Monumen Panularan Solo menyimpan sejarah perundingan Indonesia-Belanda 1949. Kini, kondisinya terlihat kusam dan kurang terawat.
Tabooo.id – Sebuah rumah tua berdiri di tengah aktivitas Kota Solo. Dari luar, bangunan ini mungkin terlihat biasa saja.
Namun, Monumen Panularan menyimpan cerita besar. Tempat ini pernah menjadi lokasi perundingan gencatan senjata Indonesia dan Belanda pada 3 Agustus 1949.
Kini, kondisi bangunan tersebut justru memprihatinkan.
Tempat Slamet Riyadi Berunding dengan Belanda
Monumen Panularan berada di Jalan Bhayangkara, sisi timur selatan perempatan Baron.
Menurut data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bangunan ini dulu menjadi rumah Suryohadinagoro. Pada 3 Agustus 1949, pihak Indonesia dan Belanda memakai rumah tersebut untuk perundingan Case Fire.
Letkol Slamet Riyadi memimpin delegasi Indonesia. Sementara itu, Kolonel Van Ohl mewakili pihak Belanda.
Pertemuan itu memiliki latar sejarah yang panjang. Sebelumnya, pasukan Indonesia dan Belanda terlibat pertempuran sengit di Solo selama empat hari.
Pertempuran tersebut terjadi setelah Agresi Militer II Belanda. Karena itu, perundingan di Panularan menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan Indonesia di Solo.
Dari Tempat Bersejarah Menjadi Bangunan Kusam
Kini, suasana Monumen Panularan jauh berbeda.
Bangunannya terlihat kusam. Beberapa bagian juga menunjukkan tanda pelapukan.
Halaman sekitar pun tampak kotor. Rumput liar tumbuh di sejumlah bagian.
Beberapa pagar di sekitar kawasan juga tertutup seng. Kondisi itu membuat akses visual menuju bangunan semakin terbatas.
Ironisnya, tempat ini menyimpan sejarah penting Kota Solo.
Pemerintah Kota Surakarta bahkan menetapkan Monumen Panularan sebagai cagar budaya melalui SK Wali Kota Nomor 646/116/I/1997.
Jadi, bangunan ini bukan sekadar rumah tua.
Ia menyimpan jejak peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.
Cerita Warga Masih Hidup
Syarifudin, warga sekitar, masih mengingat cerita tentang bangunan tersebut.
Menurut dia, masyarakat mengenal Panularan sebagai tempat Slamet Riyadi melakukan perundingan.
“Yang saya tahu tempat ini dulunya dipakai untuk berunding Letkol Slamet Riyadi,” ujar Syarifudin saat ditemui Tabooo.id, Sabtu (12/9/2026).
Namun, ia juga mendengar cerita lain tentang lokasi tersebut.
“Dulu juga ada isu katanya Jenderal Slamet Riyadi meninggal di situ. Tapi saya juga tidak tahu. Itu dari cerita yang berkembang,” tuturnya.
Cerita itu perlu kita tempatkan sebagai kabar yang belum terverifikasi.
Data resmi Cagar Budaya menjelaskan peran Panularan sebagai lokasi perundingan. Namun, data tersebut tidak menyebut Slamet Riyadi meninggal di bangunan itu.
Karena itu, pembaca perlu membedakan sejarah yang memiliki sumber dengan cerita yang berkembang dari mulut ke mulut.
Sejarah Tidak Cukup Hanya Jadi Papan Nama
Monumen Panularan menunjukkan persoalan yang lebih besar.
Sebuah kota tidak hanya memiliki jalan, gedung, dan pusat keramaian. Kota juga memiliki ingatan.
Ingatan itu melekat pada bangunan, monumen, makam, hingga ruang tempat sebuah peristiwa terjadi.
Masalahnya, ingatan bisa hilang ketika ruang fisiknya terus terabaikan.
Generasi muda mungkin melewati Panularan tanpa pernah tahu apa yang terjadi di sana.
Padahal, tempat itu pernah menjadi titik pertemuan dua pihak yang sedang berkonflik.
Ini Bukan Sekadar Bangunan Tua
Monumen Panularan bukan sekadar rumah tua di sudut Kota Solo.
Tempat ini menyimpan cerita tentang perang, perundingan, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Kini, bangunannya justru menghadapi persoalan lain: perawatan dan perhatian.
Inilah ironi yang sulit diabaikan.
Kita sering bangga dengan sejarah ketika sejarah sudah menjadi destinasi wisata. Namun, kita kadang lupa merawat tempat yang menyimpan sejarah sebelum tempat itu benar-benar hilang.
Monumen Panularan mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam museum megah.
Kadang, sejarah berdiri di pinggir jalan.
Orang melewatinya setiap hari.
Lalu pertanyaannya sederhana: berapa banyak warga Solo yang masih tahu cerita di balik bangunan itu?
Sebab ketika bangunan mulai lapuk dan ingatan mulai pudar, sebuah kota bukan hanya kehilangan tempat.
Kota juga bisa kehilangan sebagian ceritanya. @eko








