Tabooo.id: Nasional – Proyek Mini Zoo di Kabupaten Purworejo awalnya dijanjikan sebagai ruang hiburan dan edukasi bagi warga. Pemerintah daerah mendorong proyek ini sebagai destinasi baru untuk menggerakkan ekonomi lokal. Namun harapan itu kini runtuh secara fisik dan hukum.
Kejaksaan Negeri Purworejo menetapkan tiga orang sebagai tersangka dan langsung menahan mereka. Penahanan berlangsung selama 20 hari, mulai 30 Maret hingga 18 April 2026. Langkah ini membuka babak baru dalam kasus proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
Tiga Nama, Satu Pola
Kepala Kejaksaan Negeri Purworejo, Widi Trismono, menyebut tiga tersangka yang terlibat. AP menjalankan peran sebagai Kuasa Pengguna Anggaran sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen. H memimpin kontraktor pelaksana dari CV Setia Budi Jaya Perkasa. WH mengawasi proyek sebagai konsultan dari PT Darmasraya Mitra Amerta.
Ketiganya menjalankan peran berbeda, tetapi menghasilkan satu pola yang sama: proyek berjalan tidak sesuai rencana, sementara anggaran tetap mengalir penuh.
Anggaran Besar, Kerugian Nyata
Kasus ini bermula dari proyek pembangunan Mini Zoo tahun anggaran 2023 senilai Rp 9,69 miliar. Namun hasil audit menunjukkan kerugian negara mencapai Rp 6,53 miliar.
Angka tersebut bukan sekadar data. Ia menunjukkan besarnya dana publik yang hilang dana yang seharusnya bisa memperbaiki layanan dasar seperti jalan, pendidikan, atau kesehatan.
Selain itu, pihak terkait tetap mencairkan pembayaran hingga 100 persen. Mereka melakukannya meskipun pekerjaan belum selesai dan tidak memenuhi spesifikasi teknis.
Bangunan Berdiri, Tapi Gagal Fungsi
Kondisi fisik proyek memperlihatkan masalah yang nyata. Sejumlah bagian bangunan sudah runtuh. Bahkan, pekerja tidak membangun pondasi di beberapa titik yang seharusnya menjadi struktur utama.
Fakta ini menunjukkan kelalaian serius dalam pelaksanaan proyek. Bangunan yang seharusnya menjadi ruang publik justru berubah menjadi potensi bahaya.
Karena itu, masalah ini tidak lagi sekadar administratif. Ia langsung menyentuh keselamatan masyarakat.
Pengawasan Melemah, Penyimpangan Menguat
Konsultan pengawas seharusnya memastikan proyek berjalan sesuai rencana. Namun dalam kasus ini, fungsi pengawasan tidak berjalan optimal.
Akibatnya, pelaksana proyek mengerjakan konstruksi tanpa mengikuti spesifikasi. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan, sementara pihak terkait tetap mencairkan dana. Penyimpangan pun terus membesar tanpa koreksi.
Kejaksaan telah memeriksa puluhan saksi dan terus mengembangkan kasus ini. Penyidik juga membuka peluang menetapkan tersangka tambahan jika menemukan bukti baru.
Dampak Nyata bagi Warga
Masyarakat Purworejo merasakan dampak langsung dari kasus ini. Warga kehilangan fasilitas publik yang dijanjikan. Pelaku usaha kecil kehilangan potensi pengunjung. Anak-anak kehilangan ruang rekreasi yang aman.
Lebih jauh lagi, kepercayaan publik ikut menurun. Setiap proyek bermasalah memperkuat kecurigaan bahwa pembangunan sering menyimpang dari kepentingan masyarakat.
Upaya Mengembalikan Kerugian
Kejaksaan terus mendorong pengembalian kerugian negara. Namun hingga kini, para tersangka belum mengembalikan dana tersebut.
Proses pemulihan ini membutuhkan waktu dan komitmen kuat. Tanpa itu, kerugian negara berpotensi sulit dipulihkan secara utuh.
Antara Janji dan Kenyataan
Kasus Mini Zoo Purworejo memperlihatkan pola lama perencanaan besar, pelaksanaan lemah, dan pengawasan yang gagal.
Pemerintah menjanjikan pembangunan untuk publik. Namun yang muncul justru bangunan rapuh dan proses hukum panjang.
Pada akhirnya, publik berhak bertanya berapa banyak proyek lain yang tampak selesai di atas kertas, tetapi sebenarnya bermasalah di lapangan? @dimas



