Tabooo.id: Kriminal – Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Bekasi Kota menangkap AS, pria yang mengendalikan peredaran ganja jaringan Sumatera. Pada Selasa (3/3/2026), tim menyelidiki rumah kontrakan AS di Jalan Bintara Jaya RT 014 RW 09, Kecamatan Bekasi Barat. Dari pengembangan kasus, penyidik membongkar modus unik yang ia gunakan untuk menutupi bisnis ilegal tersebut.
Modus Kopi Bubuk untuk Mengelabui Petugas
AS bekerja sebagai pekerja harian lepas. Kepada orang tuanya, ia mengaku berjualan kopi bubuk. Namun, ia justru mencampur bubuk kopi dengan ganja untuk mengelabui keluarga sekaligus menyamarkan aktivitasnya.
Komisaris Untung Riswaji, Kasat Narkoba Polres Metro Bekasi Kota, menjelaskan bahwa tersangka sengaja mencampur kopi ke dalam kemasan ganja agar orang tuanya tidak curiga.
“Dia mengaku jualan kopi. Padahal, AS mencampur kopi ke ganja supaya orang tuanya percaya,” ujarnya.
Selain itu, AS menaburkan bubuk kopi untuk menyamarkan bau ganja saat mengirim paket melalui jasa ekspedisi. Ia juga memasarkan barang haram tersebut lewat Instagram dan menyasar kalangan muda.
“Pembelinya biasanya anak-anak muda, transaksi lewat media sosial,” tambahnya.
Penggerebekan dan Penemuan Barang Bukti
Dalam penggerebekan tersebut, polisi menyita lebih dari 30 kilogram ganja dari rumah kontrakan AS. Sebelumnya, anggota lebih dulu menyamar dan membeli sekitar dua kilogram ganja sebagai bagian dari penyelidikan yang dipimpin Kanit Narkoba. Dari transaksi itu, tim mengembangkan kasus hingga mengarah ke Bintara Jaya.
AS mengemas ganja dalam paket satu kilogram dan menjualnya seharga Rp4,5 juta per paket. Tak hanya di Bekasi Barat, polisi juga menemukan 10 kilogram ganja lain di Tambun, Kabupaten Bekasi, yang masih berkaitan dengan jaringan tersangka.
Jaringan Sumatera dan Dampaknya
Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro, menegaskan bahwa AS bukan sekadar kurir. Ia berperan sebagai bandar dalam jaringan narkoba Sumatera.
“Kalau barang dikirim dalam jumlah besar, jelas bukan hanya kurir. Ini bandar. Ganja sudah beredar ke Jakarta, Depok, Bekasi, hingga Surabaya,” tegas Kusumo.
Menurut polisi, AS menjalankan bisnis ini selama dua hingga tiga bulan terakhir, meski ia sudah menyewa rumah kontrakan tersebut sejak enam bulan lalu. Saat ini, penyidik terus memburu jaringan di atasnya untuk memutus rantai distribusi.
Kalangan Muda Jadi Sasaran
AS secara aktif menyasar anak muda sebagai pasar utama. Akibatnya, peredaran ganja meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba di Bekasi dan kota-kota sekitarnya. Karena itu, polisi mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus baru, termasuk yang tampak sepele seperti penjualan kopi bubuk.
Kasus ini menegaskan bahwa aparat mampu membongkar kejahatan, sekalipun pelaku berusaha menyamarkan aksinya dengan cara yang terlihat sederhana. @dimas







