Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mitos atau Fakta? Menkes Ungkap Risiko Kombinasi Sate dan Durian

by teguh
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Lifestyle
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Food – Pernah nggak sih kamu habis makan sate kambing lima tusuk, lanjut gulai, lalu ditutup dengan dua pongge durian sambil bilang, “YOLO aja, hidup cuma sekali”? Habis itu dada terasa penuh, kepala agak berat, tapi kamu tetap santai karena merasa semua itu cuma mitos.

Eh, tapi tunggu dulu. Isu soal makan durian setelah sate kambing yang bisa bikin stroke mendadak kembali ramai setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat suara. Ia bilang, anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

“Bukan berarti sekali makan langsung stroke saat itu juga, tapi kombinasi keduanya itu memang ‘bom’ bagi tubuh,” ujarnya lewat akun Instagram pribadinya.

Kedengarannya dramatis? Mungkin. Tapi penjelasannya cukup masuk akal.

Sate, Gulai, Durian: Trio Tinggi Lemak dan Gula

Budi menjelaskan bahwa sate dan gulai kambing mengandung lemak jenuh serta garam yang cukup tinggi. Bumbu kacang, kuah gulai, dan potongan daging berlemak menyumbang asupan yang tidak kecil. Di sisi lain, durian juga punya kandungan lemak dan gula yang tinggi.

Ini Belum Selesai

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

Kalau kamu gabungkan semuanya dalam satu waktu makan, tubuh langsung bekerja ekstra keras. Tekanan darah bisa naik. Gula darah melonjak. Sistem metabolisme dipaksa memproses lemak, gula, dan garam dalam jumlah besar sekaligus.

Ia menekankan bahwa stroke tidak terjadi seketika hanya karena satu kali makan. Namun pola konsumsi seperti ini, jika sering kamu lakukan, bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang. Jadi, bukan soal “langsung tumbang di tempat”, tapi soal akumulasi kebiasaan.

Kenapa Kita Suka “Kalap” Sekaligus?

Sekarang coba jujur. Kenapa sih banyak orang suka makan berat plus dessert ekstrem dalam satu waktu?

Pertama, faktor budaya. Di banyak momen dari kondangan sampai kumpul keluarga makanan berlemak dan manis jadi simbol kebahagiaan. Kita mengasosiasikan makan enak dengan reward.

Kedua, faktor psikologis. Banyak Gen Z dan milenial menghadapi stres kerja, tekanan sosial, dan tuntutan produktivitas. Makanan sering jadi coping mechanism. Kita bilang “self-reward”, padahal kadang itu bentuk pelarian.

Ketiga, efek FOMO kuliner. Ketika musim durian datang, timeline penuh review. Ketika ada sate viral, semua orang antre. Akhirnya kita ingin mencoba semuanya dalam satu waktu. Kita takut ketinggalan momen.

Padahal tubuh kita tidak ikut FOMO. Tubuh cuma tahu satu hal: beban kerja bertambah.

Antara Mitos dan Realita Kesehatan

Sering kali masyarakat membungkus pesan kesehatan dalam bentuk mitos supaya terdengar lebih menyeramkan. “Makan ini langsung stroke.” “Minum itu langsung jantung berhenti.” Padahal tubuh manusia tidak bekerja seinstan itu. Namun, mitos biasanya punya akar logis.

Dalam kasus sate kambing dan durian, logikanya jelas. Lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol. Garam berlebih bisa memicu tekanan darah tinggi. Gula tinggi memengaruhi kadar glukosa darah. Jika kamu menggabungkan semuanya, risiko metabolik meningkat.

Budi sendiri tidak melarang masyarakat menikmati makanan tersebut. Ia justru memberi tips realistis. Kamu bisa makan sate atau gulai secukupnya. Kurangi kuah dan bumbu berlemak. Kontrol porsi. Setelah itu, pilih buah segar yang tinggi air dan rendah gula seperti semangka.

“Duriannya disimpan buat besok saja. Jangan ditumpuk hari ini semua,” sarannya.

Pendekatan ini terasa lebih membumi. Ia tidak menghakimi. Ia mengajak masyarakat lebih bijak.

Gaya Hidup Modern dan Ilusi “Masih Muda”

Banyak anak muda merasa aman karena usia masih 20–30-an. Kita sering berpikir, “Ah, kolesterol itu urusan nanti.” Padahal gaya hidup sekarang kurang gerak, banyak duduk, sering pesan makanan cepat saji sudah membentuk fondasi risiko sejak dini.

Masalahnya, penyakit metabolik tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan. Ia mengikuti pola makan, pola tidur, dan tingkat stres kita.

Ketika kita mengabaikan sinyal kecil seperti badan cepat lelah, lingkar perut bertambah, atau tekanan darah mulai naik kita sebenarnya sedang menabung risiko.

Makan sate dan durian bukan dosa. Tapi kalau kamu menjadikannya rutinitas tanpa kontrol, kamu sedang memberi tubuh pekerjaan lembur tanpa istirahat.

Apa Dampaknya Buat Kamu?

Sekarang coba refleksi. Apakah kamu makan karena lapar, atau karena ingin pelarian? Apakah kamu menikmati makanan dengan sadar, atau sekadar ikut arus?

Kamu tidak perlu hidup ekstrem dengan diet super ketat. Kamu juga tidak harus menolak durian selamanya. Namun kamu perlu sadar bahwa setiap pilihan punya konsekuensi.

Kalau kamu ingin tetap bisa menikmati sate kambing dan durian tanpa rasa bersalah, atur porsinya. Pisahkan momennya. Seimbangkan dengan olahraga dan konsumsi buah serta sayur. Jadikan makanan sebagai bagian dari gaya hidup sehat, bukan pelampiasan stres.

Tubuh kamu bukan mesin yang bisa reset setiap minggu. Ia bekerja 24 jam tanpa libur.

Jadi lain kali saat kamu tergoda menumpuk sate, gulai, dan durian dalam satu malam, coba tanya diri sendiri ini benar-benar nikmat, atau cuma impuls sesaat?

Karena hidup memang cuma sekali. Tapi kualitas hidup, itu pilihan setiap hari. @teguh

Tags: BudayaFomoGen ZInstagramKulinerLemakMilenialOlah Raga

Kamu Melewatkan Ini

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Dulu Outfit Buat Pamer, Sekarang Buat Apa?

Dulu Outfit Buat Pamer, Sekarang Buat Apa?

by Naysa
Mei 9, 2026

Dulu orang membeli outfit buat pamer di depan orang lain. Supaya terlihat keren. Sekarang, banyak orang membeli pakaian untuk merasa...

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

by Naysa
Mei 8, 2026

Dulu, fashion cuma soal terlihat keren. Sekarang, itu sudah tidak cukup. Tahun 2026 mengubah semuanya, baju bukan lagi sekadar gaya,...

Next Post
Muslim Pro Telkomsel: Saat Teknologi Jadi Teman Ibadah

Muslim Pro Telkomsel: Saat Teknologi Jadi Teman Ibadah

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id