Minggu, November 8, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
RADIO
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

SBY Khawatir Rakyat Takut Tinggal di Negaranya Sendiri, Ada Apa dengan Politik Indonesia?

by jeje
November 7, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku khawatir melihat arah politik Indonesia yang dinilainya semakin liar. Perebutan kekuasaan, menurutnya, seolah membuat segala cara dibenarkan tanpa lagi mempertimbangkan moral dan etika. Kegelisahan SBY bukan tanpa alasan. Ia bahkan mengingatkan kemungkinan paling mengkhawatirkan: ketika rakyat justru merasa takut dan tidak tenteram tinggal di negaranya sendiri.

Tabooo.id – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kegelisahannya terhadap kondisi politik Indonesia. Ia menilai perebutan kekuasaan semakin mengkhawatirkan ketika berbagai cara seolah dibenarkan tanpa mempertimbangkan moral dan etika.

Pernyataan itu bukan sekadar kritik terhadap persaingan elite politik. SBY juga mengingatkan kemungkinan dampak yang lebih serius: masyarakat kehilangan rasa aman di negaranya sendiri.

Melalui akun X pribadinya, Rabu (4/11/2026), SBY menuliskan kritik terhadap perkembangan politik nasional.

“Kok jadi begini negara kita. Kok begini liar politik kita,” tulis SBY.

Ia menyoroti praktik perebutan kekuasaan yang menurutnya seolah tidak lagi mengenal batas kepatutan.

“Sepertinya untuk mendapatkan kekuasaan (political power) cara apapun dibenarkan,” lanjutnya.

SBY juga mempertanyakan apakah kepentingan memperoleh kekuasaan kini lebih penting daripada pertimbangan baik dan buruk.

“Tak peduli baik atau buruk. Bermoral atau tidak bermoral,” ujarnya.

Kekhawatiran SBY Bukan Cuma soal Persaingan Elite

Bagian paling serius dari pernyataan SBY justru terletak pada dampaknya terhadap masyarakat.

Ia mengaku khawatir situasi politik yang semakin tidak sehat dapat membuat rakyat merasa takut dan kehilangan ketenteraman di negaranya sendiri.

“Saya khawatir kalau akhirnya rakyat merasa takut dan tidak tenteram hidup di negaranya sendiri,” kata SBY.

Pernyataan tersebut memperluas persoalan politik dari sekadar perebutan pengaruh dan jabatan.

Sebab, stabilitas negara tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memegang kekuasaan. Ada kepercayaan masyarakat terhadap hukum, institusi, dan kepastian bahwa negara mampu melindungi warganya.

Ketika pertarungan politik terus menjadi tontonan konflik, masyarakat berpotensi ikut menanggung dampaknya.

Bukan hanya melalui kebijakan yang mereka rasakan, tetapi juga melalui ketidakpastian mengenai arah kehidupan bernegara.

Muncul di Tengah Polemik Dugaan Penyadapan Presiden

Pernyataan SBY muncul di tengah polemik dugaan penyadapan ilegal yang menyasar Presiden Prabowo Subianto.

CNN Indonesia melaporkan, Bareskrim Polri menetapkan tiga perwira tinggi Polri sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Mereka adalah Jenderal (Purn.) Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, dan Irjen Eko Hadi Santoso.

Menurut keterangan Kabareskrim Komjen Asep Safrudin, dugaan penyadapan berlangsung pada periode 2025–2026 dan menyasar sejumlah nomor telepon tanpa prosedur yang semestinya.

Sasaran yang disebut dalam penyelidikan mencakup sejumlah pejabat negara, tokoh politik, media, organisasi masyarakat, hingga pengusaha.

Namun, penetapan tersangka bukan putusan bersalah. Perkara tersebut tetap harus diproses berdasarkan bukti dan ketentuan hukum yang berlaku.

Di tengah situasi itulah, pernyataan SBY mengenai politik yang semakin liar mendapat konteks lebih luas.

Persoalannya bukan semata-mata siapa berhadapan dengan siapa. Publik juga perlu mengetahui apakah mekanisme pengawasan, penegakan hukum, dan pertanggungjawaban kekuasaan berjalan sebagaimana mestinya.

SBY Meminta Prabowo Menghidupkan Politik Berkeadaban

SBY kemudian menyampaikan permohonan secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ia berharap kepala negara mampu menghidupkan kembali praktik politik yang menjunjung tinggi moral, etika, dan kepatutan.

“Sebagai warga bangsa yang sangat mencintai negeri ini, seperti juga warga negara Indonesia yang lain, saya bermohon kepada Presiden Prabowo untuk menghidupkan kembali politik yang berkeadaban,” tulisnya.

SBY menyebut permintaan tersebut sebagai panggilan sejarah sekaligus amanah rakyat.

“Ini panggilan sejarah. Ini amanah rakyat,” lanjutnya.

Ia juga berharap Tuhan memberikan kekuatan dan tuntunan kepada Prabowo untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.

Pesan itu menempatkan Presiden bukan hanya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, tetapi juga sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab menjaga kualitas kehidupan politik nasional.

Negara Tidak Cukup Hanya Stabil, Kekuasaan Juga Harus Beradab

Ada satu hal yang perlu diperhatikan dari kegelisahan SBY.

Negara bisa saja terlihat berjalan secara administratif. Pemerintahan tetap bekerja, institusi tetap berdiri, dan perebutan kepentingan politik terus berlangsung.

Namun, semua itu belum otomatis menjamin sehatnya kehidupan demokrasi.

Kualitas negara juga terlihat dari bagaimana kekuasaan diperoleh, digunakan, diawasi, dan dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks ini, kritik terhadap praktik politik bukan berarti menolak perbedaan kepentingan. Demokrasi memang memberi ruang bagi persaingan.

Masalah muncul ketika persaingan kehilangan batas etika dan hukum.

Sebab, rakyat bukan penonton yang bisa terus diminta memahami konflik elite tanpa memperoleh kepastian mengenai perlindungan hak-haknya.

Pernyataan SBY pada akhirnya menyisakan pertanyaan yang lebih besar: apakah politik masih menjadi jalan untuk mengurus kepentingan rakyat, atau justru semakin sibuk mengurus perebutan kekuasaan?

Sebab, negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki pemimpin. Negara yang kuat adalah negara yang membuat rakyatnya merasa aman, percaya pada hukumnya, dan tidak takut hidup di dalamnya. @jeje

Tags: Penyadapan PresidenPolitik IndonesiaPresiden ke-6Rakyat Indonesiasby

Kamu Melewatkan Ini

Presiden Diduga Disadap, Soleman Ponto Minta TNI Bergerak

Presiden Diduga Disadap, Soleman Ponto Minta TNI Bergerak

by jeje
November 7, 2026

Dugaan penyadapan terhadap Presiden kembali menjadi sorotan. Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Soleman Ponto, menilai penanganan kasus tersebut...

Dari Penyadapan ke Dugaan Makar, Siapa yang Bermain di Baliknya?

Dari Penyadapan ke Dugaan Makar, Siapa yang Bermain di Baliknya?

by dimas
November 5, 2026

Dugaan penyadapan Presiden menyeret Listyo Sigit dan dua jenderal Polri. Motif politik, indikasi makar, dan aktor di balik perkara kini...

Penyadapan Presiden: Tiga Perwira Jadi Tersangka, Motif Dipertanyakan

Penyadapan Presiden: Tiga Perwira Jadi Tersangka, Motif Dipertanyakan

by teguh
November 4, 2026

Kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo Subianto memasuki babak baru setelah Bareskrim Polri menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Perkembangan ini memunculkan...

◉
TABOOO RADIOVERSE
SATU BUMI · RIBUAN FREKUENSI
RADIO ONLINE
Dimulai dari Indonesia, jelajahi seluruh dunia
Menyiapkan peta dunia…
Putar bumi · Klik titik kota · Dengarkan radio
🌏 INDONESIA FOCUS
JELAJAHI SUARA DUNIA

Temukan frekuensimu.

Pilih kota, lalu dengarkan siarannya.

⌕

Radio pilihan

— stasiun
Memuat direktori radio…
1 / 1
♫
SIAP MENDENGARKAN
Pilih stasiun radio
Jelajahi frekuensi dari seluruh dunia
◖))
Belum ada siaran
Powered by TABOOO · Radioverse v1.2Audio disiarkan oleh stasiun pihak ketiga · Radio Browser · Peta © OpenStreetMap

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
    • Pattern
  • Figures
  • Radioverse

© 2026 Tabooo.id