Tabooo.id: Kriminal – Perkelahian antarsiswa di sebuah SMP di Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, berakhir tragis. Seorang pelajar berinisial WAP (14) meninggal dunia usai terlibat duel dengan temannya sendiri, DTP (14), Selasa (7/4/2026) pagi.
Peristiwa ini bukan sekadar tawuran biasa. Ini jadi alarm keras: konflik kecil di sekolah bisa berubah jadi bencana dalam hitungan menit.
Awalnya Cuma Gojekan
Kepala sekolah, Agung Jatmiko, menjelaskan kejadian bermula dari candaan antarsiswa.
“Gojekan tadi kalau kita melihat di awal,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Situasi sekolah saat itu sedang jam pelajaran kosong. Sejumlah siswa berkumpul di luar kelas. Di tengah suasana santai itu, WAP dan DTP terlibat adu mulut.
Saling ejek memicu emosi.
Dari kata-kata, konflik naik level.
Dari Adu Mulut ke Adu Fisik
Cekcok berubah jadi tantangan berkelahi. Keduanya lalu masuk ke area kamar mandi sekolah.
Di sana, perkelahian pecah.
Polisi menemukan adanya aksi saling pukul dan tendang. DTP sempat menampar kepala korban. WAP membalas dengan tendangan. Situasi makin panas.
Tidak berhenti di situ.
Pelaku kembali melayangkan tendangan yang diduga mengenai bagian ulu hati korban.
Sekali tendangan itu jadi titik balik.
WAP langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Panik, Dibawa ke UKS hingga Puskesmas
Melihat korban terkapar, siswa lain panik. Mereka segera membawa WAP ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Guru kemudian mengambil langkah cepat. Mereka membawa korban ke Puskesmas Sumberlawang.
Namun, nyawa WAP tidak tertolong.
Polisi Turun Tangan
Kapolsek Sumberlawang AKP Sudarmaji membenarkan kejadian tersebut.
“Benar, telah terjadi peristiwa kekerasan yang melibatkan anak di wilayah hukum Polsek Sumberlawang,” ujarnya.
Polisi menerima laporan sekitar pukul 10.30 WIB dan langsung bergerak ke lokasi. Petugas mengamankan TKP, mengumpulkan bukti, serta berkoordinasi dengan tenaga medis dan tim identifikasi.
Jenazah korban kemudian dibawa ke RSUD Sragen untuk autopsi guna memastikan penyebab kematian secara medis.
Proses Hukum dan Perlindungan Anak
Polisi saat ini masih memeriksa sejumlah saksi, termasuk siswa yang berada di lokasi kejadian.
AKP Sudarmaji menegaskan proses hukum akan tetap berjalan sesuai aturan, namun tetap memperhatikan aspek perlindungan anak.
“Kami masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman terhadap seluruh keterangan saksi maupun alat bukti,” tegasnya.
Alarm Keras untuk Sekolah dan Orang Tua
Kasus ini bukan sekadar perkelahian biasa. Ini cermin lemahnya kontrol emosi di usia remaja.
Sudarmaji mengingatkan semua pihak untuk tidak menganggap remeh konflik kecil di sekolah.
Guru, orang tua, dan lingkungan pendidikan harus lebih aktif membina karakter siswa. Pengendalian emosi, penyelesaian konflik, dan pencegahan perundungan harus jadi prioritas.
Karena faktanya sederhana yang awalnya cuma bercanda, bisa berakhir kehilangan nyawa.
Penutup
Sekolah seharusnya jadi tempat aman untuk belajar. Tapi ketika emosi tak terkendali dan pengawasan longgar, ruang itu bisa berubah jadi tempat tragedi.
Lalu, pertanyaannya berapa banyak “candaan” lain yang sebenarnya menyimpan potensi bahaya yang sama?







