang melihat malam-malam panjang ketika mahasiswa kehilangan semangat karena revisi yang tidak selesai. Tidak banyak yang mengetahui bagaimana orang tua terus menunggu kabar kelulusan sambil menyimpan harapan agar anaknya segera menyelesaikan pendidikan.

Cepat atau lambat, Jessica akan kembali menjalani sidang. Kampus juga akan menyelesaikan proses evaluasi internalnya. Namun, persoalan yang sesungguhnya tidak berhenti pada satu nama.

Kasus ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan sarjana. Pendidikan juga mengajarkan cara sebuah institusi memperlakukan manusia.

Sebab, toga hanya dikenakan satu hari tetapi pengalaman selama kuliah akan tinggal jauh lebih lama dalam ingatan mereka yang menjalaninya. @teguh

Tags: AkuntabilitasDekan FKM UndanaJessica Sofia TunardjoKemendikbudMahasiswaPelayanan PublikPendidikan IndonesiaSidang SkripsiWisuda

Kamu Melewatkan Ini

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

by teguh
Oktober 19, 2026

BBM tersendat Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember kembali mengganggu mobilitas masyarakat. Di...

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

by teguh
Oktober 19, 2026

Antrean BBM belum normal, aktivitas masyarakat ikut terganggu. Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, kembali menerapkan kebijakan untuk ASN Jember WFH...

Kapolri Rombak Jajaran, Reformasi Polri atau Sekadar Rotasi?

Kapolri Rombak Jajaran, Reformasi Polri atau Sekadar Rotasi?

by dimas
Oktober 13, 2026

Kapolri merombak ratusan personel Polri dalam dua gelombang mutasi. Apakah langkah ini mendorong reformasi atau sekadar pergantian jabatan? Tabooo.id -...

Next Post
Bukan Tak Mau Bayar Pajak. Mereka Tak Lagi Percaya Negara Mengelolanya.

Bukan Tak Mau Bayar Pajak. Mereka Tak Lagi Percaya Negara Mengelolanya.

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id