• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 28, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Mitos atau Fakta? Menkes Ungkap Risiko Kombinasi Sate dan Durian

Februari 15, 2026
in Food
A A
Mitos atau Fakta? Menkes Ungkap Risiko Kombinasi Sate dan Durian

Ilustrasi: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin buka suara terkait konsumsi durian setelah menyantap sate kambing yang bisa membuat stroke mendadak. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Food – Pernah nggak sih kamu habis makan sate kambing lima tusuk, lanjut gulai, lalu ditutup dengan dua pongge durian sambil bilang, “YOLO aja, hidup cuma sekali”? Habis itu dada terasa penuh, kepala agak berat, tapi kamu tetap santai karena merasa semua itu cuma mitos.

Eh, tapi tunggu dulu. Isu soal makan durian setelah sate kambing yang bisa bikin stroke mendadak kembali ramai setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat suara. Ia bilang, anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

“Bukan berarti sekali makan langsung stroke saat itu juga, tapi kombinasi keduanya itu memang ‘bom’ bagi tubuh,” ujarnya lewat akun Instagram pribadinya.

Kedengarannya dramatis? Mungkin. Tapi penjelasannya cukup masuk akal.

Sate, Gulai, Durian: Trio Tinggi Lemak dan Gula

Budi menjelaskan bahwa sate dan gulai kambing mengandung lemak jenuh serta garam yang cukup tinggi. Bumbu kacang, kuah gulai, dan potongan daging berlemak menyumbang asupan yang tidak kecil. Di sisi lain, durian juga punya kandungan lemak dan gula yang tinggi.

Kalau kamu gabungkan semuanya dalam satu waktu makan, tubuh langsung bekerja ekstra keras. Tekanan darah bisa naik. Gula darah melonjak. Sistem metabolisme dipaksa memproses lemak, gula, dan garam dalam jumlah besar sekaligus.

Ia menekankan bahwa stroke tidak terjadi seketika hanya karena satu kali makan. Namun pola konsumsi seperti ini, jika sering kamu lakukan, bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang. Jadi, bukan soal “langsung tumbang di tempat”, tapi soal akumulasi kebiasaan.

Kenapa Kita Suka “Kalap” Sekaligus?

Sekarang coba jujur. Kenapa sih banyak orang suka makan berat plus dessert ekstrem dalam satu waktu?

Pertama, faktor budaya. Di banyak momen dari kondangan sampai kumpul keluarga makanan berlemak dan manis jadi simbol kebahagiaan. Kita mengasosiasikan makan enak dengan reward.

Kedua, faktor psikologis. Banyak Gen Z dan milenial menghadapi stres kerja, tekanan sosial, dan tuntutan produktivitas. Makanan sering jadi coping mechanism. Kita bilang “self-reward”, padahal kadang itu bentuk pelarian.

Ketiga, efek FOMO kuliner. Ketika musim durian datang, timeline penuh review. Ketika ada sate viral, semua orang antre. Akhirnya kita ingin mencoba semuanya dalam satu waktu. Kita takut ketinggalan momen.

Padahal tubuh kita tidak ikut FOMO. Tubuh cuma tahu satu hal: beban kerja bertambah.

Antara Mitos dan Realita Kesehatan

Sering kali masyarakat membungkus pesan kesehatan dalam bentuk mitos supaya terdengar lebih menyeramkan. “Makan ini langsung stroke.” “Minum itu langsung jantung berhenti.” Padahal tubuh manusia tidak bekerja seinstan itu. Namun, mitos biasanya punya akar logis.

Dalam kasus sate kambing dan durian, logikanya jelas. Lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol. Garam berlebih bisa memicu tekanan darah tinggi. Gula tinggi memengaruhi kadar glukosa darah. Jika kamu menggabungkan semuanya, risiko metabolik meningkat.

Budi sendiri tidak melarang masyarakat menikmati makanan tersebut. Ia justru memberi tips realistis. Kamu bisa makan sate atau gulai secukupnya. Kurangi kuah dan bumbu berlemak. Kontrol porsi. Setelah itu, pilih buah segar yang tinggi air dan rendah gula seperti semangka.

“Duriannya disimpan buat besok saja. Jangan ditumpuk hari ini semua,” sarannya.

Pendekatan ini terasa lebih membumi. Ia tidak menghakimi. Ia mengajak masyarakat lebih bijak.

RelatedPosts

Lorjuk: Kerang Kecil dari Pulau Madura yang Diam-Diam Jadi Harta Kuliner

Lebaran dan Rasa Nusantara: Cerita Budaya di Balik Hidangan Hari Raya

Gaya Hidup Modern dan Ilusi “Masih Muda”

Banyak anak muda merasa aman karena usia masih 20–30-an. Kita sering berpikir, “Ah, kolesterol itu urusan nanti.” Padahal gaya hidup sekarang kurang gerak, banyak duduk, sering pesan makanan cepat saji sudah membentuk fondasi risiko sejak dini.

Masalahnya, penyakit metabolik tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan. Ia mengikuti pola makan, pola tidur, dan tingkat stres kita.

Ketika kita mengabaikan sinyal kecil seperti badan cepat lelah, lingkar perut bertambah, atau tekanan darah mulai naik kita sebenarnya sedang menabung risiko.

Makan sate dan durian bukan dosa. Tapi kalau kamu menjadikannya rutinitas tanpa kontrol, kamu sedang memberi tubuh pekerjaan lembur tanpa istirahat.

Apa Dampaknya Buat Kamu?

Sekarang coba refleksi. Apakah kamu makan karena lapar, atau karena ingin pelarian? Apakah kamu menikmati makanan dengan sadar, atau sekadar ikut arus?

Kamu tidak perlu hidup ekstrem dengan diet super ketat. Kamu juga tidak harus menolak durian selamanya. Namun kamu perlu sadar bahwa setiap pilihan punya konsekuensi.

Kalau kamu ingin tetap bisa menikmati sate kambing dan durian tanpa rasa bersalah, atur porsinya. Pisahkan momennya. Seimbangkan dengan olahraga dan konsumsi buah serta sayur. Jadikan makanan sebagai bagian dari gaya hidup sehat, bukan pelampiasan stres.

Tubuh kamu bukan mesin yang bisa reset setiap minggu. Ia bekerja 24 jam tanpa libur.

Jadi lain kali saat kamu tergoda menumpuk sate, gulai, dan durian dalam satu malam, coba tanya diri sendiri ini benar-benar nikmat, atau cuma impuls sesaat?

Karena hidup memang cuma sekali. Tapi kualitas hidup, itu pilihan setiap hari. @teguh

Tags: BudayaBumbu KacangCoping MechanismDurianFomoGaramGen ZGula Darah 'InstagramKambingKolesterolKulinerLemakMenteri KesehatanMilenialOlah RagaSateStroke
Next Post
Muslim Pro Telkomsel: Saat Teknologi Jadi Teman Ibadah

Muslim Pro Telkomsel: Saat Teknologi Jadi Teman Ibadah

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AI Kuasai Musik, Cuan Lari ke Mana?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Internet Bisa Mati Gara-Gara Iran? Cek Faktanya!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Terlalu kuat atau Saint kitts yang lemah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cantik Itu Luka: Ketika Kecantikan Jadi Kutukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.