Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pegawai SPPG Olok-olok Korban MBG, Empati Jadi Sorotan

by dimas
September 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Pegawai SPPG olok-olok korban MBG hingga menuai sorotan. BGN menegur SPPG dan menekankan pentingnya empati dalam pelayanan.

Tabooo.id – Ada yang sedang menghadapi dugaan gangguan kesehatan. Ada pula yang justru memilih membuat candaan.

Potongan video salah satu pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), viral di media sosial. Pegawai tersebut diduga mengolok-olok penerima manfaat yang mengalami dugaan keracunan setelah menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Badan Gizi Nasional (BGN) DIY langsung merespons persoalan tersebut.

Koordinator Regional BGN DIY Wirandita Gagat Widyatmoko mengatakan pegawai itu menjabat sebagai pengawas keuangan. BGN juga menegur SPPG dan pegawai yang bersangkutan.

“Kami juga sudah memberikan teguran kepada SPPG dan yang bersangkutan,” kata Gagat, Sabtu.

Ini Belum Selesai

Dijanjikan Kerja, WNI Justru Direkrut ke Medan Perang Rusia

Tujuh Polisi Dimutasi Usai Ungkap Kasus Narkoba Anggota DPRD

Menurut Gagat, setiap persoalan terkait keamanan pangan harus mendapat perhatian serius. Apalagi jika persoalan itu berdampak kepada penerima manfaat.

“Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak,” ujarnya.

Ketika Candaan Salah Tempat

Gagat meminta seluruh jajaran SPPG mengutamakan empati dan rasa kemanusiaan. Ia juga mengingatkan agar kejadian seperti ini tidak berubah menjadi bahan candaan.

Masalahnya, persoalan tersebut tidak berhenti pada satu komentar.

Ketika masyarakat menghadapi dugaan gangguan kesehatan, respons penyelenggara ikut menentukan kepercayaan publik. Apalagi MBG menyentuh kelompok penerima manfaat dalam jumlah besar.

Karena itu, Gagat meminta seluruh jajaran memahami posisi masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.

“Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,” ujarnya.

Di titik ini, persoalannya menjadi lebih besar.

Bukan cuma soal komentar.

Ini soal bagaimana penyelenggara program publik menghadapi keluhan masyarakat.

Fakta Tetap Harus Jadi Pegangan

BGN juga meminta jajarannya tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab sebuah kejadian.

Gagat menekankan pentingnya penggunaan istilah seperti “dugaan”, “indikasi”, atau “informasi awal” sampai proses verifikasi selesai.

“Kita harus bisa membedakan antara memberikan klarifikasi, memberikan pendapat, dan memberikan penilaian terhadap suatu kejadian,” katanya.

Menurut dia, komentar yang tidak sensitif justru dapat memperbesar persoalan.

Karena itu, setiap personel SPPG perlu memahami batas antara komunikasi dan penghakiman.

Satu kalimat di media sosial bisa menyebar jauh melampaui ruang tempat kalimat itu muncul.

Dan ketika publik sedang mempertanyakan keamanan pangan, setiap komentar ikut membawa nama program.

MBG Bukan Cuma Soal Makanan

BGN mengingatkan seluruh jajaran, mulai dari koordinator wilayah hingga personel SPPG, untuk menjaga etika komunikasi.

Pengawas gizi dan pengawas keuangan juga masuk dalam jajaran yang mendapat perhatian.

Pesannya jelas.

Pelayanan publik tidak berhenti ketika makanan sampai ke penerima.

Pelayanan juga mencakup cara petugas merespons masalah.

Di ruang digital, persoalan itu menjadi semakin sensitif.

Satu unggahan bisa berubah menjadi percakapan publik. Potongan video bisa memicu kemarahan. Candaan yang terasa biasa bagi pembuatnya bisa terasa menyakitkan bagi orang yang menjadi sasaran.

Karena itu, komunikasi bukan urusan tambahan.

Komunikasi merupakan bagian dari pelayanan.

Ini Bukan Sekadar Soal Satu Pegawai

Kasus ini bermula dari perilaku seorang pegawai SPPG.

Namun, pertanyaan yang lebih besar muncul di belakangnya.

Seberapa siap budaya kerja penyelenggara MBG menghadapi keluhan masyarakat?

Sebab, SOP keamanan pangan tidak hanya menyangkut makanan. Tata kelola juga membutuhkan standar perilaku ketika masalah muncul.

Penyelenggara perlu memastikan dua hal berjalan bersama.

Pertama, mereka harus memeriksa fakta.

Kedua, mereka harus menjaga martabat masyarakat.

Dua hal itu tidak saling bertentangan.

Justru keduanya harus berjalan bersamaan.

Masyarakat tidak meminta penyelenggara langsung mengakui kesalahan sebelum pemeriksaan selesai.

Namun, masyarakat juga tidak seharusnya menerima olok-olok ketika menghadapi dugaan masalah kesehatan.

Empati tidak membutuhkan hasil laboratorium.

Dampaknya Buat Kamu

MBG bukan program yang berdiri jauh dari kehidupan masyarakat.

Anak sekolah, keluarga, tenaga pendidikan, dan penerima manfaat berhadapan langsung dengan program tersebut.

Karena itu, setiap dugaan masalah keamanan pangan menyangkut kepercayaan publik.

Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas. Mereka juga membutuhkan penanganan yang serius.

Pada saat yang sama, mereka membutuhkan komunikasi yang menghormati posisi mereka.

BGN meminta setiap kejadian menjadi bahan pembelajaran.

Lembaga itu juga mendorong perbaikan pelayanan dan penguatan pencegahan.

“Kita bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari jaga bukan hanya kualitas makanan yang kita berikan, tetapi juga cara kita memperlakukan dan berkomunikasi dengan masyarakat,” kata Gagat.

Kalimat itu membawa persoalan kembali ke titik paling sederhana.

Program publik bukan hanya tentang apa yang diberikan.

Program publik juga tentang bagaimana penyelenggara memperlakukan orang yang menerima.

Ini bukan sekadar kejadian viral. Ini ujian kecil bagi budaya pelayanan.

Ketika masyarakat sedang menghadapi dugaan masalah kesehatan, mereka tidak membutuhkan punchline.

Mereka membutuhkan kepastian, penanganan, dan empati. @dimas

Tags: BGNEmpati PelayananKeamanan PanganMBGSPPG

Kamu Melewatkan Ini

Aliansi BEM Solo Raya Kritik Prioritas MBG, Aksi Demo Memanas saat Ban Dibakar

Aliansi BEM Solo Raya Kritik Prioritas MBG, Aksi Demo Memanas saat Ban Dibakar

by teguh
Oktober 21, 2026

Selasa (20/10/2026), Aliansi BEM Solo Raya mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran di Monumen Solo. Mahasiswa mengkritik prioritas MBG, menyoroti pendidikan...

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

by eko
Oktober 18, 2026

Survei SMRC mencatat kepuasan publik terhadap Prabowo turun menjadi 44,5 persen. Harga sembako, ekonomi, penegakan hukum, dan program pemerintah menjadi...

Polemik Motor Listrik MBG: 21.801 di Dokumen, 2.117 Terealisasi

Polemik Motor Listrik MBG: 21.801 di Dokumen, 2.117 Terealisasi

by dimas
Oktober 4, 2026

Polemik pengadaan motor listrik MBG mencuat setelah 21.801 unit tercatat dalam dokumen, sementara realisasi hingga Maret 2026 baru mencapai 2.117...

Next Post
Menanti Keamanan di Papua, Warga Sipil Terus Dibayangi Kekerasan

Menanti Keamanan di Papua, Warga Sipil Terus Dibayangi Kekerasan

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id