Tabooo.id: Talk – Kamu pasti pernah mengucapkannya. Tapi sekarang coba pikir lagi: kapan terakhir kali kamu benar-benar mempertanyakan artinya?
Sebagian besar dari kita hanya ikut arus. Kita hafal, kita pakai, tapi jarang berhenti untuk memahami.
Padahal, di balik kalimat sederhana itu, ada cara berpikir yang dulu kita jalani tanpa sadar.
Kita Pernah Sepakat Tanpa Ribut
Waktu kecil, kita pakai hompimpa untuk menentukan giliran. Prosesnya cepat, hasilnya langsung jelas.
Begitu tangan dibuka, keputusan selesai.
Yang kalah langsung jalan. Sementara itu, yang lain lanjut bermain tanpa protes.
Menariknya, tidak ada yang memperdebatkan hasil. Semua menerima karena sejak awal sudah sepakat.
Sekarang bandingkan dengan kondisi hari ini.
Masih bisa kita mengambil keputusan secepat itu tanpa konflik?
Dulu Kita Menerima, Sekarang Kita Mencurigai
Saat kecil, kita tidak butuh alasan panjang untuk menerima hasil. Kita percaya pada prosesnya.
Namun, semakin dewasa, pola itu berubah.
Sekarang, banyak orang langsung mempertanyakan sistem ketika hasil tidak sesuai harapan. Selain itu, rasa curiga sering muncul lebih dulu daripada penerimaan.
Akibatnya, keputusan sederhana pun bisa berubah jadi perdebatan panjang.
Jadi, ini soal kita yang makin kritis… atau justru makin sulit menerima?
Ini Bukan Sekadar Permainan
Beberapa sumber menyebut hompimpa berasal dari bahasa Sanskerta.
Maknanya: “Dari Tuhan kembali ke Tuhan.”
Sekilas terdengar ringan. Namun jika dipahami lebih dalam, maknanya cukup besar.
Menurut peneliti budaya Zaini Alif, kata seperti Hom, Om, atau Hum merujuk pada Tuhan. Sementara itu, “alaihum” menunjukkan makna kembali.
Artinya, sejak kecil kita sudah dikenalkan pada satu konsep penting: tidak semua hal berada dalam kendali kita.
Masalahnya, Kita Ingin Mengontrol Segalanya
Dulu, hompimpa mengajarkan kesepakatan. Semua ikut aturan yang sama, lalu menerima hasilnya.
Namun sekarang, banyak orang lebih fokus pada hasil daripada proses.
Akibatnya, diskusi sering berubah menjadi adu kepentingan. Selain itu, kesepakatan makin sulit dicapai karena setiap orang ingin menang.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih jujur:
kita masih mencari solusi bersama, atau hanya mencari cara untuk tidak kalah?
Versinya Boleh Berbeda, Tapi Nilainya Sama
Di beberapa daerah, hompimpa punya versi yang lebih panjang.
Misalnya di Betawi:
“Hompimpa alaium gambreng, Mpok Ipah pakai baju rombeng.”
Meski terdengar lebih santai, fungsinya tetap sama.
Artinya, perbedaan bentuk tidak mengubah esensi. Tujuannya tetap satu: mengambil keputusan tanpa konflik.
Namun realitanya sekarang berbeda. Hal kecil saja bisa memicu perdebatan yang melebar ke mana-mana.
Yang Berubah Itu Cara Kita Bermain
Dulu, anak-anak bermain untuk kebersamaan. Mereka menerima kalah sebagai bagian dari permainan.
Sekarang, banyak orang melihat kalah sebagai kegagalan yang harus dihindari.
Karena itu, fokus bergeser. Dari menerima hasil, menjadi mempertanyakan proses.
Padahal, sistemnya tetap sederhana.
Yang berubah justru cara kita menyikapinya.
Penutup: Kita Pernah Lebih Sederhana
Dulu, kita bisa menerima tanpa banyak alasan. Sekarang, kita butuh pembenaran untuk hal yang sama.
Dulu, kita percaya pada kesepakatan. Sekarang, kita sering meragukannya.
Ironisnya, pelajaran tentang itu sudah kita dapat sejak kecil.
Lalu sekarang pertanyaannya:
Apakah kita benar-benar berkembang…
atau justru kehilangan cara sederhana untuk menerima hidup? @jeje







