Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Polri di Bawah Presiden: Reformasi atau Risiko Kekuasaan?

by Anisa
Januari 26, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Mari jujur sebentar. Setiap kali kita dengar kalimat “Polri berada langsung di bawah Presiden”, reaksi publik hampir selalu sama: alis terangkat, kepala miring, lalu muncul satu pertanyaan klasik ini masih Reformasi, atau kita lagi mundur pelan-pelan?

Nah, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo baru saja menegaskan satu hal penting: posisi Polri di bawah Presiden bukan titipan kekuasaan, tapi mandat Reformasi 1998. Sah, konstitusional, dan ada dasar hukumnya. Tapi seperti obrolan serius di kafe pinggir jalan, yang bikin menarik justru bukan jawabannya melainkan perdebatan setelahnya.

Reformasi: Membebaskan atau Mengikat?

Pasca-1998, Polri “dikeluarkan” dari TNI. Tujuannya jelas: mengakhiri pendekatan militeristik dalam urusan sipil. Polisi tidak lagi mengatur warga dengan logika perang, tapi dengan logika pelayanan. To serve and protect, kata Kapolri. Kedengarannya ideal, kan?

Secara hukum, argumen Kapolri solid. Pasal 30 ayat (4) UUD 1945 menyebut Polri sebagai alat negara penjaga keamanan. TAP MPR Nomor 7 Tahun 2000 bahkan memberi Presiden kewenangan mengangkat dan memberhentikan Kapolri dengan persetujuan DPR. Artinya, sejak awal Reformasi, desainnya memang begitu.

Tapi di titik ini, wajar kalau publik bertanya apakah desain yang sama masih relevan dengan realitas politik hari ini? Reformasi lahir dari trauma kekuasaan yang terlalu terpusat. Jadi, ketika Polri berada langsung di bawah Presiden, sebagian orang otomatis waspada. Trauma itu belum sepenuhnya sembuh.

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Logika Pulau dan Birokrasi

Kapolri punya argumen lain yang cukup masuk akal Indonesia itu luas. Sangat luas. 17.380 pulau, populasi ratusan juta, masalah keamanan yang beragam. Dalam kondisi seperti ini, katanya, Polri butuh jalur komando yang cepat dan fleksibel. Terlalu banyak lapisan birokrasi bisa bikin respons lambat. Dan di urusan keamanan, lambat itu mahal.

Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Bayangkan kasus darurat keamanan di daerah terpencil. Kalau koordinasi terlalu panjang, yang keburu viral duluan bukan solusinya, tapi kegagalannya. Dalam konteks ini, posisi Polri langsung di bawah Presiden bisa mempercepat keputusan.

Masalahnya, kecepatan tanpa rem juga berbahaya. Motor gede tanpa rem itu bukan efisien itu nekat.

Ketakutan yang Tidak Mengada-ada

Di sisi lain, kritik publik juga tidak datang dari ruang kosong. Kekhawatiran soal independensi Polri itu nyata. Polisi bukan hanya alat keamanan, tapi juga penegak hukum. Ia berhadapan langsung dengan kasus-kasus politik, korupsi, konflik kekuasaan. Kalau terlalu dekat dengan pusat kekuasaan, publik takut satu hal: hukum jadi selektif.

Kita semua pernah dengar celetukan sinis di warung kopi: “Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.” Nah, di sinilah ketakutan itu bermuara. Bukan pada teks undang-undang, tapi pada praktik sehari-hari.

Dan jujur saja, kepercayaan publik pada institusi hukum di Indonesia masih naik-turun. Jadi ketika Kapolri bicara soal fleksibilitas dan efektivitas, sebagian publik langsung menimpali: fleksibel untuk siapa? Efektif untuk kepentingan apa?

Sikap Tabooo: Tidak Hitam-Putih

Di Tabooo, kami percaya satu hal: masalah ini tidak hitam-putih. Menyebut Polri di bawah Presiden sebagai “kembali ke otoritarianisme” terlalu simplistik. Tapi menganggap semua akan baik-baik saja juga naif.

Mandat Reformasi memang ada. Tapi Reformasi bukan fosil. Ia hidup, berubah, dan harus terus diuji. Kuncinya bukan semata di posisi struktural, melainkan di pengawasan. DPR harus benar-benar menjalankan fungsi kontrol, bukan sekadar formalitas. Masyarakat sipil harus bersuara, bukan cuma mengeluh di media sosial. Dan Polri sendiri harus konsisten membuktikan bahwa “to serve and protect” bukan slogan kosong.

Jadi, Kita Mau Apa?

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan cuma “Polri di bawah siapa”, tapi “Polri berpihak ke siapa”. Kalau keberadaannya di bawah Presiden membuat layanan publik lebih cepat, lebih adil, dan lebih manusiawi publik akan menerima. Tapi kalau justru mempertebal jarak antara hukum dan keadilan, resistensi akan selalu ada.

Reformasi tidak menuntut institusi sempurna. Ia menuntut institusi yang mau dikritik dan diawasi.

Lalu, kamu di kubu mana? Tim “ini mandat Reformasi, lanjutkan”, atau tim “awas, jangan sampai kebablasan”? Yuk, debatkan tapi santai saja, kayak di kafe. (red)

Tags: DPREvaluasiKapolriPolisiPolripresiden

Kamu Melewatkan Ini

Fatwa Haram Vape di Depan Mata, Terus Nasib UMKM yang Tak Terlibat Narkotika?

Fatwa Haram Vape di Depan Mata, Terus Nasib UMKM yang Tak Terlibat Narkotika?

by teguh
Oktober 18, 2026

Aroma buah tidak menjamin cairan vape aman. Di balik kemasan yang tampak biasa, aparat menghadapi tantangan untuk membedakan produk legal...

Polisi Bersama Masyarakat, Mampukah Slogan Jadi Budaya?

Polisi Bersama Masyarakat, Mampukah Slogan Jadi Budaya?

by dimas
Oktober 6, 2026

Polri memperkenalkan tagline “Polisi Bersama Masyarakat” di bawah Kapolri Suyudi Ario Seto. Mampukah slogan itu berubah menjadi budaya pelayanan? Tabooo.id...

Bupati Siak Menangis Lihat Guru dan Siswa di Pelosok: Kekayaan Migas ke Mana?

Bupati Siak Menangis Lihat Guru dan Siswa di Pelosok: Kekayaan Migas ke Mana?

by teguh
Oktober 5, 2026

Bupati Siak Afni Zulkifli menangis saat melihat kondisi guru dan siswa di Dusun Mungkal, Kabupaten Siak, Riau, Jumat, 02/10/2026. Tabooo.id:...

Next Post
Bukan Sekadar Es, Ini Cerita Es Potong Jadul Solo

Bukan Sekadar Es, Ini Cerita Es Potong Jadul Solo

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id