Tabooo.id: Deep – Lampu kamar itu redup.
Namun, suasananya tidak tenang.
Seorang remaja terjatuh di lantai. Nafasnya berat. Tubuhnya tidak lagi melawan.
Di depannya, tiga remaja lain terus memukul. Tanpa ragu. Tanpa jeda.
Ini bukan adegan film.
Ini nyata. Dan lebih dekat dari yang kita kira.
Bukan Masalah Besar, Tapi Meledak Jadi Kekerasan
Kasus ini terlihat sederhana.
Empat pelaku. Semua masih di bawah umur. Satu masih buron.
Mereka marah.
Namun bukan karena pengkhianatan besar.
Sebaliknya, mereka tersinggung karena temannya dibawa korban ke hotel.
Selesai.
Masalah kecil. Reaksi besar.
Dan justru di titik ini, kita harus berhenti menyederhanakan.
Karena ketika hal sepele berubah jadi kekerasan brutal, ada sistem yang gagal bekerja.
Kita Mengajarkan Banyak Hal, Tapi Bukan Cara Mengelola Emosi
Hari ini, remaja tahu banyak hal.
Mereka paham teknologi, cepat belajar tren dan aktif di dunia digital.
Namun di saat yang sama, mereka sering tidak tahu cara menghadapi emosi sendiri.
Ketika marah datang, mereka bingung menyalurkan.
Ketika kecewa muncul, mereka tidak punya ruang untuk memproses.
Akibatnya, emosi tidak selesai. Emosi menumpuk.
Lalu, emosi itu meledak.
Dan kekerasan menjadi jalan pintas.
Lalu, Maskulinitas Palsu Ikut Memperkeruh
Di banyak lingkungan, ada standar diam-diam yang terus diwariskan.
Jika diam, dianggap lemah, lalu mengalah, dianggap kalah. dan tidak membalas, dianggap tidak punya harga diri.
Masalahnya, standar ini jarang dipertanyakan.
Sebaliknya, semua orang ikut menjalankan.
Akibatnya, banyak remaja merasa harus “bertindak keras” untuk terlihat kuat.
Padahal, itu bukan kekuatan.
Itu hanya ketakutan yang disamarkan.
Sementara Itu, Kita Sibuk Jadi Penonton
Video itu viral.
Timeline penuh komentar.
Sebagian marah. Sebagian mengutuk.
Namun setelah itu, semua bergerak cepat ke isu lain.
Padahal pola ini terus berulang.
Pertama, kekerasan terjadi.
Lalu, seseorang merekam.
Kemudian, publik menonton.
Akhirnya, semua lupa.
Siklus ini berjalan tanpa jeda.
Dan tanpa sadar, kita ikut memeliharanya.
Hukum Bergerak, Tapi Akar Masalah Tetap Diam
Polisi sudah menangkap tiga pelaku.
Satu pelaku masih dalam pengejaran.
Hukum akan berjalan. Proses akan lanjut.
Namun pertanyaannya tidak berhenti di sana.
Apakah hukuman cukup untuk memperbaiki pola?
Dalam cara berpikir Tabooology, masalah tidak berhenti di permukaan. Kita harus membongkar alasan di baliknya.
Karena kalau kita hanya fokus pada pelaku, kita akan melewatkan sistem yang membentuk mereka.
Jadi, Kita Sebenarnya Gagal di Mana?
Mungkin di rumah, saat emosi dianggap berlebihan.
Atau di sekolah, ketika konflik langsung dihukum tanpa dipahami.
Bahkan di lingkungan, saat kekerasan dianggap hal biasa.
Selain itu, kita juga sering menunda perhatian.
Kita menunggu sampai sesuatu menjadi viral, baru mulai peduli.
Padahal prosesnya sudah lama berjalan.
Penutup
Seorang remaja tergeletak di kamar hotel.
Tiga pelaku sudah diamankan. Satu masih dicari.
Kasus ini akan selesai di berita.
Namun masalahnya belum tentu selesai di kehidupan.
Karena selama kekerasan masih jadi cara tercepat untuk menyelesaikan emosi,
maka yang perlu kita pertanyakan bukan hanya siapa pelakunya
melainkan bagaimana kita membentuk mereka sejak awal. @jeje



