Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sidoharjo Memanas, Ratusan Sopir Truk Tuntut Akses Solar Bersubsidi

by dimas
September 30, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
Sidoharjo memanas saat ratusan sopir truk menggelar aksi menuntut akses solar bersubsidi, penghapusan barcode, dan pembenahan aturan angkutan.

Tabooo.id: Sidoharjo – Ratusan sopir truk memenuhi kawasan Bundaran Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (30/9/2026) siang. Mereka datang membawa satu keresahan utama: sulit mendapatkan solar bersubsidi.

Sekitar 250 kendaraan ikut dalam aksi tersebut. Towing, colt diesel, hingga truk fuso memenuhi ruas jalan di sekitar Bundaran Waru.

Akibatnya, arus kendaraan dari Sidoarjo menuju Surabaya maupun arah sebaliknya tersendat. Para sopir kemudian turun dari kendaraan dan berkumpul sambil membawa atribut aksi serta bendera Merah Putih.

Namun, persoalan solar hanya menjadi pintu masuk. Di balik kemacetan itu, para sopir membawa daftar tuntutan yang jauh lebih panjang.

Solar Menjadi Titik Bara

Sutris, salah satu sopir asal Boyolali, mengatakan para pengemudi kesulitan memperoleh solar bersubsidi.

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

“Kami sangat kesulitan mendapatkan BBM jenis solar,” kata Sutris.

Menurut para sopir, persoalan itu tidak berhenti pada ketersediaan bahan bakar. Mereka juga mempersoalkan mekanisme pembelian solar bersubsidi yang mensyaratkan barcode.

Karena itu, mereka meminta pemerintah menghapus kewajiban barcode untuk pembelian solar bersubsidi.

Di lapangan, persoalan tersebut langsung bersentuhan dengan aktivitas pengemudi. Solar bukan sekadar bahan bakar. Bagi sopir truk, ketersediaannya menentukan apakah kendaraan dapat terus bergerak dan mengangkut barang.

Tuntutan Meluas ke Persoalan Angkutan

Setelah menyuarakan persoalan BBM, para sopir mengajukan tuntutan lain. Salah satunya berkaitan dengan penyesuaian dimensi kendaraan.

GSJT meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Jasa Marga menindaklanjuti pembahasan mengenai pembiayaan penyesuaian dimensi kendaraan.

Mereka juga meminta penyesuaian dimensi terhadap 100 kendaraan milik anggota GSJT. Selain itu, para sopir mendorong penegakan aturan terhadap kendaraan yang membawa muatan berlebih.

Dengan demikian, aksi di Waru tidak hanya berbicara tentang solar. Para pengemudi juga mempertanyakan bagaimana aturan transportasi berjalan di lapangan.

Di satu sisi, pemerintah memiliki aturan mengenai dimensi dan muatan kendaraan. Di sisi lain, para pengemudi menghadapi tuntutan operasional yang langsung memengaruhi pendapatan mereka.

Dari Waru, Tuntutan Bergerak ke Pemerintah

Aksi di Bundaran Waru menjadi salah satu titik penyampaian aspirasi. Setelah itu, rombongan GSJT berencana mendatangi sejumlah instansi.

Tujuannya mencakup Dinas Perhubungan Jawa Timur, Pertamina MOR V/Jatimbalinus, Jasa Raharja, serta Kantor Gubernur Jawa Timur.

Masing-masing lembaga berkaitan dengan bagian persoalan yang mereka soroti. Pertamina bersinggungan dengan distribusi BBM, sedangkan pemerintah daerah memiliki kewenangan pada sejumlah kebijakan transportasi.

Sementara itu, Jasa Raharja berkaitan dengan tuntutan lain yang dibawa massa. Mereka meminta pertanggungjawaban terkait kemacetan di Pelabuhan Ketapang.

Para sopir juga meminta pemerintah memberikan beasiswa bagi anak-anak korban kecelakaan kapal. Mereka sekaligus mendorong revisi PMK Nomor 16/PMK.010/2017 yang mengatur kompensasi kecelakaan.

Ketika Truk Berhenti, Distribusi Ikut Tertahan

Kemacetan di Waru memperlihatkan satu persoalan yang sering luput dari perhatian. Truk bukan sekadar kendaraan yang memenuhi jalan.

Kendaraan tersebut menjadi bagian dari rantai distribusi barang. Ketika ratusan truk berhenti pada satu titik strategis, pergerakan kendaraan lain ikut terganggu.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada kemacetan. Di balik kabin truk terdapat biaya operasional, waktu perjalanan, kebutuhan bahan bakar, hingga risiko kehilangan pendapatan.

Karena itu, tuntutan para sopir perlu dibaca secara utuh. Mereka tidak hanya memprotes harga atau akses BBM.

Mereka juga membawa persoalan mengenai aturan kendaraan, distribusi barang, keselamatan, kompensasi kecelakaan, dan hubungan antara kebijakan dengan kondisi lapangan.

Bukan Sekadar Aksi di Jalan

Bundaran Waru akhirnya menjadi ruang tempat berbagai persoalan bertemu. Solar menjadi pemantik, tetapi daftar tuntutan menunjukkan persoalan yang lebih luas.

Para sopir meminta pemerintah tidak hanya melihat kemacetan sebagai persoalan ketertiban lalu lintas. Mereka juga meminta pemerintah melihat kondisi yang mendorong para pengemudi turun ke jalan.

Di titik inilah aksi tersebut menjadi lebih dari sekadar unjuk rasa. Ini bukan sekadar kendaraan yang berhenti. Ini adalah rantai distribusi yang sedang menunjukkan titik rapuhnya.

Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah setiap tuntutan akan berhenti sebagai daftar aspirasi, atau pemerintah mampu membawa persoalan tersebut ke meja penyelesaian?

Sebab, ketika sopir berhenti, jalan memang ikut tersendat. Namun, ketika persoalan mereka tidak menemukan jalan keluar, gangguannya bisa jauh lebih panjang. @dimas

Tags: Aksi SopirSidoharjoSolar BersubsidiSopir TrukTransportasi Jawa Timur

Kamu Melewatkan Ini

Sopir Truk Meninggal di Tengah Antrean Solar SPBU Ogan Ilir

Sopir Truk Meninggal di Tengah Antrean Solar SPBU Ogan Ilir

by dimas
September 19, 2026

Sopir truk Danar meninggal di tengah antrean solar SPBU Ogan Ilir. Polisi mendalami kejadian, sementara Pertamina memastikan stok solar tersedia....

Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

by dimas
Juli 28, 2026

Nelayan kecil semakin sulit memperoleh solar bersubsidi, sementara kapal perikanan berukuran besar menikmati BBM dengan harga khusus. Kebijakan ini memunculkan...

Next Post
Dugaan Korupsi 2,7 Miliar BUKP Tegalrejo, Dua Pengurus Ditahan Kejati DIY

Dugaan Korupsi 2,7 Miliar BUKP Tegalrejo, Dua Pengurus Ditahan Kejati DIY

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id