Rabu, Agustus 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Waste to Energy Jadi Solusi Sampah, Tapi Kenapa Publik Masih Takut?

by dimas
Mei 23, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Waste to Energy digadang jadi solusi krisis sampah nasional. Namun di balik proyek itu, ketakutan publik terhadap dampak lingkungan terus membesar.

Tabooo.id – Pagi itu, truk-truk sampah kembali mengular di pinggir kota. Bau busuk bercampur asap panas naik perlahan ke udara. Di beberapa tempat, warga menutup hidung. Sebagian lain hanya bisa pasrah. Indonesia memang belum benar-benar selesai dengan sampah. Masalah itu terus hidup dari masa lalu, bertahan di masa kini, lalu bergerak diam-diam menuju masa depan.

Karena itu, pemerintah mencoba mempercepat solusi. Melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, negara mendorong pembangunan Waste to Energy (WTE), teknologi yang mengubah sampah menjadi listrik. Pemerintah bahkan memasukkan proyek ini ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Targetnya besar: mengurai sekitar 70 juta ton sampah yang diproduksi Indonesia setiap tahun.

Sekilas, langkah itu terdengar menjanjikan. Sampah berkurang. Energi bertambah. Kota terlihat lebih bersih. Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Sebab publik tidak hanya memikirkan soal listrik. Mereka juga memikirkan udara yang dihirup, lingkungan tempat tinggal, dan kesehatan keluarga mereka.

Di titik inilah konflik sebenarnya mulai muncul.

Negara Mempercepat Proyek, Publik Mempercepat Kecurigaan

Perpres terbaru lahir setelah kebijakan lama dianggap gagal berjalan efektif. Selama bertahun-tahun, proyek WTE tersendat karena birokrasi daerah, keterbatasan anggaran, serta konflik politik lokal. Selain itu, pergantian kepala daerah sering membuat proyek berhenti di tengah jalan.

Ini Belum Selesai

27 Agustus Belum Revolusi: Membaca Politik Indonesia lewat Aksi Massa Tan Malaka

63 Tahun Wiji Thukul: Kritik Masih Membuat Kekuasaan Gelisah?

Karena itu, pemerintah pusat kini mengambil alih kendali.

Melalui skema baru, pemerintah pusat, Danantara, dan sejumlah kementerian memegang tanggung jawab utama proyek WTE. Sementara itu, pemerintah daerah hanya perlu menyediakan lokasi dan memastikan pasokan sampah tersedia setiap hari.

Secara administratif, kebijakan ini memang terlihat lebih praktis. Negara mencoba memotong hambatan birokrasi agar proyek berjalan lebih cepat. Selain itu, pemerintah juga membuka peluang investasi global, Patriot Bonds, dan pendanaan melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara.

Namun semakin cepat proyek bergerak, semakin besar pula pertanyaan publik.

Apakah negara benar-benar sedang menyelesaikan masalah sampah? Atau justru sedang mempercepat lahirnya konflik lingkungan baru?

Semua Orang Mau Sampah Hilang, Tapi Tidak Dekat Rumah Mereka

Ada satu istilah yang terus muncul dalam proyek pengolahan sampah modern: NIMBY (Not In My Backyard).

Logikanya sederhana. Semua orang ingin kota bersih. Namun hampir semua orang menolak ketika fasilitas pengolahan sampah dibangun dekat permukiman mereka.

Warga punya alasan yang tidak bisa dianggap sepele. Mereka khawatir asap pembakaran mencemari udara. Mereka takut kesehatan keluarga terganggu. Selain itu, mereka juga cemas lingkungan sekitar berubah menjadi kawasan industri limbah.

Ketakutan itu bukan sekadar asumsi liar.

Di Indonesia, penolakan terhadap proyek WTE pernah muncul di Tamalanrea Makassar, Gedebage Bandung, Kayumanis Bogor, hingga Rorotan Jakarta. Polanya hampir sama. Warga merasa pemerintah terlalu sibuk mengejar proyek, tetapi kurang serius mendengar kekhawatiran masyarakat sekitar.

Ironisnya, negara terlihat lebih fokus membongkar hambatan administratif daripada membangun kepercayaan sosial.

Padahal teknologi tidak pernah berdiri sendirian. Sebagus apa pun sistemnya, publik tetap memegang satu peran penting: menerima atau menolak.

Ini Bukan Sekadar Teknologi. Ini Soal Kepercayaan Sosial

Pemerintah sering menganggap teknologi sebagai jawaban utama. Namun masyarakat tidak selalu melihatnya dengan cara yang sama.

Bagi warga, proyek besar sering membawa pengalaman buruk. Mereka melihat terlalu banyak pembangunan yang menjanjikan kesejahteraan, tetapi meninggalkan polusi, konflik lahan, dan kerusakan lingkungan. Karena itu, ketika negara kembali datang membawa proyek raksasa, publik justru semakin curiga.

Di sinilah masalah paling besar muncul.

Negara tampaknya berhasil membongkar kemacetan birokrasi. Akan tetapi, negara belum tentu berhasil membongkar ketakutan publik.

Padahal berbagai penelitian tentang transisi energi menunjukkan satu hal penting: penerimaan publik menentukan keberhasilan teknologi. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya membangun fasilitas. Pemerintah juga harus membangun kesadaran, kolaborasi, transparansi, dan pelibatan masyarakat.

Tanpa itu, proyek WTE hanya akan terlihat seperti mesin besar yang berdiri di tengah ketidakpercayaan warga.

Sampah Bisa Berkurang, Tapi Konflik Bisa Membesar

Indonesia memang membutuhkan solusi serius untuk krisis sampah. Tempat pembuangan akhir semakin penuh. Kota-kota besar juga semakin kewalahan menghadapi limbah harian. Karena itu, teknologi pengolahan sampah memang sulit dihindari.

Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: pembangunan tanpa legitimasi sosial selalu menyimpan risiko.

Negara mungkin mampu membangun pembangkit listrik dari sampah. Akan tetapi, negara belum tentu mampu memulihkan rasa aman masyarakat yang merasa terancam oleh proyek tersebut.

Di situlah ironi kebijakan ini terlihat jelas.

Pemerintah ingin mengubah sampah menjadi energi. Namun pada saat yang sama, publik takut negara kembali mengubah warga menjadi korban pembangunan.

Dan ketika ketakutan itu terus tumbuh, pertanyaannya menjadi jauh lebih besar dari sekadar listrik:

Apakah proyek ini benar-benar menyelamatkan lingkungan, atau hanya memindahkan masalah ke halaman rumah orang lain?

Negara mungkin bisa membakar sampah menjadi listrik. Tapi negara tidak bisa membakar ketakutan publik begitu saja. @dimas

Tags: Konflik LingkunganKrisis Sampah IndonesiaProyek Strategis NasionalTransisi EnergiWaste To Energy

Kamu Melewatkan Ini

15 PLTU Emisi Tinggi Mau Pensiun, Listrik Jangan Ikut Pensiun Dulu

15 PLTU Emisi Tinggi Mau Pensiun, Listrik Jangan Ikut Pensiun Dulu

by teguh
Agustus 20, 2026

Indonesia sedang menyiapkan satu adegan transisi energi yang cukup absurd. Pemerintah ingin mengurangi 15 PLTU emisi tinggi, tetapi listrik tetap...

Pensiunkan PLTU atau Jaga Industri Tetap Menyala?

Pensiunkan PLTU atau Jaga Industri Tetap Menyala?

by teguh
Agustus 19, 2026

Bayangkan sebuah kawasan industri saat produksi sedang berada di titik tertinggi. Mesin terus bergerak. Pekerja mengejar target. Pesanan harus keluar...

Hutan Versi Baru: Pohon Diganti Sawit, Namanya Tetap Hutan Konservasi?

Hutan Versi Baru: Pohon Diganti Sawit, Namanya Tetap Hutan Konservasi?

by teguh
Juli 23, 2026

Suatu hari nanti, ketika anak cucu bertanya seperti apa rupa hutan Indonesia, kita mungkin hanya bisa menunjuk hamparan sawit. Ironisnya,...

Next Post
Jogja Tak Selalu Romantis: Cerita Sunyi Dua Mahasiswi di Malioboro

Jogja Tak Selalu Romantis: Cerita Sunyi Dua Mahasiswi di Malioboro

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id