Tabooo.id: Talk – Kita sering mendengar keluhan soal bioskop yang mulai sepi. Tapi jarang ada yang benar-benar mengulik satu hal: kalau film harus bertahan lebih lama di layar, siapa yang menanggung biayanya?
Usulan penayangan eksklusif selama empat bulan memang terlihat seperti solusi. Pemerintah ingin memberi ruang bagi bioskop agar tetap hidup di tengah gempuran streaming.
Tapi realitanya tidak sesederhana itu.
Biaya yang Ikut Membengkak
Produser tidak hanya “menaruh” film di bioskop. Mereka harus mengatur distribusi, membayar slot layar, dan menjalankan promosi.
Semakin lama film bertahan, semakin besar biaya yang mereka keluarkan.
Promosi juga tidak berhenti di minggu pertama. Produser harus menjaga awareness penonton selama berbulan-bulan. Artinya, mereka harus terus keluar uang.
Tidak semua film punya kapasitas itu.
Sistem Keras Bisa Jadi Lebih Brutal
Saat ini, industri film Indonesia sudah berjalan dengan sistem yang ketat. Bioskop langsung menurunkan film ketika okupansi penonton rendah.
Sekarang bayangkan jika durasi tayang diperpanjang.
Film besar mungkin bertahan. Tapi film kecil berisiko terjebak di tengah biaya tinggi tanpa jaminan penonton.
Di titik ini, kualitas tidak lagi jadi faktor utama. Daya tahan finansial justru lebih menentukan.
Penonton Tidak Tinggal Diam
Penonton juga berubah. Mereka tidak lagi bergantung pada bioskop.
Mereka bisa menonton di gadget dengan lebih fleksibel, lebih murah, dan lebih praktis.
Kalau mereka harus menunggu empat bulan, sebagian orang mungkin memilih tidak menonton sama sekali. Sebagian lainnya akan mencari jalan alternatif.
Jadi, Siapa yang Diuntungkan?
Kebijakan ini terlihat melindungi bioskop. Tapi di saat yang sama, produser harus menanggung biaya lebih besar, dan penonton kehilangan fleksibilitas.
Industri film tidak berdiri di satu kaki.
Kalau satu sisi dipaksa kuat dengan membebani sisi lain, apakah itu benar-benar solusi?
Atau kita sedang memindahkan masalah tanpa benar-benar menyelesaikannya? @jeje



