Ada alasan kenapa banyak orang menikmati kopi dan teh selagi mengepul. Sensasi panas sering terasa seperti bagian dari kenikmatan pertama: aroma naik, uap masih terlihat, lalu satu tegukan terasa “pas”. Masalahnya muncul ketika panas berubah menjadi kebiasaan.
Tabooo.id: Health – Bagi sebagian orang, kopi dan teh harus langsung diminum setelah terseduh. Teh pun terasa kurang nikmat jika sudah kehilangan uapnya. Padahal, tubuh tidak selalu membutuhkan minuman dengan suhu setinggi itu.
Bukan Kopinya yang Jadi Sorotan
Penelitian yang terbit pada tanggal 08/09/2026 di International Journal of Cancer menganalisis data 977.282 orang dari dua kelompok populasi di Inggris.
Selama lebih dari satu dekade, peneliti menemukan hubungan antara konsumsi minuman yang sangat panas dengan risiko kanker sel skuamosa esofagus (esophageal squamous cell carcinoma/SCC).
Kelompok yang memilih minuman dengan kategori “sangat panas” menunjukkan risiko sekitar tiga kali lipat dibandingkan kelompok yang memilih minuman hangat.
Angka tersebut memang terdengar besar. Namun, pembaca perlu membedakan risiko relatif dengan risiko absolut.
Tiga kali lipat tidak berarti tiga dari setiap 100 orang yang minum kopi panas akan terkena kanker.
Kerongkongan Bukan Gelas Kopi
Sorotan penelitian ini bukan pada kopi dan teh sebagai minuman yang Suhunya menjadi titik poin penting.
Peneliti meminta peserta menggambarkan suhu minuman yang biasa mereka konsumsi. Mereka tidak mengukur temperatur setiap cangkir secara langsung.
Klasifikasi “sangat panas” di atas 65°C berasal dari penelitian dan penilaian IARC sebelumnya. Jadi, angka 65°C bukan hasil pengukuran langsung terhadap seluruh minuman dalam studi Inggris terbaru.
Paparan panas berulang dapat mengiritasi jaringan kerongkongan. Para peneliti melihat kemungkinan bahwa paparan termal tersebut ikut berperan dalam proses kerusakan jaringan.
Dr Keren Papier dari University of Oxford menjelaskan bahwa penelitian internasional sebelumnya telah menghubungkan konsumsi minuman bersuhu sangat tinggi dengan kanker esofagus tertentu.
Pertanyaan berikutnya, menurut Papier, adalah apakah pola tersebut juga berlaku pada suhu minuman yang lazim dikonsumsi masyarakat Barat.
Studi terbaru itu kemudian mencoba menjawab pertanyaan tersebut menggunakan data populasi Inggris dalam jumlah besar.
Tiga Kali Lipat Tidak Sama dengan Pasti Terkena
Bagian ini penting agar pembaca tidak terjebak pada angka.
Cancer Research UK mencatat bahwa kanker esofagus relatif jarang terjadi di Inggris. Karena itu, kenaikan risiko relatif tidak otomatis membuat risiko absolut seseorang menjadi tinggi.
Angka tiga kali lipat harus dibaca bersama konteks prevalensi penyakit dan karakter penelitian.
Studi ini juga bersifat observasional. Peneliti menemukan hubungan antara kebiasaan minum dan kejadian kanker, tetapi desain tersebut belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Menariknya, penelitian juga membedakan dua tipe utama kanker esofagus.
Hubungan paling kuat muncul pada SCC. Sementara itu, penelitian tidak menemukan hubungan serupa dengan adenokarsinoma esofagus.
Jangan Sampai Fokus pada Kopi, Lupa Rokok
Ada faktor risiko lain yang memiliki bukti kuat dalam pembahasan kanker esofagus.
Fiona Osgun dari Cancer Research UK menekankan pentingnya tidak merokok dan mengurangi konsumsi alkohol.
Pesannya relevan karena perhatian terhadap suhu minuman tidak seharusnya membuat faktor risiko lain kehilangan perhatian.
IARC juga mencatat tembakau dan alkohol sebagai faktor penting dalam kanker esofagus.
Artinya, menurunkan suhu kopi bukan satu-satunya langkah pencegahan. Pola hidup secara keseluruhan tetap memiliki peran.
Kopi dan Teh: Panas Bukan Ukuran Kenikmatan
Kopi harus panas, Teh harus mengepul. Begitu minuman mulai hangat, sebagian orang merasa kenikmatannya ikut hilang.
Kebiasaan tersebut terlihat sederhana. Namun, tubuh tidak punya kewajiban mengikuti standar kenikmatan manusia. Memberi jeda beberapa menit tidak membutuhkan biaya tambahan.
Tidak perlu mengubah kopi menjadi ritual yang rumit. Cukup tunggu sampai minuman terasa nyaman untuk diminum dan tidak membuat mulut atau tenggorokan terasa terbakar.
Panas bukan ukuran kualitas kopi. Panas juga bukan ukuran kenikmatan. Kadang, yang perlu diubah bukan minumannya. Hanya cara kita menikmatinya.
Dua Menit yang Sering Kita Abaikan
Pagi hari sering berjalan terburu-buru. Alarm berbunyi, Notifikasi masuk, Jalanan menunggu dan Kopi sudah tersedia.
Dalam situasi seperti itu, kita mudah menyeruput minuman ketika suhunya masih terlalu tinggi. Padahal, memberi jeda beberapa menit tidak mengubah cita rasa kopi secara drastis.
Ritual pagi tetap berjalan. Teh tetap bisa dinikmati. Kopi favorit tetap ada di meja. Perbedaannya hanya satu tubuh mendapat kesempatan menerima minuman pada suhu yang lebih nyaman.
Jadi, Haruskah Berhenti Minum Kopi dan Teh?
Tidak ada dasar dari studi ini untuk menyimpulkan bahwa masyarakat harus berhenti minum kopi atau teh.
Pesan yang lebih sederhana adalah menghindari kebiasaan mengonsumsi minuman dalam kondisi sangat panas. Jika minuman masih membuat mulut terasa terbakar, tunggu sebentar.
Perokok juga perlu melihat gambaran yang lebih besar. Begitu pula orang dengan konsumsi alkohol tinggi. Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar kopi atau teh.
Yang perlu diperhatikan adalah seberapa panas kita membiasakan tubuh menerima sesuatu yang sebenarnya bisa kita tunggu beberapa menit.
Ketika Nikmat Perlu Jeda
Minum kopi tetap boleh. Minum teh tetap boleh. Yang perlu ditinggalkan adalah anggapan bahwa semakin panas, semakin nikmat.
Kadang tubuh hanya meminta satu hal sederhana yaitu, Tunggu sebentar. @teguh








