Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Revisi UU Hak Cipta Soroti Kepemilikan Karya yang Dibuat AI

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Bayangkan kamu curhat tengah malam lalu mengetik prompt, “Buatkan lagu galau ala 2000-an, vibe hujan, ada string section dramatis.” Tiga menit kemudian, AI langsung menyusun lagunya. Aransemen rapi, suaranya mirip idolamu, mixing-nya bersih seperti studio jutaan rupiah. Plot twist-nya? Mesin yang mengerjakannya, bukan manusia.

Di titik inilah pemerintah dan DPR mulai bergerak. Mereka membahas revisi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan memasukkan isu artificial intelligence dalam pembuatan musik. Pada 2014, pembuat undang-undang belum menghadapi AI secanggih sekarang. Kini, teknologi itu menjelma jadi “produser kamar kos” paling produktif.

Negara Mulai Mengatur, Industri Mulai Waswas

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum, Hermansyah Siregar, menyebut regulasi lama belum menjawab soal kepemilikan karya, royalti, dan batas peran AI. Ia menegaskan bahwa hak cipta lahir dari rasa, pikir, cipta, dan karsa manusia. Karena itu, jika AI menciptakan karya tanpa campur tangan manusia, ia menilai negara tak perlu mengenakan royalti.

Pernyataan ini bukan sekadar teknis hukum. Pemerintah sedang menentukan siapa yang berhak atas nilai ekonomi sebuah lagu. Jika AI menyusun lirik, membuat melodi, dan merampungkan aransemen, siapa yang mengklaim hasilnya? Pengembang teknologi? Platform digital? Atau tak seorang pun?

Sementara itu, Ariel NOAH melihat persoalan ini dari sudut berbeda. Ia menyambut teknologi sebagai alat bantu kreatif. Menurutnya, AI bisa membantu musisi ketika ide lirik sudah ada tetapi instrumen sulit diwujudkan secara konvensional. Ia tidak ingin orang memosisikan AI sebagai musuh. Namun ia juga menuntut aturan yang tegas agar teknologi tidak merampas hak seniman.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Ariel menekankan satu hal: AI tak bisa kita larang, tetapi kita harus mengarahkannya. Tanpa regulasi jelas, industri bisa tergoda memilih mesin yang lebih murah, lebih cepat, dan tak pernah menuntut royalti.

Kreativitas Instan, Emosi Instan?

Di luar ruang rapat DPR, publik menghadapi realitas baru. Kita hidup di era ketika orang bisa menghasilkan lagu hanya dengan mengetik beberapa kalimat. AI menyimulasikan emosi, meniru gaya penyanyi, bahkan mengadaptasi genre tertentu dalam hitungan menit.

Namun musik selalu lebih dari sekadar susunan nada. Musisi menulis lagu dari pengalaman, luka, cinta, dan kegagalan. Mereka membawa cerita pribadi ke dalam karya. Ketika mesin meniru pola itu, ia meniru struktur, bukan pengalaman.

Di sinilah ironi muncul. Kita memuja keaslian, tetapi kita juga menyukai kepraktisan. Kita mengagumi perjuangan kreatif, tetapi kita tergoda oleh hasil instan. Platform digital mempercepat segalanya. Algoritma menentukan selera. Industri menghitung efisiensi.

Revisi UU Hak Cipta ini akhirnya bukan cuma soal hukum. Pemerintah sedang mencoba menjaga keseimbangan antara inovasi dan keadilan. Jika negara gagal mengatur, musisi bisa tersingkir bukan karena kurang berbakat, melainkan karena kalah efisien dari sistem otomatis.

AI memang membantu produksi, mempercepat aransemen, dan membuka peluang baru. Namun manusia tetap memberi makna. Tanpa keterlibatan manusia, musik kehilangan konteks emosional yang membuatnya hidup.

Sekarang pertanyaannya sederhana: ketika kamu memutar lagu yang menyentuh hati, kamu ingin mendengar suara manusia yang pernah merasakan hal yang sama, atau cukup puas dengan simulasi rasa?

Teknologi terus melaju. Legislator menyusun aturan. Industri menunggu kepastian.

Sementara itu, pilihan tetap ada di tangan kita sebagai pendengar: kita merayakan kreativitas manusia, atau kita menyerahkan panggung sepenuhnya pada mesin? @eko

Tags: DPRHak CiptaMusikroyalti

Kamu Melewatkan Ini

John Lennon dan Harga Sebuah Keberanian

John Lennon dan Harga Sebuah Keberanian

by eko
Agustus 6, 2026

John Lennon membuktikan bahwa popularitas dan idealisme tidak selalu berjalan seiring. Kisahnya menunjukkan bagaimana seorang seniman dapat mengubah musik menjadi...

Imagine: Lagu Perdamaian yang Tak Pernah Berhenti Diperdebatkan

Imagine: Lagu Perdamaian yang Tak Pernah Berhenti Diperdebatkan

by eko
Juli 23, 2026

Meski telah berusia lebih dari 50 tahun, Imagine karya John Lennon terus memicu perdebatan. Simak makna, kritik, dan alasan lagu...

John Lennon: Musisi Perdamaian atau Sosok yang Pernah Ditakuti Penguasa?

John Lennon: Musisi Perdamaian atau Sosok yang Pernah Ditakuti Penguasa?

by eko
Juli 23, 2026

John Lennon bukan hanya personel The Beatles. Ia menjadikan musik sebagai alat kritik sosial, menginspirasi gerakan perdamaian, dan bahkan pernah...

Next Post
BPKB Naik Level: Dari Buku Ribet ke E-BPKB Serba Digital

BPKB Naik Level: Dari Buku Ribet ke E-BPKB Serba Digital

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id