Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

PB XIV Serahkan Nawala Kekancingan ke Takmir Masjid Agung Solo

by dimas
Januari 2, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Susuhunan Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan (SISKS) Pakoe Boewono XIV melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Solo, Jumat (2/1/2026). Usai ibadah, PB XIV langsung menyerahkan Nawala Kekancingan, surat keputusan resmi Kraton, kepada Takmir Masjid Agung Solo, Muhtarom.

Prosesi tersebut berlangsung khidmat dan sarat makna simbolik. Dalam kesempatan yang sama, PB XIV hadir bersama Pengageng Parentah Kraton Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Panembahan Dipokusumo. Kehadiran keduanya sekaligus menegaskan kuatnya relasi historis antara Kraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung Solo.

Masjid Agung dan Keraton Tak Terpisahkan

PB XIV menegaskan bahwa Masjid Agung Solo memiliki keterikatan historis dan struktural yang kuat dengan Kraton Kasunanan Surakarta. Karena itu, ia menilai penyerahan Nawala Kekancingan sebagai langkah wajar yang berangkat dari niat baik Kraton.

“Masjid Agung adalah bagian dari Kraton Kasunanan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh sebab itu, pemberian Nawala ini tidak keliru,” ujar PB XIV di Masjid Agung Solo.

Lebih lanjut, PB XIV menjelaskan bahwa Muhtarom selama ini menjalankan tugas sebagai pengelola masjid. Dengan adanya Nawala Kekancingan, Kraton ingin memperjelas peran dan tanggung jawab takmir secara kelembagaan.

Ini Belum Selesai

Relawan Gugur Antar Bantuan Gempa NTT, Siapa Melindungi Mereka?

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

Penegasan Peran dan Tanggung Jawab Takmir

Melalui Nawala Kekancingan, PB XIV berharap takmir Masjid Agung dapat menjalankan tugas secara lebih terarah. Secara khusus, ia menekankan pentingnya peran takmir dalam menjaga, merawat, dan mengelola masjid sebagai simbol spiritual Kraton Surakarta.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung juga berstatus sebagai kagungan dalem yang menyimpan nilai sejarah dan religius tinggi. Dengan kejelasan peran, PB XIV meyakini pengelolaan masjid akan berjalan lebih tertib dan berkelanjutan.

Sinyal Pembenahan Fisik Masjid

Di sisi lain, PB XIV turut menyoroti kondisi fisik bangunan Masjid Agung Solo. Ia mengingatkan bahwa Kraton telah melakukan renovasi pada periode sebelumnya. Namun demikian, Kraton tetap membuka peluang pembenahan lanjutan bila kebutuhan itu muncul.

“Masjid Agung sudah sempat direnovasi. Jika masih ada kekurangan, Kraton bisa membenahinya kembali di waktu mendatang,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan perhatian Kraton terhadap kelayakan Masjid Agung sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat Solo.

Substansi Nawala Kekancingan

Sementara itu, Wakil Pengageng Sasana Wilapa Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KRMT Pustoko Ningrat, memaparkan isi Nawala Kekancingan. Ia menyebut surat tersebut memuat prinsip-prinsip utama yang harus dijalankan oleh takmir Masjid Agung.

Pertama, Nawala Kekancingan menegaskan kesetiaan kepada Kraton Surakarta Hadiningrat, Susuhunan yang sedang jumeneng, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya, Kraton menekankan kewajiban takmir untuk melayani umat sekaligus menjaga tata cara peribadatan di Masjid Agung Kraton Solo.

Tak hanya itu, Nawala tersebut juga menggarisbawahi pentingnya menjaga manhaj atau tradisi keagamaan Kraton Surakarta. Tradisi ini telah hidup ratusan tahun, sejak era Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, hingga Surakarta saat ini.

Peran Raja sebagai Sayidin Panatagama

Pustoko Ningrat menegaskan bahwa penyerahan Nawala Kekancingan mencerminkan peran PB XIV sebagai Sayidin Panatagama. Dalam posisi tersebut, raja bertanggung jawab menjaga tatanan keagamaan di lingkungan Kraton.

Menurutnya, langkah PB XIV bukan hal baru. Sebaliknya, tindakan ini melanjutkan tradisi para raja sebelumnya. Seorang raja yang jumeneng, kata dia, memiliki kewajiban menetapkan dan menegaskan paugeran yang harus dijalankan oleh takmir Masjid Kraton Surakarta Hadiningrat.

Pada akhirnya, di tengah dinamika zaman, langkah ini kembali menegaskan satu pesan penting urusan ibadah, tradisi, dan otoritas simbolik Keraton masih saling terkait dan Masjid Agung tetap berdiri di titik temu ketiganya. @dimas

Tags: BudayaIslamJawaNusantaraPB XIV

Kamu Melewatkan Ini

Tradisi Harus Dipercaya atau Cukup Dilestarikan?

Tradisi Harus Dipercaya atau Cukup Dilestarikan?

by eko
Agustus 20, 2026

Haruskah generasi muda percaya semua mitos di balik tradisi? Sekaten menunjukkan budaya tetap hidup meski cara pandang berubah. Tabooo.id -...

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

by eko
Agustus 20, 2026

Tradisi nginang kembali hadir di Sekaten Solo. Dari sirih hingga beberangen, kebiasaan lama ini menjaga jejak budaya lintas generasi. Tabooo.id...

Gugatan Nama Pakubuwana XIV Tak Diterima, Gusti Moeng Siapkan Banding

Gugatan Nama Pakubuwana XIV Tak Diterima, Gusti Moeng Siapkan Banding

by Tabooo
Agustus 3, 2026

PN Solo menyatakan gugatan Gusti Moeng terkait perubahan nama KGPH Purboyo menjadi Sri Susuhunan Pakubuwana XIV tidak dapat diterima. Pihak...

Next Post
Bareskrim Bongkar Jaringan Judi Online Internasional

Bareskrim Bongkar Jaringan Judi Online Internasional

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id