Tabooo.id: Regional – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Madiun, Noor Aflah, Senin (6/4/2026).
Langkah ini langsung mengarah pada pengembangan kasus korupsi yang menjerat Wali Kota Madiun. Karena itu, penyidikan kini mulai melebar ke lingkar yang lebih luas.
Rumah Terlihat Normal, Lalu Berubah
Awalnya, rumah di Jalan Aneka Sari 4B, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, terlihat seperti biasa. Empat mobil Toyota terparkir di lokasi.
Satu mobil berada di halaman. Sementara itu, tiga mobil lain berada di dalam garasi. Mobil pribadi dan kendaraan dinas Aflah juga terlihat di depan rumah.
Namun, suasana langsung berubah ketika penyidik KPK datang dan mulai bergerak.
Penyidik Langsung Angkut Koper
Selanjutnya, penyidik keluar dari rumah sambil membawa dua koper. Mereka lebih dulu membawa koper kecil. Kemudian, mereka mengeluarkan koper besar menjelang akhir penggeledahan.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi soal isi koper tersebut. Meski begitu, temuan ini menunjukkan adanya barang yang dianggap penting oleh penyidik.
Aflah Tetap Kooperatif, Tapi Irit Bicara
Di sisi lain, Noor Aflah tetap berada di rumah selama proses berlangsung. Ia bahkan membukakan gerbang saat penyidik meninggalkan lokasi sekitar pukul 15.50 WIB.
Namun, saat dimintai keterangan, ia memilih menahan diri.
“Saya tidak boleh cerita tadi sudah dipesan,” kata Aflah.
Sebelumnya, ia menerima telepon dari penyidik sekitar pukul 13.30 WIB. Setelah itu, ia langsung pulang dari kantornya.
Barang yang Diamankan
Selain koper, penyidik juga membawa dua handphone dan satu dokumen SPPD milik Aflah.
“Handphone dua aja. Sama satu lembar catatan SPPD saya,” ujarnya.
Sekilas, barang ini terlihat sederhana. Namun, data di dalamnya bisa membuka pola komunikasi dan aliran kegiatan.
Kasus Mengarah ke Wali Kota
Sementara itu, penggeledahan ini berkaitan dengan kasus yang menjerat Wali Kota Madiun, Maidi.
Maidi diduga meminta fee proyek dan dana tanggung jawab sosial perusahaan. Selain itu, penyidik juga menetapkan Rochim Ruhdiyanto dan Thariq Megah sebagai tersangka.
Karena itu, penyidikan tidak berhenti di satu titik. Penyidik terus menelusuri kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas.
Kenapa Ini Penting?
Kasus ini menyangkut pengelolaan uang publik. Dampaknya bisa langsung terasa bagi masyarakat.
Jika penyidikan terus berkembang, publik perlu tahu siapa saja yang terlibat.
Jadi, ini baru awal atau justru pintu masuk ke kasus yang lebih besar?@dimas



