Oepik Itam menjadi salah satu propagandis kiri paling berpengaruh di Sumatra Barat. Suaranya membuat Belanda gelisah, penjara tak mampu membungkamnya, tetapi sejarah nyaris melupakannya.
Tabooo.id – Siang itu, ratusan orang memadati Nagari Bungo Tanjung, Sumatra Barat. Mereka datang bukan untuk pesta adat atau perayaan keagamaan. Sebaliknya, mereka berkumpul untuk menyuarakan kemarahan.
Di tengah ketegangan politik yang menyelimuti Sumatra Barat pada akhir 1926, satu nama terus bergema dari mulut ke mulut: Oepik Itam.
Nama itu nyaris hilang dari buku sejarah Indonesia. Tidak ada patung yang mengenangnya. Tidak ada jalan besar yang memakai namanya. Bahkan, banyak orang tidak pernah mendengar kisahnya.
Padahal, hampir seabad lalu, pemerintah kolonial Belanda menganggap perempuan muda dari Nagari Pitalah itu sebagai ancaman serius.
Ironisnya, Oepik Itam tidak memimpin pasukan bersenjata. Ia juga tidak mengangkat senapan atau memimpin perang terbuka. Namun, ia memiliki sesuatu yang sering lebih ditakuti penguasa daripada peluru: kemampuan menggerakkan pikiran manusia.
Lahir dari Tanah yang Sedang Bergolak
Oepik Itam lahir di Nagari Pitalah, Tanah Datar, sekitar tahun 1905. Masa kecilnya berlangsung ketika kolonialisme semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Di satu sisi, pemerintah Belanda memperkuat kontrol politik dan ekonomi. Di sisi lain, rakyat menghadapi tekanan pajak, ketimpangan sosial, dan keterbatasan ruang politik.
Pendidikan kemudian membuka jalan bagi Oepik Itam. Setelah menempuh pendidikan di Volkschool Pitalah, ia melanjutkan belajar di Sumatra Thawalib Gunung. Di lingkungan inilah berbagai gagasan pembaruan, nasionalisme, dan perlawanan mulai beredar luas.
Selain itu, surat kabar pergerakan ikut membentuk cara pandangnya. Ia membaca berbagai tulisan yang mengkritik ketidakadilan kolonial. Dari sana, kesadaran politiknya tumbuh semakin kuat.
Di kampung halamannya sendiri, sejumlah tokoh Sarekat Rakyat aktif menyebarkan gagasan anti-kolonial. Karena itu, banyak sejarawan meyakini bahwa lingkungan sosial tersebut turut memengaruhi arah perjuangannya.
Tidak lama kemudian, Oepik Itam bergabung dengan gerakan kiri yang berkembang di Sumatra Barat.
Ketika Perempuan Memilih Melawan
Sejak terlibat dalam pergerakan rakyat, Oepik Itam berubah menjadi salah satu propagandis perempuan paling menonjol pada zamannya.
Ia berbicara di hadapan massa.
Ia mengkritik kapitalisme kolonial.
Ia mengecam kebijakan pajak yang membebani rakyat kecil.
Lebih jauh lagi, ia secara terbuka menyerang para penghulu yang dianggap terlalu dekat dengan pemerintah Belanda.
Sikap itu tentu memicu kontroversi.
Banyak elite adat merasa tersinggung. Sebagian pejabat kolonial pun mulai memperhatikannya. Sementara itu, rakyat miskin justru melihatnya sebagai suara yang mewakili keresahan mereka.
Di sinilah konflik mulai mengeras.
Kolonialisme tidak hanya menghadapi perlawanan politik. Penguasa juga berhadapan dengan seorang perempuan muda yang berani menantang tatanan yang selama ini dianggap tidak boleh diganggu.
Ramadhan yang Berakhir dengan Darah
Pada 20 Maret 1926, kerusuhan pecah di Kota Padang.
Sekelompok orang yang menamakan diri Sarekat Djihin bergerak melawan aparat kolonial. Sebagian anggota kelompok itu merupakan mantan bandit yang mengaku telah bertobat dan mendalami agama.
Menurut pemerintah Belanda, mereka adalah penjahat.
Namun bagi sebagian rakyat kecil, mereka justru dianggap pelindung.
Benturan pun tidak terhindarkan.
Ketika aparat melepaskan tembakan, keyakinan tentang ilmu kebal runtuh seketika. Lima orang tewas. Puluhan lainnya ditangkap.
Setelah itu, pemerintah kolonial bergerak lebih agresif. Aparat memburu siapa pun yang dianggap menyebarkan semangat perlawanan. Dalam situasi itulah nama Oepik Itam masuk daftar target pengawasan.
Meskipun tidak terbukti memimpin aksi bersenjata, pemerintah kolonial menganggap pidato dan aktivitas politiknya ikut membakar semangat rakyat.
Bagi Belanda, gagasan berbahaya sering kali lebih sulit dikendalikan daripada senjata.
Penjara untuk Membungkam Pengaruh
Tak lama kemudian, aparat menangkap Oepik Itam dengan tuduhan melanggar larangan rapat politik atau vergader verbod.
Namun perkara itu tampaknya jauh lebih besar daripada sekadar pelanggaran administratif.
Kolonialisme sebenarnya sedang berusaha menghentikan pengaruh yang terus berkembang.
Selain tekanan dari pemerintah, sejumlah tokoh adat juga melaporkannya karena kritik-kritiknya yang keras. Akibatnya, aparat memindahkannya dari Padang ke Fort van der Capellen di Batusangkar.
Alih-alih meredam gejolak, pemindahan tersebut justru memicu kemarahan baru.
Kabar penahanannya menyebar ke berbagai nagari.
Dari mulut ke mulut, rakyat mulai mempertanyakan alasan di balik penangkapan itu.
Ketika 300 Orang Menuntut Kebebasan
November 1926 menjadi momen yang tidak biasa.
Sekitar 300 anggota Internationale Padvinders Organisatie (IPO) berkumpul di Bungo Tanjung. Mereka datang dari berbagai wilayah seperti Pitalah, Batipuh, Gunung Rajo, dan daerah sekitarnya.
Massa tidak datang untuk merayakan sesuatu.
Sebaliknya, mereka menuntut pembebasan Oepik Itam dan Boestami.
Tuntutan itu membuat aparat kolonial gelisah.
Karena khawatir aksi berkembang menjadi demonstrasi besar, pasukan veldpolitie dan marechaussee segera membubarkan kerumunan. Aparat lalu menangkap sejumlah pemimpin aksi.
Meski demikian, pesan politiknya sudah telanjur tersebar.
Perempuan yang dipenjara itu ternyata memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan pemerintah kolonial.
Delapan Tahun untuk Sebuah Keyakinan
Pada Februari 1927, Landraad Sawahlunto menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara kepada Oepik Itam.
Vonis itu terasa berat.
Namun bagi rezim kolonial, hukuman sering kali berfungsi sebagai alat pengendalian politik.
Sesudah putusan tersebut, aparat memindahkannya dari satu penjara ke penjara lain. Ia menjalani masa tahanan di Padang, Tapanuli, Bengkulu, Jambi, Indragiri, hingga Bengkalis.
Perpindahan itu menunjukkan satu kenyataan penting.
Pemerintah kolonial tidak sekadar ingin menghukumnya.
Mereka ingin memutus pengaruhnya, mereka ingin mengisolasinya dari masyarakat, mereka ingin memastikan gagasan yang dibawanya tidak terus menyebar.
Namun sejarah sering bergerak dengan cara yang ironis.
Semakin keras sebuah kekuasaan berusaha membungkam seseorang, semakin jelas pula ketakutan yang tersembunyi di balik tindakan itu.
Bebas, Tetapi Tidak Benar-Benar Merdeka
Setelah menyelesaikan masa hukumannya, Oepik Itam memilih tinggal di Medan.
Tidak ada sambutan meriah yang menunggunya, tidak ada penghargaan negara, tidak ada kemewahan hidup.
Sebaliknya, ia menghadapi kenyataan pahit. Bersama ibunya yang telah renta dan anak laki-lakinya yang masih kecil, ia berjuang melawan kemiskinan.
Karena prihatin dengan kondisinya, sejumlah kawan lama membentuk komite bantuan untuk mengumpulkan dana.
Namun waktu terus berjalan.
Perhatian publik perlahan memudar.
Sementara itu, sejarah bergerak tanpa banyak menoleh ke belakang.
Sejarah Memilih Siapa yang Layak Diingat
Kisah Oepik Itam sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang seorang aktivis perempuan yang dipenjara kolonial.
Lebih dari itu, kisah ini memperlihatkan bagaimana sejarah bekerja.
Sebagian tokoh mendapat ruang besar dalam ingatan kolektif bangsa. Sebagian lainnya tenggelam dalam catatan kaki yang jarang dibaca.
Padahal, pada usia sekitar dua puluh tahun, Oepik Itam telah menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam gerakan anti-kolonial Sumatra Barat.
Namun kemudian, namanya perlahan menghilang.
Pertanyaannya sederhana: mengapa?
Apakah karena ia seorang perempuan?
Apakah karena ia berasal dari gerakan kiri?
Ataukah karena sejarah lebih sering ditulis oleh mereka yang menang?
Apa pun jawabannya, satu fakta tetap berdiri.
Kolonialisme pernah takut kepada Oepik Itam.
Bukan karena ia membawa senjata.
Bukan karena ia memimpin pasukan.
Melainkan karena ia berani berbicara ketika banyak orang memilih diam.
Dan mungkin, hingga hari ini, keberanian semacam itulah yang masih paling ditakuti oleh setiap kekuasaan. @dimas




