Tabooo.id: Figures – Mungkin kamu tidak cukup familiar dengan nama “Widji Thukul“. Tapi, kamu mungkin hafal kalimat “Hanya ada satu kata: lawan”.
Widji Thukul, orang yang menulis kalimat itu, Dan ia tidak pernah kembali. Sampai hari ini, kita masih hidup dengan pertanyaan yang sama, dimana Widji Thukul
1963–1979: Masa Kecil yang Membentuk Cara Pandang
Widji Thukul lahir di Kota Solo, 26 Agustus 1963. Dia tumbuh di Kampung Sorogenen, lingkungan padat dengan tekanan ekonomi yang nyata.
Setiap pagi, dia melihat ayahnya menarik becak, dan sore hari, ia melihat ibunya berdagang untuk menutup hari.
Namun, pengalaman itu tidak membuatnya diam. Justru sebaliknya, pengalaman itu membentuk kepekaan sosial sejak dini. Dia tidak belajar teori ketidakadilan, tapi melihatnya langsung di depan mata.
Sejak usia remaja, Widji Thukul mulai membaca dan menulis. Namun, dia tidak menulis untuk gaya. Dia menulis untuk menyampaikan sesuatu yang orang lain takut katakan.
1980–1985: Sekolah Terputus, Jalan Hidup Dimulai
Memasuki awal 1980-an, Thukul masuk SMKI Solo. Namun, kehidupan tidak memberi ruang untuk menyelesaikan pendidikan.
Dia harus berhenti sekolah di tahun kedua untuk bekerja, karena keluarganya tidak punya cadangan hidup. Thukul menjadi loper koran. Ia menjual informasi, tapi hidupnya sendiri penuh ketidakpastian.
Kemudian, dia bekerja sebagai buruh pelitur. Disini, ia melihat langsung bagaimana tenaga manusia dihargai murah. Namun, di tengah rutinitas itu, dia tidak kehilangan arah. Dia justru semakin sadar bahwa hidupnya bukan sekadar bertahan.
1986–1991: Teater Jagat dan Lahirnya Penyair Jalanan
Tahun-tahun ini menjadi fase penting. Thukul bergabung dengan Teater Jagat, komunitas seni rakyat di Solo. Di sini, dia tidak hanya belajar akting, tapi juga belajar bagaimana menyampaikan realita dengan bahasa yang bisa dirasakan.
Dia mulai membaca puisi di ruang publik. Thukul tidak menunggu undangan. Dia datang langsung ke rakyat, tampil di pasar, kampung, dan ruang terbuka. Ia membawa puisi keluar dari ruang elite.
Namun, pendekatan ini mengubah segalanya. Puisi tidak lagi menjadi hiburan, tapi menjadi alat kesadaran. Dan ketika kesadaran mulai tumbuh… konflik mulai muncul.
1992–1995: Masuk ke Gerakan, Konflik Dimulai
Tahun 1992, Thukul ikut aksi lingkungan di Solo. Dia menolak pencemaran yang merugikan masyarakat kecil.
Aksi ini bukan hanya simbol. Ini adalah awal keterlibatannya dalam gerakan nyata.
Namun, puncak konflik terjadi pada 1995, dia memimpin aksi buruh di PT Sritex. Aksi itu menuntut hak yang selama ini diabaikan.
Aparat meresponnya dengan kekerasan. Mereka memukuli Thukul secara brutal di depan umum. Akibatnya, matanya mengalami kerusakan permanen. Namun ironisnya, kekerasan itu tidak menghentikannya. Justru setelah itu, sikapnya semakin tegas.
Dia tidak lagi hanya bicara. Dia memilih berdiri di garis depan.
1996: Masuk PRD dan Masuk Daftar Target
Tahun 1996 menjadi titik krusial. Thukul bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dia mengambil peran sebagai bagian propaganda. Tugasnya untuk menyebarkan gagasan melalui tulisan dan jaringan aktivis.
Namun, di saat yang sama, situasi politik memanas. Peristiwa Kudatuli terjadi dan memicu gelombang represi. Negara mulai memburu aktivis, dan nama Thukul masuk dalam daftar.
Rumahnya digeledah, bukunya disita, dan keluarganya ditekan secara sistematis. Di titik ini, statusnya berubah total.
Dia bukan lagi seniman, melainkan target.
1996–1998: Hidup Dalam Bayang-Bayang
Setelah menjadi buronan, Thukul tidak punya pilihan. Dia harus menghilang dari ruang publik, berpindah-pindah kota, dan menggunakan identitas samaran untuk bertahan.
Meski hidup dalam pelarian, dia tidak berhenti berpikir. Dia tetap menulis dan berdiskusi dengan jaringan terdekat. Namun, hidup seperti ini penuh tekanan. Dia tidak bisa bertemu keluarga secara bebas.
Thukul hidup dalam ketakutan konstan, karena setiap langkah bisa menjadi yang terakhir. Tapi, dia tetap memilih bertahan. Karena baginya, diam berarti menyerah.
Februari 1998: Kontak Terakhir
Februari 1998 menjadi momen terakhir yang tercatat. Thukul sempat menghubungi istrinya. Percakapan itu tidak panjang, namun terasa berbeda. Seolah dia tahu akan terjadi sesuatu. Setelah itu, semua terputus. Tidak ada komunikasi. Tidak ada saksi yang jelas. Nama Thukul masuk dalam daftar aktivis yang hilang.
Setelah 1998
Reformasi datang. Sayangnya, tidak semua luka selesai. Kasus penculikan aktivis mulai dibuka. Banyak bagian tetap gelap.
Nama Widji Thukul selalu muncul dalam daftar korban. Tapi statusnya tidak pernah benar-benar ditutup. Tidak ada kejelasan ataupun penjelasan resmi yang memuaskan.
Kisah Widji Thukul bukan sekadar kisah satu orang hilang, melainkan sebuah pola bagaimana sistem bereaksi ketika suara yang terlalu jujur mulai terdengar.
Kalau seseorang bisa hilang karena bicara… kamu yakin kebebasan itu benar-benar ada?
Kita sering merasa aman karena tidak terlibat. Namun, sistem seperti ini tidak pernah benar-benar berhenti.
Mungkin kita sering mengutip Widji Thukul di media sosial. Kita menjadikannya simbol perlawanan. Namun, kita jarang benar-benar memahami risikonya.
Berani bicara itu mudah, tetapi berani menghadapi akibatnya, itu yang jarang. Dan di situlah letak ironi kita hari ini.
Widji Thukul mungkin hilang secara fisik. Namun, pertanyaan yang tersisa jauh lebih besar, kalau suara seperti dia bisa hilang… kamu masih yakin sistem ini aman? @tabooo







