Tabooo.id: Regional – Rekaman video yang memperlihatkan seorang pria mengacungkan parang sambil mendekap anak perempuan di atas perahu menggegerkan jagat media sosial. Peristiwa itu terjadi di perairan Pulau Mubut, Kecamatan Galang, Kota Batam, dan sempat memicu kepanikan warga karena terlihat seperti aksi penyanderaan.
Dalam video yang beredar, pria tersebut berdiri di atas perahu kecil sambil memeluk anaknya. Ia mengangkat parang ke udara, sementara suara teriakan terdengar dari perahu lain di sekitarnya. Warga mencoba memperingatkan dan menenangkan situasi, tetapi respons pria itu justru semakin agresif.
Ketegangan meningkat ketika sejumlah warga berusaha melakukan penyelamatan. Mereka mendekatkan perahu dan melemparkan tali untuk mengevakuasi sang anak. Namun, pria itu langsung bereaksi. Ia mengayunkan parang dan memotong tali yang dilemparkan, seolah menolak setiap upaya pertolongan.

Situasi yang kian genting akhirnya memaksa sang anak mengambil keputusan nekat. Ia melompat ke laut dan berenang menjauh dari perahu ayahnya. Warga segera bergerak cepat, menariknya ke perahu lain dan menyelamatkannya. Anak tersebut selamat, meski mengalami syok berat.
Polisi Bantah Penyanderaan, Soroti Dugaan Gangguan Mental
Kanit Reskrim Polsek Galang, Iptu Asmir, membenarkan kejadian tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa peristiwa itu bukan aksi penyanderaan maupun tindak asusila.
“Tidak ada pencabulan. Itu anak kandungnya. Ayahnya diduga mengalami gangguan atau seperti kerasukan sehingga bertindak tidak terkendali,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa parang yang dibawa pria tersebut tidak digunakan untuk melukai korban. Pria itu hanya memotong tali yang dilempar warga saat proses evakuasi.
Berdasarkan keterangan korban, sang ayah tiba-tiba berubah sikap saat perjalanan laut dari Pulau Karas menuju Rempang Cate. Perubahan itu terjadi tanpa tanda-tanda sebelumnya, sehingga mengejutkan anaknya.
Dampak Nyata di Lapangan: Warga dan Keluarga Jadi Korban
Peristiwa ini tidak hanya menyisakan trauma bagi korban, tetapi juga mengguncang warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Di wilayah kepulauan seperti Galang, akses terhadap layanan kesehatan terutama kesehatan mental masih terbatas.
Kondisi ini membuat penanganan situasi darurat seperti ini sangat bergantung pada inisiatif warga sekitar. Risiko pun meningkat, baik bagi korban maupun orang-orang yang mencoba menolong.
Di sisi lain, keluarga menjadi pihak yang paling terdampak. Anak yang menjadi korban harus menghadapi pengalaman traumatis, sementara sang ayah kini berada dalam penanganan aparat.
Situasi Terkendali, Tapi Pertanyaan Tersisa
Polisi memastikan kondisi keduanya sudah aman dan situasi telah terkendali. Namun, insiden ini meninggalkan pertanyaan yang lebih besar: seberapa siap sistem kita menangani gangguan mental di ruang publik?
Di tengah keterbatasan layanan dan minimnya deteksi dini, kasus seperti ini berpotensi terulang dengan risiko yang mungkin lebih fatal.
Di laut yang seharusnya menjadi jalur kehidupan warga pesisir, kejadian ini justru memperlihatkan sisi lain bahwa ancaman tak selalu datang dari luar, kadang justru muncul dari orang terdekat dan sistem yang belum siap menghadapinya. @dimas



