Nurisa Raih Emas di Asian Games 2026, sekaligus mencetak sejarah sebagai emas pertama panahan Indonesia sejak cabang ini dipertandingkan pada 1978.
Tabooo.id: Jepang – Dua poin menjadi jarak tipis antara kemenangan dan kekalahan. Di tangan Nurisa Dian Ashrifah, dua poin itu berubah menjadi sejarah baru panahan Indonesia di Asian Games 2026.
Nurisa merebut emas nomor Compound Women Individual setelah mengalahkan wakil Filipina, Amaya Amparo Cojuangco, dengan skor 139-137 di Okazaki Chuo Sogo Park Multipurpose, Aichi.
Pertandingan berjalan ketat sejak awal. Angin turut menguji konsistensi kedua pemanah, sementara setiap anak panah membawa tekanan yang semakin besar menuju akhir pertandingan.
Pertarungan Dimulai dari Angka yang Sama
Nurisa membuka final dengan 28 poin. Amaya mengumpulkan angka yang sama.
Belum ada jarak di antara keduanya. Setiap tembakan berikutnya menjadi kesempatan untuk menciptakan keunggulan.
Pada end kedua, Nurisa mencetak 27 poin. Amaya membukukan 26 poin.
Satu poin membuat Nurisa mulai mengambil kendali.
Namun final belum menjadi milik Indonesia.
Keunggulan Tipis yang Terus Bergeser
Kedua pemanah kembali menunjukkan konsistensi pada end ketiga.
Nurisa dan Amaya sama-sama mencatat 29 poin. Tidak ada perubahan jarak, tetapi tekanan terus meningkat.
Situasi berubah pada end keempat.
Nurisa memperoleh 26 poin. Amaya justru mencatat 27 poin dan memperkecil ketertinggalannya.
Pertandingan memasuki titik paling menentukan.
Selisih kecil membuat satu kesalahan pada tembakan terakhir dapat mengubah seluruh hasil final.
Dua Poin Terakhir Mengunci Emas
Nurisa menjawab tekanan pada end penentuan.
Ia mengumpulkan 29 poin. Amaya hanya mencatat 27 poin.
Skor akhir berhenti pada 139-137.
Dua poin.
Selisih yang terlihat sederhana itu membawa Nurisa melewati garis kemenangan sekaligus membuka sejarah baru bagi Indonesia.
Emas Pertama Setelah Penantian Panjang
Panahan Indonesia sebelumnya belum pernah meraih emas Asian Games sejak cabang tersebut resmi dipertandingkan pada 1978.
Prestasi terbaik Indonesia selama periode tersebut berupa medali perak pada 1982, 1994, dan 2018.
Nurisa mengubah catatan itu di Aichi-Nagoya.
Emas tersebut menjadi medali emas Asian Games pertama Indonesia dari cabang panahan.
Bagi Nurisa, kemenangan itu bukan hanya tentang mengalahkan satu lawan. Ia menempatkan namanya dalam halaman baru sejarah olahraga Indonesia.
Ketenangan Menjadi Pembeda
Pertandingan final menunjukkan betapa tipis jarak antara keberhasilan dan kegagalan dalam panahan.
Ketika skor terus berdekatan, kemampuan menjaga konsentrasi menjadi sama pentingnya dengan ketepatan teknik.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai ketenangan Nurisa menjadi salah satu kunci keberhasilannya di final.
“Ketenangan Nurisa menjadi salah satu kunci keberhasilannya.” ujarnya.
Kemenangan tersebut kemudian tidak hanya dipandang sebagai pencapaian hari ini. Hasil Asian Games juga menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi agenda yang lebih panjang.
Erick mengarahkan hasil tersebut sebagai bagian dari evaluasi menuju SEA Games 2027 dan Olimpiade Los Angeles 2028.
Dengan begitu, emas Aichi-Nagoya bukan garis akhir. Medali tersebut justru menjadi ukuran baru bagi perjalanan panahan Indonesia.
Perjalanan Menuju Aichi Bukan Tanpa Bekal
Emas Asian Games tersebut juga tidak berdiri sendiri.
Sebelum tampil di Aichi-Nagoya, Nurisa telah mencatat hasil positif pada Singapore Archery Open. Ia meraih emas nomor individu compound setelah mengalahkan sesama wakil Indonesia, Yurike Nina Bonita Pereira, dengan skor 146-142.
Rangkaian pertandingan itu menjadi bagian dari perjalanan menuju panggung Asian Games.
Di Aichi, tantangannya berubah. Lawan semakin kuat, tekanan semakin besar, dan kondisi pertandingan menuntut konsentrasi sampai anak panah terakhir.
Nurisa mampu melewati semuanya dengan selisih dua poin.
Satu Emas Mengubah Target Indonesia
Kemenangan Nurisa sekaligus menjadi emas kelima Indonesia di Asian Games 2026.
Torehan tersebut membuat Indonesia melewati target awal empat medali emas.
Namun pencapaian itu juga menghadirkan ukuran baru.
Setelah emas pertama panahan akhirnya datang, pekerjaan berikutnya bukan sekadar merayakannya. Konsistensi menjadi tantangan berikutnya.
Asian Games 2026 memberikan bukti bahwa panahan Indonesia mampu mencapai puncak podium. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan standar tersebut pada kompetisi berikutnya.
Sejarah Sudah Ditulis, Tantangan Baru Menunggu
Panahan merupakan olahraga yang tidak memberi banyak ruang bagi kesalahan.
Atlet berdiri dalam tekanan, menarik busur, menjaga bidikan, lalu melepaskan anak panah. Setelah itu, angka menentukan segalanya.
Nurisa berhasil menjaga proses tersebut sampai tembakan terakhir.
Satu final menghasilkan satu emas. Namun maknanya jauh lebih panjang.
Kemenangan 139-137 itu mengakhiri penantian emas panahan Indonesia di Asian Games sekaligus membuka standar baru bagi generasi berikutnya.
Nurisa telah menuntaskan pertandingannya.
Kini sejarah tersebut menjadi pijakan untuk perjalanan yang lebih panjang dari satu emas menuju konsistensi prestasi panahan Indonesia di level Asia dan dunia. @dimas








