Tabooo.id : Vibes – Kalau kamu pikir pekerjaan paling berat hari ini adalah lembur tanpa dibayar… coba bayangin hidup di zaman di mana kerja buat nyicipin kotoran orang lain. Bukan metafora, bukan bercanda juga. Ini profesi nyata di London abad ke-18. Lebih absurdnya lagi, itu dianggap pekerjaan penting untuk menyelamatkan kota.
London: Kota Besar yang Bau Banget
Sebelum jadi kota modern, London pernah jadi mimpi buruk sanitasi. Bayangin, jutaan orang tinggal berdesakan, belum ada sistem pembuangan limbah, dan semua kotoran ditampung di lubang bawah tanah (cesspit).
Masalahnya? Lubang itu sering penuh, bocor, dan mencemari air minum. Di tengah kekacauan itu, manusia menemukan solusi paling… ekstrem, yaitu pakai indra sendiri.
Pekerjaan yang Gak Masuk Akal, Tapi Dibutuhkan
Muncul profesi bernama “Pemberi Bau” atau “Toilet Sewer Taster”. Job desk-nya simpel, tapi gila, yaitu mencium limbah, mencicipi limbah, menilai apakah aman dibuang ke sungai.
Kenapa harus Dicicipi? Karena di zaman itu, belum ada uji laboratorium, alat deteksi kimia, bahkan standar sanitasi modern pun belum dikenal. Orang percaya penyakit datang dari bau (miasma), jadi bau menjadi indikator bahaya, sedangkan rasa dijadikan validasi tambahan.
Pada masa itu, tubuh manusia jadi “alat ukur”. Memang kedengarannya primitif, tapi itu satu-satunya cara yang mereka punya.
Risikonya? Bukan Sekadar Jijik
Ini bukan kerjaan buat orang kuat doang. Ini buat orang yang siap mati pelan-pelan. Berbagai macam risiko harus mereka hadapi, seperti kolera, tifus, disentri, atau keracunan gas beracun.
Belum lagi efek jangka panjang yang mengancam mereka, lidah rusak, indra penciuman mati, tubuh terpapar racun setiap hari. Tapi tetap ada yang mau kerja. Kenapa? Gajinya tinggi. Semakin menjijikkan pekerjaan, semakin mahal harga yang harus dibayar.
Dunia Bawah Tanah: Ekonomi dari Kotoran
Profesi ini bukan satu-satunya. London punya “industri limbah” sendiri:
1. Nightmen
- kerja malam
- nguras kotoran dari rumah-rumah
- dijual jadi pupuk
2. Toshers
- berburu barang berharga di selokan
- gali lumpur, cari koin
- hidup di bawah kota
Namun, yang menjadi ironi adalah masyarakat atas berpesta dan hidup dalam kemewahan, sedangkan yang di bawah hidup dari kotoran. Satu kota, dua realitas.
Saat Bau Jadi Terlalu Parah
Tahun 1858, London mencapai titik nadir yang dikenal sebagai “The Great Stink”
Saat itu, Sungai Thames berubah jadi hitam, penuh limbah, dan bau tak tertahankan. Bahkan pejabat negara pun nggak kuat dengan kondisi itu. Akhirnya, mereka sadar bahwa ini bukan masalah kecil, tapi bencana.
Dari Lidah ke Sains: Akhir dari Profesi Absurd
Setelah krisis itu, muncul kemajuan dimana ilmuwan mulai memahami bakteri, air diuji secara ilmiah, sistem sewer modern pun dibangun. Nama penting di balik perubahan itu adalah Joseph Bazalgette.
Dengan sistem baru tersebut, limbah tidak lagi diuji manusia dan tidak dibuang sembarangan, sehingga kota pun mulai “bersih”. Sejak itu, profesi “pemberi bau” hilang.
Jijik Itu Perspektif
Cerita ini bukan cuma soal masa lalu yang kotor, melainkan soal cara manusia bertahan. Karena faktanya, yang paling dijauhi justru yang paling dibutuhkan dan yang dianggap rendah justru menopang sistem
Bersyukurnya, hari ini kita bisa flush toilet tanpa mikir, minum air tanpa takut, dan hidup tanpa perlu mencium bau kota. Itu semua karena dulu ada orang yang rela melakukan hal yang kita anggap “tidak manusiawi”.
Semua kenyamanan hari ini dibangun dari sesuatu yang dulu dianggap normal, yakni hidup berdampingan dengan kotoran.
Dan ada orang-orang yang masuk ke dalamnya, menyentuhnya, bahkan mencicipinya, demi memastikan kita bisa hidup lebih bersih.
Tabu yang Jadi Fondasi Peradaban
Kita sering bilang, “ih, jijik.” Tapi mungkin, tanpa hal-hal menjijikkan itu, kita nggak akan punya dunia yang nyaman sekarang.
Jadi pertanyaannya, apa lagi yang hari ini kita anggap tabu… tapi sebenarnya sedang menjaga hidup kita diam-diam? @tabooo



