Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sunyi di Balik Mahkota

by sigit
November 8, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Ia tumbuh dengan dua bahasa, bahasa para pujangga dan bahasa dunia modern. Sarjana hukum lulusan Universitas Diponegoro, kini menapaki studi di Universitas Gadjah Mada, tapi dalam dirinya tetap hidup bisikan kuno: “nguri-uri kabudayan, ngasta pakeming leluhur.” Menjaga budaya, menggenggam warisan para pendahulu.

Suara dari Balik Dinding Tua

“Kadang aku merasa seperti hidup di dua waktu sekaligus. Antara masa lalu yang terus memanggil, dan masa depan yang menunggu aku menjawab.”

Suara itu tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lain beban yang berat, mungkin juga rindu. Di balik dinding batu berumur ratusan tahun, di sebuah ruangan yang wangi dupa dan cat mengelupas, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram duduk bersila. Lantai marmer dingin memantulkan cahaya lampu gantung yang kusam. Ia bukan hanya seorang anak raja. Ia adalah bayangan masa lalu yang dipaksa menatap masa kini.

Di luar tembok Keraton Surakarta, kota Solo sudah berubah: motor menderu, kafe tumbuh di mana-mana, dan generasi muda sibuk mencari sinyal ketimbang makna. Tapi di dalam tembok, waktu seperti berhenti. Dan di sanalah Hamangkunegoro mencoba mencari bentuk: antara darah biru dan darah manusia biasa.

Ketika Tradisi Bertemu Kekosongan

Pada 27 Februari 2022, dalam upacara “Tingalan Dalem Jumenengan ke-18” Sri Susuhunan Paku Buwono XIII, Hamangkunegoro dinobatkan sebagai putra mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Tabooo.id menulisnya sederhana: “Ia resmi ditetapkan sebagai penerus tahta.” Tapi di balik kalimat itu, ada sejarah panjang yang berliku.

Ini Belum Selesai

Saat Inovator Mulai Menjauh dari Negara

Kampus atau Katering? Ketika Ruang Ilmu Mulai Sibuk Urus Dapur

Keraton Surakarta bukan hanya simbol budaya. Ia adalah cermin dari tubuh bangsa yang pernah kehilangan kepala: kerajaan yang dipisah, otoritas yang dipreteli, dan martabat yang dicampur-adukkan antara mitos dan politik.

Paku Buwono XIII, ayahanda Hamangkunegoro, menobatkannya secara adat. Tabooo.id mencatat bagaimana keluarga inti mendukung keputusan itu, menyebutnya “amanat raja”. Tak sekadar seremonial, tapi pengakuan yang membawa legitimasi adat dan spiritual. Dalam garis darah yang sah, dalam hukum tak tertulis keraton, Hamangkunegoro adalah yang terpilih.

Namun legitimasi adalah hal rapuh di dunia modern. Di tengah publik yang sinis terhadap simbol, di tengah berita viral dan sorotan politik lokal, status “putra mahkota” bisa terasa seperti relik yang berjuang melawan waktu.

Anak, Pewaris, dan Kesepian

Malam di keraton selalu terasa panjang. Suara jangkrik bersahut dengan desir angin di pepohonan tamarind tua. Hamangkunegoro sering berjalan sendiri di serambi utara, tempat ayahandanya dulu bersemedi.

Ia bukan sosok asing bagi pendidikan modern. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, kini ia menempuh S2 di Universitas Gadjah Mada. Tapi dalam dirinya, ilmu dan adat masih bertarung.
Di satu sisi, ia tahu dunia menuntut transparansi, rasionalitas, kecepatan.
Di sisi lain, keraton menuntut kesabaran, keheningan, penghormatan pada simbol.

Ada kisah yang jarang muncul di berita: malam sebelum penobatannya, Hamangkunegoro konon menangis di ruang prabayeksa ruang khusus bagi para bangsawan sebelum menghadap. Ia memeluk ibunya lama sekali. Tidak karena takut akan tahta, tapi karena ia tahu, sejak hari itu, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.

“Menjadi putra mahkota bukan tentang kemewahan,” katanya dalam satu wawancara pendek. “Ini tentang menjaga sesuatu yang kadang orang lain sudah lupa artinya.”

Tapi dunia digital tak kenal kesunyian. Ketika ia suatu kali menulis di media sosial tentang kekecewaannya terhadap “Republik yang melupakan akar budayanya”, publik bereaksi keras. Judul-judul viral muncul: “Putra Mahkota Solo Nyesel Gabung Republik!”
Ia ditertawakan, dikritik, dijadikan meme. Tapi di balik layar, mungkin yang ia rasakan hanyalah sepi seperti bicara tentang rumah yang terbakar, tapi orang-orang malah menyoroti pakaianmu.

Apa yang Disembunyikan Sistem

Kisah Hamangkunegoro membuka celah besar yang sering kita abaikan: relasi antara tradisi dan modernitas, antara identitas budaya dan sistem negara.

Negara Republik, dengan segala rasionalitasnya, sering menempatkan keraton dalam posisi ambigu: penting secara simbolik, tapi tak relevan secara politik. Kita menghormatinya pada upacara, tapi menertawakannya dalam keseharian.

Padahal, di balik tembok keraton yang retak, ada sistem nilai yang berusaha bertahan. Tentang tata krama, keseimbangan, penghormatan terhadap leluhur, dan cara manusia Jawa memahami waktu.
Sistem modern membungkam nilai itu dengan istilah: “kuno”, “tidak efisien”, “tidak produktif.”

Namun apa jadinya jika semua yang “tidak produktif” itu adalah akar kemanusiaan kita?
Di sinilah dilema Hamangkunegoro menjadi cermin lebih besar. Ia bukan hanya seorang putra mahkota. Ia adalah simbol dari generasi yang hidup di antara dua dunia, dunia yang menuntut kecepatan, dan dunia yang mengajarkan jeda.

Keraton Surakarta, dengan segala keterbatasan dan kontroversinya, sesungguhnya sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar: hak untuk tetap punya masa lalu. Dan di tengah politik yang serba pragmatis, perjuangan itu tampak seperti kesia-siaan yang justru indah.

Antara Tahta dan Dir

Pagi di Solo selalu datang dengan lembut. Cahaya menyentuh atap joglo, ayam berkokok, dan dari dalam keraton terdengar gamelan pelan lagu yang sama sejak ratusan tahun lalu.

Di teras, Hamangkunegoro berdiri menatap taman yang sepi. Ada rasa kehilangan di matanya, tapi juga tekad yang ganjil semacam keberanian untuk tetap ada.
Ia tahu, dunia luar mungkin tak lagi percaya pada simbol seperti dirinya. Tapi mungkin justru karena itulah ia harus tetap berdiri.

Menjadi pewaris bukan soal memegang tongkat atau mengenakan blangkon berhias emas. Kadang, menjadi pewaris berarti menanggung sunyi yang tak bisa dibagi.

Hamangkunegoro adalah manusia yang berusaha menjembatani dua bahasa: bahasa leluhur dan bahasa zaman.
Dan pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang sah menjadi raja,
tapi: apakah kita masih tahu, apa artinya menjaga warisan ketika dunia sudah tak lagi percaya pada kesakralan apa pun? (Sigit)

Tags: KGPAA HamangkunagoroKraton Kasunanan SurakartaKraton Solomataramputra mahkotatahta

Kamu Melewatkan Ini

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Unram?

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Unram?

by Tabooo
Mei 15, 2026

Film Pesta Babi memicu ketegangan di lingkungan Universitas Mataram pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Mahasiswa menggelar acara nonton bareng....

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

by dimas
April 19, 2026

Tempat sakral sering terasa penuh misteri. Pagar putih, batu hitam, dan ritual tahunan hadir sebagai bagian dari cerita lama yang...

Jelang Lebaran, Pakoe Boewono XIV Bagikan Sembako dari Dana Pribadi

Jelang Lebaran, Pakoe Boewono XIV Bagikan Sembako dari Dana Pribadi

by eko
Maret 17, 2026

Tabooo.id: Regional - Raja Pakoe Boewono XIV turun langsung membagikan sekitar 1.000 paket sembako dan uang fitrah kepada Abdi Dalem...

Next Post
Delapan Nama di Balik Hoaks: Ketika Fitnah Ijazah Berujung Penjara

Delapan Nama di Balik Hoaks: Fitnah Ijazah Berujung Penjara

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id