Rokok ilegal kembali menjadi sorotan di Solo Raya. Harga dan daya beli memunculkan pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya diuntungkan.
Tabooo.id – Rokok ilegal kembali menjadi sorotan setelah Bea Cukai Surakarta menindak 12,8 juta batang di Solo Raya. Harga dan daya beli ikut membuka pertanyaan: mengapa pasar rokok ilegal masih memiliki pembeli?
Pada Rabu (7/10/2026), petugas bersama pemerintah daerah dan Forkopimda memusnahkan barang tersebut di Solo. Nilainya mencapai sekitar Rp19,29 miliar, sementara potensi kerugian negara yang berhasil dicegah mencapai Rp12,53 miliar.
Angka itu memang menunjukkan besarnya skala penindakan. Namun, di balik jutaan batang yang masuk daftar sitaan, ada persoalan yang lebih menarik untuk dibicarakan. Mengapa rokok ilegal masih memiliki ruang di tengah gencarnya operasi penindakan?
Ketika Harga Mulai Ikut Menentukan
Salah satu jawabannya mungkin berkaitan dengan ekonomi pasar. Harga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pilihan konsumen. Ketika konsumen menghadapi berbagai pilihan dengan harga berbeda, kemampuan membeli tentu ikut memainkan peran.
Namun, data penindakan kali ini belum cukup untuk membuktikan bahwa daya beli menjadi penyebab utama konsumen memilih rokok ilegal. Karena itu, kita perlu melihat persoalan ini dengan lebih hati-hati.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika rokok ilegal menawarkan harga yang lebih menarik. Produk tersebut tidak mengikuti kewajiban yang sama seperti produk legal. Kondisi itu dapat menciptakan ruang keuntungan bagi pelaku sekaligus membuat persaingan usaha berjalan tidak seimbang.
Harga Murah Membuka Ruang bagi Pasar
Di sisi konsumen, harga murah tentu terlihat menarik. Namun, pilihan tersebut ikut menjaga permintaan di pasar ilegal. Ketika permintaan tetap ada, penjual memiliki alasan untuk kembali mencari pasokan.
Rantai itu kemudian terus bergerak dari produsen, distributor, penjual, hingga konsumen. Selama setiap mata rantai melihat peluang keuntungan, pasar akan memiliki alasan untuk bertahan.
Kepala Bea Cukai Surakarta Kholis Kamaludin juga melihat adanya motif keuntungan di balik aktivitas tersebut. Ia mengatakan pelaku terus mencari peluang karena aktivitas itu memberikan keuntungan.
“Sepanjang tahun namanya orang berusaha, ada keuntungan yang mereka dapatkan,” ujarnya kepada awak media usai kegiatan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan rokok ilegal tidak hanya berkaitan dengan konsumen yang mencari harga murah. Ada insentif ekonomi yang membuat pelaku tetap melihat pasar tersebut sebagai peluang.
Penindakan Tidak Berhenti pada Barang
Karena itu, penindakan menjadi penting. Bea Cukai Surakarta bersama pemerintah daerah dan Satpol PP di Solo Raya terus melakukan operasi untuk membatasi peredaran rokok ilegal.
Wilayah operasi mencakup Surakarta, Boyolali, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Sragen, dan Karanganyar. Pemerintah menggunakan DBHCHT untuk mendukung sejumlah kegiatan penindakan dan edukasi.
Namun, operasi penindakan punya batas. Petugas dapat menemukan, menyita, lalu menghancurkan barang yang mereka dapatkan. Tetapi pasar tidak berhenti hanya karena satu stok hilang.
Selama pelaku masih melihat keuntungan dan konsumen masih memiliki permintaan, pasokan baru bisa kembali muncul.
Daya Beli Bukan Alasan untuk Membenarkan
Di titik inilah pertanyaan tentang harga dan daya beli menjadi relevan. Bukan untuk membenarkan perdagangan ilegal, tetapi untuk memahami mengapa pasar tersebut terus menemukan pembeli.
Jika konsumen membeli karena pertimbangan harga, maka memahami struktur harga dan perilaku konsumsi menjadi bagian penting dalam melihat persoalan.
Tetapi kita juga tidak bisa membebankan seluruh persoalan kepada konsumen. Ada pelaku yang memproduksi, mendistribusikan, dan menjual barang ilegal. Mereka mengambil keuntungan dari pasar yang terbentuk.
Negara kemudian harus mengeluarkan sumber daya untuk mengejar rantai tersebut.
Ketika Pelaku Legal Menghadapi Persaingan
Pelaku usaha legal juga menghadapi persoalan lain. Mereka mengikuti aturan dan membayar kewajiban kepada negara.
Ketika produk ilegal masuk dengan struktur biaya yang berbeda, persaingan menjadi tidak seimbang. Pelaku yang mengikuti aturan harus berhadapan dengan produk yang tidak menanggung kewajiban dalam struktur yang sama.
Dampaknya tidak hanya terasa bagi negara.
Pelaku usaha legal juga harus menghadapi tekanan pasar yang berbeda.
Jadi, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Pertanyaan “siapa yang diuntungkan?” ternyata tidak memiliki jawaban sederhana.
Pelaku bisa memperoleh keuntungan. Konsumen bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Namun, negara kehilangan potensi penerimaan dan pelaku usaha legal menghadapi persaingan yang tidak setara.
Pemusnahan 12,8 juta batang rokok ilegal akhirnya bukan hanya cerita tentang barang yang petugas hancurkan. Peristiwa itu juga menunjukkan adanya tarik-menarik antara aturan, harga, keuntungan, dan perilaku pasar.
Kita memang perlu menindak pelaku yang melanggar aturan. Namun, jika ingin memutus pasar ilegal dalam jangka panjang, pemerintah juga perlu memahami mengapa pasar itu terus menemukan pembeli.
Sebab, memburu barangnya hanya menyelesaikan satu bagian persoalan. Selama keuntungan masih tersedia dan permintaan masih ada, pasar akan terus mencari celah.
Rokok ilegal bukan hanya persoalan hukum. Di belakangnya ada ekonomi, perilaku konsumen, dan pasar yang terus beradaptasi.
Pertanyaannya sekarang bukan sekadar siapa yang salah, tetapi siapa yang sebenarnya terus mendapat keuntungan dari pasar tersebut. @eko








