Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kritik Boleh, Tapi Sampai Mana? Demokrasi Masuk Zona Abu-Abu

by dimas
April 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep

Tabooo.id: Deep – Demokrasi selalu bergerak di antara harapan dan ketegangan.
Kini, saat sebagian publik merasa tidak puas, pertanyaan lama kembali muncul bagaimana cara mengganti kekuasaan?

Presiden Prabowo Subianto memberi jawaban tegas. Kritik boleh, bahkan tuntutan mundur pun sah. Namun, semua itu harus lewat jalur konstitusi.

Mekanisme Ditegaskan, Wacana Menguat

Memasuki bulan ke-17 masa pemerintahannya, Prabowo menghadapi gelombang wacana penurunan presiden. Wacana ini menguat setelah pernyataan Saiful Mujani beredar luas di media sosial.

Kemudian, dalam rapat kerja di Istana Kepresidenan Jakarta, Prabowo langsung merespons. Ia mengakui ketidakpuasan publik sebagai bagian dari demokrasi.

Namun, ia menegaskan batasnya.

Ini Belum Selesai

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggeledahan Ponpes, Ini Kronologi Lengkapnya

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

“Ada pemerintah yang dinilai tidak baik, gantilah. Bisa lewat pemilu. Bisa juga lewat impeachment,” kata Prabowo.

Selain itu, ia menekankan bahwa proses tersebut harus melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, dan MPR. Dengan demikian, ia menempatkan konstitusi sebagai satu-satunya jalur sah.

Tafsir Demokrasi Mulai Berbeda

Di satu sisi, Prabowo melihat mekanisme sebagai solusi. Ia bahkan merujuk sejarah Indonesia yang menunjukkan pergantian kekuasaan berlangsung melalui proses.

Namun di sisi lain, Saiful Mujani melihat situasi berbeda. Ia menilai jalur formal semakin sulit ditempuh.

Pertama, pemilu 2029 dianggap terlalu lama.
Kedua, impeachment sulit terjadi karena dominasi koalisi pemerintah di DPR.

Karena itu, ia menawarkan alternatif tekanan massa.

Di titik ini, pertanyaan menjadi semakin tajam, jika jalur formal terasa buntu, apakah jalanan akan mengambil alih?

Kritik Terbuka, Ruang Diperdebatkan

Prabowo menegaskan bahwa ia menerima kritik. Bahkan, ia menganggap hinaan sebagai pengingat.

“Kalau saya bodoh, berarti saya harus kumpulin orang pintar,” ujarnya.

Namun, sekaligus, ia mengkritik pihak yang hanya menyerang tanpa kontribusi. Ia menggambarkan mereka seperti warga yang tidak ikut membangun jembatan, tetapi terus menyalahkan prosesnya.

Meski begitu, sejumlah analis melihat persoalan lain. Arya Fernandes dari CSIS menilai saluran kritik formal tidak bekerja optimal.

Sementara itu, DPR dinilai terlalu kuat mendukung pemerintah. Akibatnya, fungsi kontrol melemah.

Karena itu, Arya mengingatkan dampaknya.

“Kalau saluran formal tertutup, protes dan demonstrasi akan membesar,” ujarnya.

Twist: Ini Soal Akses, Bukan Sekadar Kritik

Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kritik.

Sebaliknya, ini soal siapa yang punya akses untuk mengubah kekuasaan.

Di satu sisi, konstitusi menyediakan jalur.
Namun di sisi lain, realitas politik membuat jalur itu terasa sempit.

Akibatnya, muncul ketegangan antara prosedur dan kepercayaan.

Dan di sinilah demokrasi mulai diuji.

Dampak ke Publik

Ini dampaknya buat kamu:

Ketika jalur formal terasa tidak efektif, publik akan mencari alternatif.
Selain itu, ketika kritik tidak menemukan ruang, tekanan akan berpindah ke jalanan.

Pada akhirnya, situasi ini bisa meningkatkan risiko konflik sosial.
Karena itu, stabilitas demokrasi sangat bergantung pada kepercayaan publik.

Analisis Tabooo

Demokrasi tidak hanya hidup dari aturan.
Sebaliknya, demokrasi bertahan karena kepercayaan.

Namun, ketika publik mulai meragukan sistem, maka sistem itu akan menghadapi tekanan.

Masalahnya sederhana, tapi krusial.
Prosedur memang ada, tetapi apakah prosedur itu benar-benar bisa diakses?

Jika tidak, maka publik tidak akan menunggu.

Dan sejarah Indonesia sudah menunjukkan pola itu berulang.

Closing

Jadi, ini bukan lagi soal boleh atau tidaknya kritik.

Melainkan soal yang lebih dalam, kalau jalur sudah tersedia, kenapa kepercayaan justru menurun? @dimas

Tags: Demokrasi IndonesiaDPRMahkamah KonstitusiPolitik NasionalPrabowo Subianto

Kamu Melewatkan Ini

Berkas Lengkap, Kebenaran Belum Tentu: Lubang Verifikasi Ijazah Capres

Berkas Lengkap, Kebenaran Belum Tentu: Lubang Verifikasi Ijazah Capres

by teguh
November 2, 2026

Tiga warga negara Indonesia mengajukan pengujian materiil terhadap Pasal 169 huruf r Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum...

Uji Syarat Pendidikan Capres ke MK, Tiga Warga Minta KPU Periksa Keabsahan Ijazah

Uji Syarat Pendidikan Capres ke MK, Tiga Warga Minta KPU Periksa Keabsahan Ijazah

by teguh
November 2, 2026

Gugatan terhadap Pasal 169 huruf r UU Pemilu menyoroti makna kata “tamat” dan standar verifikasi dokumen syarat pendidikan Capres serta...

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

by dimas
November 1, 2026

TNI turun mengamankan demonstrasi memunculkan pertanyaan tentang batas kewenangan militer, supremasi sipil, dan perlindungan kebebasan berpendapat. Tabooo.id - Demonstrasi merupakan...

Next Post
Lembah Anai 1944: Saat Surga Wisata Menyimpan Kuburan Sunyi

Lembah Anai 1944: Saat Surga Wisata Menyimpan Kuburan Sunyi

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id