Tabooo.id: Talk – Materialisme Tan Malaka adalah cara berpikir yang melihat realita berdasarkan materi dan sebab-akibat nyata, bukan kepercayaan atau asumsi.
Tan Malaka mengajak kamu untuk membongkar cara melihat realita. Kamu yakin selama ini kamu benar-benar melihat dunia apa adanya? Atau kamu cuma melihat dunia dari apa yang kamu ingin percaya?
Pertanyaan ini bukan sekadar pembuka, melainkan pintu masuk ke cara berpikir yang ditawarkan oleh Tan Malaka dalam Madilog. Dia tidak mengajak kamu jadi pintar. Dia memaksa kamu jujur.
Realita Tidak Peduli Apa yang Kamu Percaya
Tan Malaka memulai dari satu posisi yang keras, bahwa realita berdiri sendiri, terlepas dari kepercayaan manusia. Dunia tidak berubah hanya karena kamu berharap atau berdoa. Dunia bergerak karena hukum-hukum material yang nyata. Dia melihat materi sebagai dasar dari semua kejadian. Segala sesuatu yang terjadi selalu punya sebab yang bisa ditelusuri, bukan sekadar “sudah takdir”.
Di sinilah banyak orang mulai tidak nyaman. Karena selama ini kita terbiasa menjelaskan hal sulit dengan cara paling cepat, yaitu “percaya”. Ketika ekonomi sulit, kita bilang “lagi sial”. Ketika gagal, kita bilang “belum rezeki”. Padahal, kalau dilihat dari cara berpikir materialisme, semua itu punya sebab konkret. Bisa karena sistem, karena keputusan, atau karena kondisi sosial. Masalahnya, menjelaskan dengan realita butuh usaha. Percaya tanpa cek jauh lebih mudah.
Masyarakat yang Hidup di Antara Fakta dan Kegaiban
Tan Malaka menulis dalam konteks masyarakat yang menurutnya masih “diselimuti macam-macam ilmu kegaiban” . Ini bukan sekadar kritik, tapi observasi. Dia melihat bahwa banyak orang menjelaskan dunia bukan dari apa yang bisa dibuktikan, tapi dari apa yang diwariskan.
Dan kalau kamu jujur, kondisi itu masih ada sampai sekarang. Ketika ada penyakit, sebagian orang masih mencari “penyebab gaib” sebelum mencari diagnosis medis. Ketika bisnis gagal, ada yang lebih percaya “kena santet” daripada salah strategi. Bahkan di era digital, hoaks bisa menyebar lebih cepat daripada fakta, karena lebih sesuai dengan apa yang ingin dipercaya.
Materialisme datang untuk memotong semua itu. Bukan dengan marah, tapi dengan satu pertanyaan sederhana: mana yang bisa dibuktikan?
Melihat Dunia Tanpa Filter yang Menenangkan
Materialisme tidak menawarkan kenyamanan. Dia menawarkan kejelasan. Tan Malaka ingin manusia melihat dunia tanpa filter yang menenangkan, tanpa cerita tambahan yang membuat realita terasa lebih ringan.
Dia mengajak kita untuk melihat hubungan sebab-akibat secara langsung. Kalau harga naik, cari struktur ekonomi di baliknya. Ketika masyarakat terpecah, lihat kepentingan politik yang bermain. Jika seseorang gagal, telusuri faktor yang benar-benar mempengaruhi, bukan sekadar menyalahkan nasib.
Contoh paling dekat ada di media sosial. Banyak orang percaya bahwa hidup orang lain sempurna karena yang terlihat hanya hasil akhirnya. Mereka lupa, di balik itu ada kerja, privilege, algoritma, bahkan manipulasi citra. Materialisme memaksa kamu melihat apa yang tidak ditampilkan.
Kebiasaan Lama: Percaya Lebih Cepat daripada Memahami
Masalah terbesar bukan kurangnya informasi. Masalahnya, manusia lebih cepat percaya daripada memahami. Tan Malaka melihat ini sebagai hambatan utama dalam perkembangan berpikir.
Kita dibesarkan dalam sistem yang mendorong kepatuhan, dan diajarkan untuk menerima, bukan mempertanyakan. Kita lebih sering diminta menghafal daripada menguji. Akibatnya, ketika menghadapi realita yang kompleks, kita mencari jawaban instan.
Contohnya jelas di fenomena hoaks. Sebuah informasi yang sesuai dengan emosi akan lebih cepat dipercaya daripada fakta yang butuh analisis. Orang tidak bertanya apakah itu benar. Mereka bertanya apakah itu sesuai dengan apa yang mereka rasakan.
Di titik ini, materialisme menjadi alat. Bukan untuk mengganti keyakinan, tapi untuk menguji apakah keyakinan itu berdiri di atas realita atau hanya kebiasaan.
Logika Tidak Cukup Kalau Tidak Berdiri di Atas Realita
Tan Malaka tidak berhenti di materialisme. Dia mengingatkan bahwa logika pun bisa menyesatkan jika tidak berdiri di atas realita. Dia melihat bagaimana di Barat, logika berkembang pesat sampai dianggap sebagai alat utama berpikir, tapi sering lupa pada batasnya .
Artinya sederhana. Kamu bisa berpikir sangat logis, tapi kalau premisnya salah, hasilnya tetap salah. Kamu bisa membuat argumen yang terlihat masuk akal, tapi kalau tidak berdasarkan fakta, itu hanya ilusi yang rapi.
Contoh paling nyata ada di debat publik. Banyak orang terlihat pintar karena bisa menyusun argumen. Tapi ketika dicek, argumen itu berdiri di atas asumsi, bukan data. Mereka tidak berbohong. Mereka hanya tidak memeriksa dasar berpikirnya.
Di sinilah Tan Malaka menggabungkan materialisme, dialektika, dan logika. Materialisme memberi dasar realita. Logika mengatur cara berpikir. Dialektika menjelaskan perubahan. Tanpa dasar material, logika hanya jadi permainan kata.
Realita Sering Tidak Nyaman, Makanya Ditolak
Semakin kamu masuk ke cara berpikir ini, semakin kamu sadar satu hal, realita sering tidak nyaman. Dan karena tidak nyaman, banyak orang memilih untuk menolaknya.
Lebih mudah percaya bahwa semua akan baik-baik saja, daripada melihat bahwa sistem memang tidak adil. Lebih gampang menyalahkan keadaan, daripada mengakui kesalahan sendiri. Dan lebih enak percaya narasi, daripada menghadapi fakta.
Contoh sederhana ada di dunia kerja. Banyak orang merasa tidak berkembang, tapi lebih memilih menyalahkan “nasib” daripada mengevaluasi skill, lingkungan, atau strategi. Materialisme memaksa kamu melihat semua variabel itu, bahkan yang tidak kamu suka.
Gunakan Cara Berpikir Materialisme
Kalau kamu tidak menggunakan cara berpikir materialisme, kamu akan terus hidup di realita yang dibentuk orang lain. Kamu akan percaya apa yang paling sering kamu dengar. Kamu akan mengikuti arus tanpa sadar.
Sebaliknya, ketika kamu mulai melihat dunia secara material, kamu mulai punya kontrol. Kamu tidak mudah percaya, dan mulai bertanya. Kamu mulai memisahkan fakta dari narasi.
Tapi ada harga yang harus dibayar. Kamu kehilangan kenyamanan, tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu. Kamu tidak bisa lagi menyalahkan hal-hal abstrak untuk menjelaskan hidupmu.
Madilog Bukan Sekadar Teori
Madilog bukan buku filsafat biasa. Tan Malaka tidak menulis untuk membuat kamu kagum. Dia menulis untuk membongkar.
Tan Malaka membongkar cara manusia memahami dunia. Ia menunjukkan bahwa banyak hal yang kita anggap realita sebenarnya hanyalah interpretasi yang diwariskan. Dan selama kamu tidak mengujinya, kamu akan terus hidup di dalamnya.
Kalimat yang paling mengganggu justru yang paling sederhana, mungkin yang kamu percaya selama ini bukan realita, tapi versi realita yang paling nyaman.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah materialisme itu benar atau salah. Pertanyaannya lebih sederhana dan lebih jujur, apakah kamu siap melihat dunia apa adanya, atau kamu lebih memilih tetap percaya pada versi yang membuatmu tenang? Tapi, tenang, realita tak peduli apa yang kamu percaya. @tabooo






