Tabooo.id: Regional – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) meningkatkan kewaspadaan menjelang Ramadhan 2026. Pemerintah menilai lonjakan permintaan pangan berpotensi memicu kenaikan harga jika pasokan tidak bergerak seiring kebutuhan. Kondisi ini terutama mengancam komoditas strategis yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
Sejak Februari 2026, pemerintah daerah bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI turun langsung ke lapangan. Mereka rutin memantau Pasar Besar dan Pasar Kahayan di Kota Palangka Raya. Pemantauan ini menjadi langkah awal menghadapi rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), mulai dari Imlek, Ramadhan, hingga Idulfitri.
Empat Belas Komoditas dalam Radar Pengawasan
Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas RI, Sri Nuryanti, menyebut tim gabungan memeriksa langsung 14 komoditas pangan strategis. Daftar tersebut mencakup beras, jagung, kedelai, minyak goreng, gula, daging ayam, daging sapi, telur, daging kerbau, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, cabai merah keriting, dan cabai merah besar.
Sri menegaskan, komoditas itu memiliki pola yang sama setiap tahun. Permintaan hampir selalu melonjak menjelang dan selama HBKN. Saat pasokan tidak mengikuti laju konsumsi, harga pun mudah bergejolak.
“Permintaannya naik signifikan pada momen keagamaan. Karena itu, kami terus mengawasi pergerakan harganya,” ujar Sri saat meninjau pasar di Palangka Raya, Selasa (10/2/2026).
Stabilitas Harga Jadi Taruhan Daya Beli Warga
Sri menjelaskan bahwa pengawasan tidak berhenti pada ketersediaan barang. Pemerintah juga memeriksa mutu dan keamanan pangan yang beredar. Selain itu, aparat mengantisipasi potensi penimbunan dan permainan harga di tingkat distribusi.
“Kami menjaga stabilitas harga, memastikan kualitas pangan, dan mencegah praktik spekulatif yang merugikan masyarakat,” tegasnya.
Langkah ini menjadi krusial karena gejolak harga paling cepat dirasakan kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Kenaikan kecil pada bahan pokok dapat langsung menekan daya beli rumah tangga, terutama selama Ramadhan ketika pengeluaran cenderung meningkat.
Stok Aman, Tapi Cabai Mulai ‘Memanas’
Dari sisi pasokan, Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, memastikan kondisi stok relatif aman. Ia menyebut persediaan pangan cukup untuk empat hingga enam bulan ke depan, termasuk selama dan setelah Ramadhan 2026.
Ia juga memastikan pedagang besar masih memiliki stok beras medium yang memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga bulan puasa.
Namun, Yuas mencatat tekanan mulai muncul pada komoditas tertentu. Harga cabai rawit dan cabai merah terus merangkak naik dan kini berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram.
“Kami perlu mengantisipasi kondisi ini agar tidak memicu inflasi daerah,” ujarnya.
Pasar Murah Disiapkan, Warga Diimbau Belanja Bijak
Untuk merespons kenaikan harga, Pemprov Kalteng melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menyiapkan pasar murah dan pasar penyeimbang. Pemerintah berharap skema ini mampu menahan laju harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Di saat yang sama, pemerintah meminta warga tidak melakukan aksi borong. Panic buying, menurut Yuas, justru memperparah tekanan di pasar.
“Kami mengajak masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan agar distribusi tetap merata,” tambahnya.
Fluktuasi Awal Ramadhan Dinilai Masih Wajar
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalteng, Agus Candra, menegaskan pihaknya terus mengawasi peredaran pangan segar. Ia memastikan koordinasi lintas instansi berjalan, terutama untuk komoditas yang bergantung pada pasokan dari luar pulau.
“Kami memastikan suplai tetap lancar dan stok tersedia di seluruh wilayah Kalteng,” ujar Agus.
Ia mengakui harga beberapa komoditas biasanya naik di awal Ramadhan. Namun, ia menilai pola tersebut masih wajar dan cenderung mereda setelah pekan pertama puasa.
“Pengalaman menunjukkan harga kembali stabil setelah Ramadhan berjalan sekitar satu minggu,” tambahnya.
Menjaga Harga, Menjaga Ketenteraman
Meski optimistis situasi terkendali, Pemprov Kalteng tetap menyiapkan langkah antisipatif hingga Idulfitri. Pemerintah ingin memastikan kenaikan harga tidak melonjak tajam dan tetap berada dalam batas wajar.
Pada akhirnya, stabilitas pangan bukan sekadar soal stok di gudang atau angka di papan harga. Ia menyangkut ketenangan masyarakat saat menjalani Ramadhan. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, tantangan terbesar sering kali bukan pada ketersediaan barang, melainkan pada cara pasar dan masyarakat menyikapi lonjakan permintaan. @dimas




