Tabooo.id: Global – Islamabad berada dalam status siaga tinggi menjelang perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah Pakistan langsung membatasi mobilitas warga di ibu kota.
Selain itu, aparat menurunkan sekitar 10.000 personel gabungan polisi dan militer. Mereka menyebar di titik-titik strategis untuk memperketat pengawasan. Di samping itu, otoritas menutup sejumlah akses jalan utama agar pergerakan lebih terkendali.
Lebih lanjut, beberapa wilayah menerapkan pembatasan penggunaan perangkat elektronik. Kebijakan ini muncul sebagai langkah antisipasi terhadap potensi ancaman berbasis teknologi.
Perundingan AS-Iran Dimulai di Tengah Situasi Sensitif
Sementara itu, perundingan dijadwalkan berlangsung pada Jumat (10/4/2026) malam waktu Islamabad. Delegasi Amerika Serikat akan dipimpin Wakil Presiden JD Vance.
Di sisi lain, JD Vance mengambil peran aktif dalam diplomasi ini. Ia menjalin komunikasi dengan sejumlah pejabat, termasuk dari Pakistan, untuk memastikan proses berjalan stabil.
Selain itu, mantan Presiden Donald Trump turut menjadi bagian dari dinamika kebijakan. Ia sempat mempertimbangkan opsi militer, namun kemudian membatalkan rencana tersebut.
Perbedaan Usulan Perkuat Ketegangan Negosiasi
Di satu sisi, Amerika Serikat mengajukan proposal 15 poin. Usulan itu menekankan pembatasan program nuklir Iran dan penghentian pengayaan uranium.
Di sisi lain, Iran membawa 10 poin balasan. Teheran menuntut jaminan non-agresi dan pengakuan hak pengayaan uranium. Selain itu, Iran juga meminta penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar.
Dengan demikian, kedua pihak masih mempertahankan posisi yang saling bertolak belakang. Akibatnya, proses negosiasi diperkirakan berlangsung panjang dan penuh tekanan.
Konflik Lebanon Tambah Kompleks Situasi Diplomasi
Sementara itu, eskalasi di Lebanon ikut memengaruhi suasana perundingan. Serangan Israel di wilayah tersebut memperburuk ketegangan kawasan.
Israel dan kelompok Hizbullah kembali terlibat dalam rangkaian serangan balasan. Akibatnya, ratusan korban jiwa dilaporkan dalam konflik terbaru ini.
Di tengah situasi itu, Iran menilai gencatan senjata hanya bisa tercapai jika semua pihak menghentikan eskalasi militer secara menyeluruh.
Pengamat Nilai Negosiasi Berisiko Tinggi
Di sisi analisis, sejumlah pengamat menilai keterlibatan JD Vance sebagai langkah strategis. Jonathan Schanzer dari Foundation for Defense of Democracies menyebut negosiasi ini sebagai salah satu yang paling sensitif dalam beberapa tahun terakhir.
Namun demikian, ia menilai Vance menghadapi tantangan besar karena minim pengalaman dalam diplomasi tingkat tinggi.
Selain itu, Profesor Joel Goldstein dari Universitas Saint Louis menilai keterlibatan wakil presiden dalam negosiasi bukan hal baru. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kasus ini termasuk salah satu yang paling kompleks dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat modern. @dimas







