Tabooo.id: Entertainment – Apa yang lebih menakutkan dari setan?
Mungkin hidup modern yang bikin iman goyah dan kepala penuh notifikasi. Di tengah kegaduhan itu, The Exorcist kembali muncul. Film ini tidak sekadar mengulang teror lama. Ia membawa janji besar: pendekatan baru yang disebut “radikal”. Lebih menarik lagi, proyek ini menggandeng Scarlett Johansson sebagai bintang utama.
Universal menjadwalkan The Exorcist versi terbaru tayang 12 Maret 2027. Waktunya memang masih lama. Namun, gaungnya sudah terasa sejak sekarang.
Horor Legendaris Bangkit dengan Wajah Baru
Mike Flanagan memimpin proyek ini. Publik mengenalnya lewat The Haunting of Hill House, Midnight Mass, dan Doctor Sleep. Nama Flanagan sendiri sudah cukup untuk membuat penggemar horor siaga.
Flanagan tidak hanya menyutradarai film ini. Ia juga menulis naskah dan ikut memproduserinya. Dengan begitu, ia mengendalikan penuh arah cerita dan gaya horor yang ingin ia suguhkan.
Scarlett Johansson tampil sebagai pemeran utama, meski studio masih menyimpan rapat detail karakternya. Selain itu, film ini menghadirkan Jacobi Jupe, aktor muda yang sebelumnya mencuri perhatian lewat Hamnet.
Laporan Variety (16/1) menyebut film ini mengambil latar di alam semesta The Exorcist (1973). Namun, cerita ini tidak meneruskan kisah The Exorcist: Believer (2023). Flanagan memilih membuka jalur sendiri tanpa membebani penonton dengan cerita lama.
Dari Film Kesurupan ke Cermin Kegelisahan Zaman
William Friedkin merilis The Exorcist pada 1973 dan langsung mengguncang dunia. Film itu meraup US$441 juta secara global dan mengoleksi 10 nominasi Oscar.
Namun, kekuatan film tersebut tidak berhenti pada adegan kerasukan. Ceritanya menyorot ketakutan orang tua, krisis iman, dan rasa tidak berdaya saat manusia menghadapi sesuatu di luar logika.
Tema itu justru terasa semakin relevan hari ini.
Kini, “kerasukan” jarang berbentuk tubuh melayang atau suara menggeram. Ia hadir sebagai kelelahan mental, kecemasan kolektif, dan hidup yang terasa kosong meski serba cepat. Di titik inilah gaya Mike Flanagan bekerja dengan efektif.
Scarlett Johansson pun menambah lapisan makna. Ia kerap memerankan karakter rasional dan mandiri. Ketika sosok seperti itu berhadapan dengan horor religius, film ini seolah bertanya:
apa jadinya jika logika modern bertabrakan langsung dengan teror purba?
Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa mengganggu.
Reboot Mahal, Taruhannya Jauh Lebih Mahal
Universal menunjukkan keseriusan sejak awal. Pada 2021, studio ini menggelontorkan US$400 juta untuk mengamankan hak trilogi The Exorcist. Film The Exorcist: Believer kemudian meraup US$136 juta di box office global.
Angka tersebut memang aman secara bisnis. Namun, respons penonton tetap terbelah.
Karena itu, versi Mike Flanagan memikul beban besar. Film ini tidak boleh hanya mengandalkan nostalgia atau jumpscare murahan. Ia harus membawa makna dan napas baru.
Untungnya, Flanagan dikenal sabar membangun teror. Ia menyajikan horor pelan, dialog yang kuat, dan rasa takut yang menempel lama setelah layar bioskop gelap.
Siap Takut Lagi?
The Exorcist (2027) tidak sekadar menghidupkan waralaba lawas. Film ini mencoba membaca ulang ketakutan manusia di era modern.
Bukan cuma soal setan. Tapi juga tentang iman, kendali diri, dan kegelisahan yang sering kita pendam diam-diam.
Maret 2027 memang masih jauh. Namun, pertanyaannya sudah relevan hari ini:
jika film ini benar-benar radikal, kita siap nggak diganggu bukan cuma mata, tapi juga batin?
Yuk, diskusi.
Karena sering kali, horor paling menyeramkan tidak datang dari luar. Ia muncul dari dalam diri kita sendiri.







