Tabooo.id: Nasional – Kasus dugaan kekerasan seksual oleh penulis berinisial PS kini viral di media sosial, dan memantik sebuah pertanyaan, bagaimana belajar yang seharusnya jadi ruang aman, justru jadi titik awal trauma?
Dugaan Kekerasan Seksual oleh PS Viral di X
Seorang penulis berinisial PS tengah menjadi sorotan publik setelah diduga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang perempuan. Dugaan ini mencuat setelah akun X milik korban membagikan kronologi panjang yang kemudian viral dan memicu diskusi luas.
Pada akun X @tmptmengeluhku, korban mengaku awalnya menghubungi PS pada 28 Maret 2025 untuk belajar menulis. Pertemuan pertama disebut berlangsung di sebuah kafe, di mana interaksi awal masih terlihat normal. Namun, menurut pengakuan korban, situasi perlahan berubah.
Kronologi: Dari Relasi Belajar ke Dugaan Manipulasi
Dalam kronologi yang dibagikan, korban menggambarkan pola yang disebutnya sebagai proses bertahap.
Pada tahap awal, korban mengaku mendapatkan pujian, perhatian, serta pertanyaan-pertanyaan yang semakin personal. PS juga disebut mulai membangun kedekatan emosional dengan membayangkan skenario hubungan di masa depan.
Memasuki tahap berikutnya, korban menyebut adanya upaya manipulasi emosional. PS diceritakan sering membagikan kisah sedih tentang kehidupan pribadinya untuk memancing empati.
Situasi kemudian berkembang menjadi lebih intens. Korban mengaku diajak ke rumah PS, diminta menginap, dan mengalami tekanan situasi yang membuatnya sulit menolak.
Dalam kronologi lanjutan, korban menyebut adanya tindakan yang mengarah pada pelecehan hingga dugaan pemaksaan hubungan seksual, disertai tekanan psikologis.
Pola Relasi Kuasa Jadi Sorotan
Kasus ini memunculkan isu yang lebih luas, yakni relasi kuasa antara mentor dan murid. Dalam hubungan semacam ini, posisi yang tidak setara sering kali membuat korban kesulitan menolak atau keluar dari situasi yang tidak nyaman.
Korban juga mengaku mengalami, tekanan emosional (guilt trip), isolasi sosial, hingga body shaming dan kontrol perilaku. Semua ini menunjukkan bahwa dugaan kekerasan tidak selalu terjadi secara tiba-tiba, tapi bisa melalui proses panjang.
Respons Penerbit & Dukungan Korban
Penerbit Buku Mojok, yang pernah bekerja sama dengan PS, menyatakan permintaan maaf kepada publik. Mereka menegaskan telah menghentikan kerja sama sejak 2022 dan tidak lagi mendistribusikan karya terkait.
“Kami mengecam segala bentuk kekerasan seksual, serta praktik seksis dan misoginis yang dilakukan pelaku kepada korban. Oleh karena itu, Buku Mojok mendorong upaya penanganan kasus agar korban segera mendapatkan keadilan,” tulis mereka, Kamis (26/3/2026).
Sementara itu, korban menyatakan masih berupaya mencari keadilan dan berharap kasus ini diproses sesuai UU TPKS No. 12 Tahun 2022.
Realita yang Lebih Dekat dari yang Dikira
Ini bukan cuma soal satu kasus viral, melainkan tentang realita yang mungkin lebih dekat dari yang kita kira.
Kalau kamu pernah berada dalam relasi belajar, kerja, atau mentorship, Ingat bahwa batas profesional itu penting. Ketika komunikasi mulai terlalu personal, ada tekanan emosional, atau muncul rasa tidak nyaman tapi sulit menolak… Itu bukan hal sepele. Itu adalah sinyal.
Namun, kasus ini masih berupa dugaan berdasarkan pengakuan korban di media sosial. Belum ada putusan hukum yang menetapkan PS bersalah. Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku, dan proses hukum menjadi penentu akhir.
Di balik dunia literasi yang terlihat intelektual dan aman, ternyata realitanya tetap ada ruang gelap yang jarang dibicarakan.
Dan mungkin, yang paling tabu bukan kasusnya, tapi kenyataan bahwa ini bisa terjadi di mana saja.
Lalu pertanyaannya, kita sudah cukup sadar… atau masih menganggap ini “hal biasa”? @tabooo



