Polemik parkir Masjid Zayed Solo mencuat setelah tarif mobil disebut Rp100 ribu. Jukir resmi membantah dan mengaku mengikuti tarif karcis.
Tabooo.id: Surakarta – Polemik tarif parkir di kawasan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo belum juga reda. Informasi tarif parkir mobil hingga Rp100.000 memicu perhatian publik dan ramai di media sosial.
Namun, cerita dari lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Yakob, salah satu juru parkir (jukir) di depan Masjid Zayed, mengaku jukir resmi yang memiliki KTA mengikuti nominal pada karcis.
“Tidak ada jukir di area sini yang berani menarik tarif di luar karcis yang berlaku,” kata Yakob.
Menurut Yakob, karcis menjadi acuan utama saat jukir menarik pembayaran dari pengunjung. Karena itu, ia meminta publik tidak menggeneralisasi informasi tarif Rp100.000 kepada seluruh jukir.
Tarif Mobil Jadi Sorotan
Yakob mengaku kaget saat mendengar informasi tarif parkir mobil mencapai Rp100.000.
“Tarif yang dipermasalahkan adalah tarif mobil, yang katanya diviralkan menjadi Rp100.000. Ya saya kaget,” ujarnya.
Yakob mengatakan dirinya dan sejumlah jukir lain tetap mengikuti nominal pada karcis. Ia juga menilai praktik jukir di lapangan tidak bisa langsung disamakan dengan kasus yang ramai di media sosial.
Polemik ini pun membuat satu angka menjadi pusat perhatian. Padahal, publik masih membutuhkan penjelasan lebih jelas tentang tarif resmi dan praktik di lapangan.
Jukir Klaim Tidak Memaksa Pengunjung
Yakob juga menceritakan cara dirinya melayani pengunjung. Ia mengaku tidak memaksa pengunjung membayar ketika mereka lupa membawa uang.
“Pak, saya lupa, nggak bawa uang. Ya sudah, parkir sini, kamu segera salat,” tuturnya.
Dalam kondisi tertentu, Yakob juga menerima pembayaran sesuai kemampuan pengunjung.
“Kami tidak pernah memaksa. Ketika adanya uang berapa, kami menerima dengan ikhlas,” katanya.
Ia juga menyebut anak sekolah mendapat keringanan tarif. Menurut Yakob, ia memberikan diskon sehingga mereka cukup membayar Rp2.000.
Cerita tersebut memperlihatkan sisi lain pekerjaan jukir. Mereka tidak hanya mengatur kendaraan, tetapi juga berhadapan langsung dengan kondisi pengunjung yang beragam.
Ketika Satu Angka Menyeret Semua Jukir
Informasi tarif Rp100.000 bergerak cepat melalui media sosial. Namun, persepsi publik bisa bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.
Kondisi itu berpotensi menyeret jukir lain yang mengaku mengikuti aturan karcis. Yakob sendiri menegaskan jukir resmi dengan KTA tidak berani menarik tarif di luar nominal tersebut.
Karena itu, publik perlu membedakan kasus yang viral dengan praktik jukir lain di kawasan Masjid Zayed.
Di sisi lain, pengelola juga perlu memberi penjelasan terbuka. Pengunjung membutuhkan kepastian tarif. Jukir membutuhkan aturan yang jelas. Pengelola membutuhkan sistem pengawasan yang konsisten.
Ini Bukan Sekadar Soal Rp100 Ribu
Polemik parkir akhirnya bukan cuma soal angka Rp100.000. Persoalan utamanya menyentuh kepercayaan.
Jika tarif pada karcis berbeda dengan tarif yang pengunjung temui, publik tentu bertanya. Sebaliknya, jika satu kasus menyeret seluruh jukir, pekerja yang mengikuti aturan juga bisa ikut terdampak.
Ini bukan sekadar persoalan tarif. Ini soal siapa yang menetapkan aturan, siapa yang menarik pembayaran, dan siapa yang mengawasi pelaksanaannya.
Sebab, karcis seharusnya menjadi rujukan paling sederhana bagi pengunjung dan jukir. Ketika rujukan itu menimbulkan kebingungan, pengelola perlu segera memberi kepastian.
Pada akhirnya, publik tidak hanya membutuhkan angka tarif. Mereka membutuhkan aturan yang jelas dan transparansi di lapangan. @eko








