Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Revisi UU Hak Cipta Soroti Kepemilikan Karya yang Dibuat AI

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Bayangkan kamu curhat tengah malam lalu mengetik prompt, “Buatkan lagu galau ala 2000-an, vibe hujan, ada string section dramatis.” Tiga menit kemudian, AI langsung menyusun lagunya. Aransemen rapi, suaranya mirip idolamu, mixing-nya bersih seperti studio jutaan rupiah. Plot twist-nya? Mesin yang mengerjakannya, bukan manusia.

Di titik inilah pemerintah dan DPR mulai bergerak. Mereka membahas revisi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan memasukkan isu artificial intelligence dalam pembuatan musik. Pada 2014, pembuat undang-undang belum menghadapi AI secanggih sekarang. Kini, teknologi itu menjelma jadi “produser kamar kos” paling produktif.

Negara Mulai Mengatur, Industri Mulai Waswas

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum, Hermansyah Siregar, menyebut regulasi lama belum menjawab soal kepemilikan karya, royalti, dan batas peran AI. Ia menegaskan bahwa hak cipta lahir dari rasa, pikir, cipta, dan karsa manusia. Karena itu, jika AI menciptakan karya tanpa campur tangan manusia, ia menilai negara tak perlu mengenakan royalti.

Pernyataan ini bukan sekadar teknis hukum. Pemerintah sedang menentukan siapa yang berhak atas nilai ekonomi sebuah lagu. Jika AI menyusun lirik, membuat melodi, dan merampungkan aransemen, siapa yang mengklaim hasilnya? Pengembang teknologi? Platform digital? Atau tak seorang pun?

Sementara itu, Ariel NOAH melihat persoalan ini dari sudut berbeda. Ia menyambut teknologi sebagai alat bantu kreatif. Menurutnya, AI bisa membantu musisi ketika ide lirik sudah ada tetapi instrumen sulit diwujudkan secara konvensional. Ia tidak ingin orang memosisikan AI sebagai musuh. Namun ia juga menuntut aturan yang tegas agar teknologi tidak merampas hak seniman.

Ini Belum Selesai

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Ariel menekankan satu hal: AI tak bisa kita larang, tetapi kita harus mengarahkannya. Tanpa regulasi jelas, industri bisa tergoda memilih mesin yang lebih murah, lebih cepat, dan tak pernah menuntut royalti.

Kreativitas Instan, Emosi Instan?

Di luar ruang rapat DPR, publik menghadapi realitas baru. Kita hidup di era ketika orang bisa menghasilkan lagu hanya dengan mengetik beberapa kalimat. AI menyimulasikan emosi, meniru gaya penyanyi, bahkan mengadaptasi genre tertentu dalam hitungan menit.

Namun musik selalu lebih dari sekadar susunan nada. Musisi menulis lagu dari pengalaman, luka, cinta, dan kegagalan. Mereka membawa cerita pribadi ke dalam karya. Ketika mesin meniru pola itu, ia meniru struktur, bukan pengalaman.

Di sinilah ironi muncul. Kita memuja keaslian, tetapi kita juga menyukai kepraktisan. Kita mengagumi perjuangan kreatif, tetapi kita tergoda oleh hasil instan. Platform digital mempercepat segalanya. Algoritma menentukan selera. Industri menghitung efisiensi.

Revisi UU Hak Cipta ini akhirnya bukan cuma soal hukum. Pemerintah sedang mencoba menjaga keseimbangan antara inovasi dan keadilan. Jika negara gagal mengatur, musisi bisa tersingkir bukan karena kurang berbakat, melainkan karena kalah efisien dari sistem otomatis.

AI memang membantu produksi, mempercepat aransemen, dan membuka peluang baru. Namun manusia tetap memberi makna. Tanpa keterlibatan manusia, musik kehilangan konteks emosional yang membuatnya hidup.

Sekarang pertanyaannya sederhana: ketika kamu memutar lagu yang menyentuh hati, kamu ingin mendengar suara manusia yang pernah merasakan hal yang sama, atau cukup puas dengan simulasi rasa?

Teknologi terus melaju. Legislator menyusun aturan. Industri menunggu kepastian.

Sementara itu, pilihan tetap ada di tangan kita sebagai pendengar: kita merayakan kreativitas manusia, atau kita menyerahkan panggung sepenuhnya pada mesin? @eko

Tags: DPRHak CiptaMusikroyalti

Kamu Melewatkan Ini

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

by Tabooo
Juni 3, 2026

Excerpt: Genjer-Genjer sering dicap sebagai lagu PKI. Padahal lirik aslinya bicara tentang genjer, sawah, pasar, dapur, dan rakyat miskin yang...

Stop Pembajakan Buku: Literasi Murah yang Perlahan Membunuh Penulis

Stop Pembajakan Buku: Literasi Murah yang Perlahan Membunuh Penulis

by dimas
Mei 24, 2026

Pembajakan buku bukan sekadar soal harga murah, tetapi ancaman serius bagi penulis, penerbit, dan masa depan literasi Indonesia. Tabooo.id -...

Buku Bajakan Membanjiri Media Sosial: Ketika Hak Cipta Tak Lagi Ditakuti

Buku Bajakan Membanjiri Media Sosial: Ketika Hak Cipta Tak Lagi Ditakuti

by dimas
Mei 18, 2026

Buku bajakan membanjiri marketplace dan media sosial. Saat hukum bergerak lambat, pembajakan berubah menjadi industri digital bayangan. Tabooo.id - Di...

Next Post
BPKB Naik Level: Dari Buku Ribet ke E-BPKB Serba Digital

BPKB Naik Level: Dari Buku Ribet ke E-BPKB Serba Digital

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id