Selasa, April 28, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Negara Ini Butuh Pekerja, Bukan Pemikir

by Tabooo
April 26, 2026
in Commissioner’s Note
A A
Home Commissioner’s Note
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh: KPA Hari Andri Winarso Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)

Tabooo.id: Commissioner’s Note – Bangsa ini… Negara ini butuh pekerja, bukan pemikir! Ini bukan sekadar opini emosional. Tapi konstruksi.

Kalau pola yang sama terus muncul di mana-mana, pendidikan, ekonomi, budaya kerja, itu bukan kebetulan. Ada yang mendesainnya seperti itu. Sejarah membuka jalannya. Kebijakan menguncinya. Dan kita sendiri yang terus menjalankannya.

Masalahnya, kita hidup di dalamnya terlalu lama sampai tidak sadar.

Kita Tidak Pernah Didesain untuk Berpikir

Masalahnya, banyak orang masih percaya sekolah adalah tempat lahirnya pemikir. Itu mitos lama yang nyaman.

Sejak era kolonial, pemerintah Hindia Belanda sengaja membentuk sistem pendidikan untuk melayani kekuasaan, bukan untuk melahirkan manusia yang berpikir.

Ini Belum Selesai

Idul Fitri: Kita Kembali ke Diri, atau Sekadar Kembali ke Tradisi?

Nyepi: Kita Tidak Takut Sepi, Kita Takut Diri Sendiri

Sistem seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS) hanya membuka akses terbatas bagi elite, dengan tujuan utama mencetak tenaga birokrasi rendah yang patuh terhadap struktur kolonial.

Sementara itu, sistem menahan mayoritas rakyat di pendidikan dasar supaya mereka tetap jadi bagian dari ekonomi agraris. Akibatnya, mereka tidak punya kemampuan berpikir kritis untuk melawan struktur yang menindas.

Akibatnya, sistem tidak pernah menggunakan pendidikan untuk membebaskan. Sistem memakainya untuk membagi peran—dan yang paling banyak diciptakan adalah pekerja.

Orde Baru: Mesin Kepatuhan Diresmikan

Setelah merdeka, kita punya kesempatan mengubah arah. Tapi yang terjadi justru konsolidasi.

Di era Orde Baru (1966–1998), negara memakai pendidikan sebagai alat untuk menjaga stabilitas dan menggerakkan ekonomi. Sistem ini membentuk manusia yang patuh, terukur, dan siap bekerja di dalam mesin pembangunan, tanpa banyak bertanya.

Negara menyamakan cara belajar semua orang, biar cara berpikirnya ikut sama. Pendekatan seperti Management by Objective dalam Kurikulum 1975 menekankan hasil administratif yang terukur, bukan proses berpikir kritis.

Indoktrinasi melalui mata pelajaran seperti PMP dan PSPB mempersempit ruang diskusi sejarah dan ideologi, sehingga siswa terbiasa menerima narasi tunggal tanpa ruang kritik.

Sekolah berubah fungsi, dari ruang belajar menjadi ruang kepatuhan.

Dan generasi yang lahir dari sistem ini belajar satu hal penting, bahwa aman lebih penting daripada benar.

Hari Ini: Sistemnya Lebih Halus, Tapi Lebih Dalam

Masuk era modern, bahasa berubah. Pendekatannya pun berubah. Tapi arahnya? Tetap sama.

Sejak 1990-an, pemerintah mendorong konsep “link and match” agar sekolah mengikuti kebutuhan industri, bukan membentuk cara berpikir. Secara ekonomi terlihat rasional, mengurangi pengangguran, meningkatkan relevansi lulusan.

Tapi secara filosofis, ini adalah reduksi besar.

Sistem mengubah pendidikan jadi jalur produksi tenaga kerja. Sekolah melatih siswa untuk siap kerja, bukan siap berpikir.

Ironinya, data menunjukkan meningkatnya pengangguran dari lulusan pendidikan menengah dan tinggi.

Artinya, sebenarnya sistem ini gagal menjamin pekerjaan, tapi berhasil membentuk mentalitas pekerja.

Data Tidak Pernah Berbohong

Kalau kita ingin jujur, cukup lihat data global.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi matematika Indonesia berada di angka 366, jauh di bawah rata-rata OECD 472.

Dalam domain membaca, Indonesia hanya mencapai 359, sementara rata-rata OECD 476.

Ini bukan sekadar angka rendah.

Ini indikator kegagalan sistem dalam membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills).

Sistem tidak butuh kamu berpikir. Sistem hanya butuh kamu menjawab dengan cepat, tepat, dan diam.

Negara Lain Bangun Ide. Kita Bangun Tenaga

Perbedaan arah ini makin terlihat dalam investasi riset.

Indonesia hanya mengalokasikan sekitar 0,23%–0,28% dari PDB untuk R&D, sementara negara seperti Korea Selatan berada di atas 4% dan Jepang di atas 3%.

Apa artinya?

Negara lain membeli masa depan dengan ide. Sedangkan kita bertahan dengan tenaga.

Rendahnya investasi riset membuat Indonesia berada dalam posisi sebagai technology adopter, bukan technology creator.

Akibatnya, inovasi minim. Produktivitas stagnan. Ketergantungan meningkat.

Sistem ini mengunci negara di middle-income trap. Cukup hidup, tapi tidak pernah naik.

Ekspor Terbesar Kita: Manusia

Struktur ini tercermin jelas dalam data pekerja migran.

Menurut BP2MI, pada Agustus 2024, 57,39% pekerja migran Indonesia ditempatkan di sektor informal.

Artinya mayoritas tenaga kerja kita dikirim sebagai pekerja domestik, buruh perkebunan, atau pekerjaan dengan keterampilan rendah.

Ini bukan sekadar pilihan individu, tapi sebuah konsekuensi sistemik.

Ketika pendidikan tidak membentuk keahlian tinggi, dan ekonomi domestik tidak mampu menyerap tenaga kerja, maka solusi yang diambil adalah ekspor tenaga.

Bukan ekspor ide.

Masalahnya Bukan Sistem Saja

Kalau cuma sistem, mungkin bisa disalahkan sepenuhnya. Tapi ini sudah masuk ke dalam karakter sosial.

Mochtar Lubis pernah menggambarkan manusia Indonesia memiliki kecenderungan munafik, takut bertanggung jawab, dan nyaman dalam pola “Asal Bapak Senang.”

Dalam konteks modern, ini terlihat dalam budaya kerja, yaitu menghindari risiko, menghindari konflik, dan lebih memilih aman daripada benar.

Sistem tidak menciptakan karakter ini dari nol. Tapi sistem memperkuatnya. Dan lama-lama… jadi normal.

Kita Tidak Kekurangan Otak. Kita Kekurangan Izin untuk Menggunakannya

Berpikir itu tidak netral. Berpikir itu berbahaya. Karena berpikir berarti mempertanyakan struktur yang ada. Dan dalam sistem yang bergantung pada stabilitas, pertanyaan adalah gangguan.

Maka cara paling efektif bukan melarang berpikir secara langsung. Tapi, dengan mengalihkan perhatian, menguras energi, dan membuat orang terlalu sibuk untuk refleksi.

Kerja menjadi pusat hidup. Produktivitas jadi ukuran nilai. Kesadaran jadi tidak relevan.

Ke Mana Arah Kita?

Selama pendidikan tetap berorientasi pada produksi tenaga kerja, dan investasi riset tetap minim, Indonesia akan terus berada dalam posisi sebagai pendukung, bukan penggerak.

Kita akan terus bekerja untuk sistem global, bukan membentuknya. Dan generasi muda akan terus diajarkan cara bertahan, bukan bagaimana menciptakan.

Negara ini tidak kekurangan orang pintar, tapi yang kurang adalah ruang untuk berpikir, dan keberanian untuk melakukannya.

Masalahnya bukan kita tidak mampu menjadi bangsa pemikir. Masalahnya adalah kita terlalu lama dilatih menjadi pekerja, dan terlalu nyaman untuk keluar dari peran itu.

Dan selama itu tidak disadari, sistem ini tidak akan pernah terlihat sebagai masalah. @tabooo

Tags: Commissioner’s Note

Kamu Melewatkan Ini

Idul Fitri: Kita Kembali ke Diri, atau Sekadar Kembali ke Tradisi?

Idul Fitri: Kita Kembali ke Diri, atau Sekadar Kembali ke Tradisi?

by Tabooo
Maret 20, 2026

Oleh: KPA Hari Andri Winarso Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia) Tabooo.id: Commissioner’s Note – Idul Fitri selalu datang dengan janji yang...

Nyepi: Kita Tidak Takut Sepi, Kita Takut Diri Sendiri

Nyepi: Kita Tidak Takut Sepi, Kita Takut Diri Sendiri

by Tabooo
Maret 19, 2026

Oleh: KPA Hari Andri Winarso Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia) Tabooo.id: Commissioner’s Note - Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian,...

Next Post
Dawet Bayat dan Rahasia Manis yang Tidak Dimiliki Minuman Lain

Dawet Bayat dan Rahasia Manis yang Tidak Dimiliki Minuman Lain

Pilihan Tabooo

Dari Layar ke Realita: Film”Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

April 22, 2026

Realita Hari Ini

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

April 27, 2026

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

April 27, 2026

Prabowo Dikabarkan Rombak Kabinet Hari Ini, Siapa Kehilangan Kursi?

April 27, 2026

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

April 27, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id