Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kritik Boleh, Tapi Sampai Mana? Demokrasi Masuk Zona Abu-Abu

by dimas
April 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Demokrasi selalu bergerak di antara harapan dan ketegangan.
Kini, saat sebagian publik merasa tidak puas, pertanyaan lama kembali muncul bagaimana cara mengganti kekuasaan?

Presiden Prabowo Subianto memberi jawaban tegas. Kritik boleh, bahkan tuntutan mundur pun sah. Namun, semua itu harus lewat jalur konstitusi.

Mekanisme Ditegaskan, Wacana Menguat

Memasuki bulan ke-17 masa pemerintahannya, Prabowo menghadapi gelombang wacana penurunan presiden. Wacana ini menguat setelah pernyataan Saiful Mujani beredar luas di media sosial.

Kemudian, dalam rapat kerja di Istana Kepresidenan Jakarta, Prabowo langsung merespons. Ia mengakui ketidakpuasan publik sebagai bagian dari demokrasi.

Namun, ia menegaskan batasnya.

Ini Belum Selesai

Nanik S Deyang Mundur, Siapa Pengganti Kepala BGN?

Indonesia Kaya, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

“Ada pemerintah yang dinilai tidak baik, gantilah. Bisa lewat pemilu. Bisa juga lewat impeachment,” kata Prabowo.

Selain itu, ia menekankan bahwa proses tersebut harus melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, dan MPR. Dengan demikian, ia menempatkan konstitusi sebagai satu-satunya jalur sah.

Tafsir Demokrasi Mulai Berbeda

Di satu sisi, Prabowo melihat mekanisme sebagai solusi. Ia bahkan merujuk sejarah Indonesia yang menunjukkan pergantian kekuasaan berlangsung melalui proses.

Namun di sisi lain, Saiful Mujani melihat situasi berbeda. Ia menilai jalur formal semakin sulit ditempuh.

Pertama, pemilu 2029 dianggap terlalu lama.
Kedua, impeachment sulit terjadi karena dominasi koalisi pemerintah di DPR.

Karena itu, ia menawarkan alternatif tekanan massa.

Di titik ini, pertanyaan menjadi semakin tajam, jika jalur formal terasa buntu, apakah jalanan akan mengambil alih?

Kritik Terbuka, Ruang Diperdebatkan

Prabowo menegaskan bahwa ia menerima kritik. Bahkan, ia menganggap hinaan sebagai pengingat.

“Kalau saya bodoh, berarti saya harus kumpulin orang pintar,” ujarnya.

Namun, sekaligus, ia mengkritik pihak yang hanya menyerang tanpa kontribusi. Ia menggambarkan mereka seperti warga yang tidak ikut membangun jembatan, tetapi terus menyalahkan prosesnya.

Meski begitu, sejumlah analis melihat persoalan lain. Arya Fernandes dari CSIS menilai saluran kritik formal tidak bekerja optimal.

Sementara itu, DPR dinilai terlalu kuat mendukung pemerintah. Akibatnya, fungsi kontrol melemah.

Karena itu, Arya mengingatkan dampaknya.

“Kalau saluran formal tertutup, protes dan demonstrasi akan membesar,” ujarnya.

Twist: Ini Soal Akses, Bukan Sekadar Kritik

Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kritik.

Sebaliknya, ini soal siapa yang punya akses untuk mengubah kekuasaan.

Di satu sisi, konstitusi menyediakan jalur.
Namun di sisi lain, realitas politik membuat jalur itu terasa sempit.

Akibatnya, muncul ketegangan antara prosedur dan kepercayaan.

Dan di sinilah demokrasi mulai diuji.

Dampak ke Publik

Ini dampaknya buat kamu:

Ketika jalur formal terasa tidak efektif, publik akan mencari alternatif.
Selain itu, ketika kritik tidak menemukan ruang, tekanan akan berpindah ke jalanan.

Pada akhirnya, situasi ini bisa meningkatkan risiko konflik sosial.
Karena itu, stabilitas demokrasi sangat bergantung pada kepercayaan publik.

Analisis Tabooo

Demokrasi tidak hanya hidup dari aturan.
Sebaliknya, demokrasi bertahan karena kepercayaan.

Namun, ketika publik mulai meragukan sistem, maka sistem itu akan menghadapi tekanan.

Masalahnya sederhana, tapi krusial.
Prosedur memang ada, tetapi apakah prosedur itu benar-benar bisa diakses?

Jika tidak, maka publik tidak akan menunggu.

Dan sejarah Indonesia sudah menunjukkan pola itu berulang.

Closing

Jadi, ini bukan lagi soal boleh atau tidaknya kritik.

Melainkan soal yang lebih dalam, kalau jalur sudah tersedia, kenapa kepercayaan justru menurun? @dimas

Tags: Demokrasi IndonesiaDPRMahkamah KonstitusiPolitik NasionalPrabowo Subianto

Kamu Melewatkan Ini

Istana Pastikan Belum Ada Reshuffle, Presiden Terus Evaluasi Kinerja Menteri

Istana Pastikan Belum Ada Reshuffle, Presiden Terus Evaluasi Kinerja Menteri

by teguh
Juli 21, 2026

Spekulasi perombakan kabinet atau Reshuffle kembali mencuat. Namun, Istana memastikan Presiden Prabowo Subianto belum mengambil langkah itu. Sebaliknya, Presiden memilih...

Divide et Impera: Warisan Kolonial yang Masih Membelah Indonesia

Divide et Impera: Warisan Kolonial yang Masih Membelah Indonesia

by dimas
Juli 21, 2026

Divide et impera bukan sekadar strategi kolonial, tetapi pola kekuasaan yang masih hidup melalui politik identitas. Mengapa politik pecah belah...

Kabinet Bayangan: Pengawas Demokrasi atau Simbol Perlawanan?

Kabinet Bayangan: Pengawas Demokrasi atau Simbol Perlawanan?

by dimas
Juli 20, 2026

Kabinet bayangan hadir sebagai pengawas alternatif di tengah minimnya oposisi parlemen. Namun, mampukah forum ini benar-benar memengaruhi kebijakan atau hanya...

Next Post
Lembah Anai 1944: Saat Surga Wisata Menyimpan Kuburan Sunyi

Lembah Anai 1944: Saat Surga Wisata Menyimpan Kuburan Sunyi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id