Indonesia kehilangan salah satu tokoh militer era Reformasi. Mantan Panglima TNI Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto atau Widodo AS meninggal dunia pada Sabtu malam, 24/10/2026. Kabar tersebut dikonfirmasi Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal TNI Muhammad Nas pada Minggu, 25/10/2026.
Tabooo.id: Jakarta – “Betul, kami semua berduka atas kepulangan beliau,” kata Muhammad Nas kepada jurnalis di Jakarta, Minggu 25/10/2026. TNI kemudian menggelar pemakaman militer untuk Mantan Panglima TNI Widodo AS di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.
Widodo AS: Dari Angkatan Laut ke Pucuk Pimpinan TNI
Widodo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 01/08/1944. Ia menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL) dan lulus pada 1968.
Kariernya mencapai salah satu puncak penting ketika Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengangkatnya sebagai Panglima TNI pada 1999. Widodo menggantikan Jenderal TNI Wiranto dan memimpin TNI hingga 18/06/2002.
Ia mencatat sejarah sebagai Panglima TNI pertama yang berasal dari matra Angkatan Laut. Sebelum menduduki jabatan tersebut, Widodo juga pernah memimpin Operasi Aru Jaya pada 11/03/1992 untuk menghalau kapal Lusitania Expresso yang hendak melakukan tabur bunga di Dili, Timor-Timur.
Setelah meninggalkan pucuk pimpinan TNI, Widodo tetap berkiprah di pemerintahan. Ia menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) pada 2004–2009. Selanjutnya, ia mengemban tugas sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Pejabat Negara Hadiri Pemakaman Widodo AS
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memimpin upacara pemakaman militer di TMP Kalibata pada Minggu 25/10/2026. Sejumlah tokoh nasional turut memberikan penghormatan terakhir, termasuk Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menko Polkam Dudung Abdurachman, dan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.
Dalam upacara tersebut, Agus berharap pengabdian Widodo dapat menjadi teladan bagi generasi penerus.
“Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri teladan bagi kita semua, dan arwahnya mendapat tempat yang semestinya di alam baka,” ujar Agus.
Sjafrie juga mengenang peran Widodo dalam menjaga persatuan TNI ketika Indonesia melewati masa transisi Reformasi.
“Kita merasa kehilangan seorang pelopor, ya,” kata Sjafrie saat melayat ke rumah duka pada Minggu (25/10/2026). Ia mengenang upaya Widodo menyatukan tiga matra TNI ketika menghadapi perubahan politik pada masa tersebut.
Jejak Seorang Panglima di Tengah Transisi Reformasi
Kepergian Widodo AS menutup perjalanan seorang perwira yang pernah berada di pusat perubahan institusi militer Indonesia. Kariernya membentang dari operasi militer hingga jabatan strategis dalam pemerintahan sipil.
Namun, warisan seorang panglima tidak hanya tercatat melalui jabatan dan penghormatan negara. Publik juga dapat membaca sejarah kepemimpinannya melalui keputusan, kebijakan, serta peran institusi yang ia pimpin pada masanya.
Bagi generasi muda, kisah Widodo AS menjadi pengingat bahwa sejarah Reformasi tidak hanya dibentuk oleh politisi. Para pemimpin militer juga mengambil bagian dalam masa transisi yang menentukan arah Indonesia.
Widodo telah berpulang. Kini, catatan pengabdiannya menjadi bagian dari sejarah yang perlu dipelajari secara utuh, bukan sekadar dikenang melalui upacara penghormatan terakhir. @teguh







