Tabooo.id: Nasional – Timeline biasanya penuh sorak, meme, dan debat tak berujung soal strategi. Namun kali ini, sebuah foto membuat linimasa berhenti sejenak. Bukan cuplikan gol. Bukan selebrasi. Hanya papan karton putih, tulisan spidol hitam, dan anak-anak bertelanjang kaki.
Di papan itu tertulis nama Maarten Paes dan Dean James.
Nama pemain bola berubah jadi kalimat terima kasih. Sunyi, tapi menghantam.
Di tengah banjir yang meluluhlantakkan Sumatra, dua pilar Timnas Indonesia itu tidak hadir secara fisik. Mereka tidak berdiri di lokasi bencana. Mereka juga tidak muncul di kamera. Namun bantuan mereka sampai. Yang datang lebih dulu justru rasa rasa diperhatikan.
Foto yang Bicara Lebih Keras dari Caption
Akun suporter PSMS Medan, @smeckhooligan, mengunggah foto-foto itu. Anak-anak korban banjir memegang papan ucapan terima kasih, berdiri di tengah puing dan lumpur tanpa narasi berlebihan. Tidak ada sponsor. Tidak ada jargon kampanye. Hanya tulisan tangan dan wajah polos.
Satu papan berbunyi, “Terima kasih Maarten Paes sudah membantu saudara kami di Sumatra.”
Papan lain menyebut Dean James dengan nada serupa.

Unggahan itu menyebar cepat. Maarten dan Dean memberi respons sederhana tanda like. Tanpa klarifikasi. Tanpa pernyataan panjang. Internet pun melakukan sisanya.
Sebelumnya, publik juga menyorot Calvin Verdonk yang disebut ikut membantu korban banjir Aceh. Perlahan, satu per satu, nama pemain Timnas muncul bukan karena skor, tapi karena empati.
Sepak Bola dan Ingatan Kolektif tentang Solidaritas
Sepak bola selalu punya hubungan khusus dengan krisis. Dalam sejarahnya, olahraga ini sering berubah fungsi saat bencana datang. Stadion menjadi tempat pengungsian. Jersey menjadi simbol harapan. Pemain menjadi jembatan antara publik dan solidaritas.
Indonesia menyimpan memori panjang soal itu. Tsunami Aceh 2004 menjadi salah satu titik penting, ketika sepak bola ikut mengumpulkan dunia. Sejak saat itu, publik tidak hanya menilai pemain dari kaki, tapi juga dari sikap.
Maarten Paes dan Dean James hadir sebagai bagian dari generasi baru pemain. Mereka tumbuh di era kontrak global, statistik, dan algoritma. Namun, mereka memilih cara lama membantu tanpa banyak suara.
Angka yang Terlalu Besar untuk Diabaikan
Di balik viralnya foto, realitas di lapangan tetap keras. Data BNPB hingga 14 Desember 2025 mencatat 1.030 korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Jumlah orang hilang mencapai 206 jiwa. Lebih dari 600 ribu warga harus mengungsi.
Banjir di Sumatra bukan peristiwa tunggal. Kerusakan hutan, tata ruang yang semrawut, dan krisis iklim saling mengunci. Air datang bukan sebagai kejutan, melainkan konsekuensi.
Dalam kondisi seperti itu, bantuan apa pun terasa berarti. Bahkan ketika bantuan itu datang dari seseorang yang jaraknya ribuan kilometer dan hanya dikenal lewat layar.
Pahlawan Tanpa Panggung di Era Digital
Budaya digital sering mendorong empati yang performatif. Kamera menyala lebih dulu, aksi menyusul belakangan. Banyak orang mulai lelah dengan kebaikan yang terlalu rapi.
Kisah Maarten dan Dean menawarkan arah sebaliknya. Mereka tidak membangun narasi. Justru anak-anak korban banjir yang mengangkat nama mereka. Tanpa strategi. Tanpa skrip.
Bagi Gen Z dan Milenial, ini terasa relevan. Aksi mereka terasa manusiawi karena tidak mencoba terlihat heroik. Bantuan itu hadir sebagai pilihan, bukan kewajiban yang dipamerkan.

Refleksi Tabooo: Bola, Nama, dan Tanggung Jawab Sosial
Popularitas selalu membawa konsekuensi. Nama besar berarti suara lebih keras, entah disadari atau tidak. Maarten Paes dan Dean James menggunakan posisi itu bukan untuk menambah sorotan, tapi untuk mengalihkan cahaya ke tempat yang gelap.
Sepak bola memang tidak menyelesaikan banjir. Donasi individu juga tidak menggantikan kebijakan publik. Namun, aksi kecil bisa memantik percakapan besar tentang lingkungan, tentang empati, tentang apa arti “mewakili Indonesia” hari ini.
Ketika pemain Timnas turun tangan, publik melihat sepak bola kembali dekat dengan realitas sosial. Ia berhenti menjadi sekadar industri hiburan.
Like Kecil, Makna Besar
Pada akhirnya, Maarten dan Dean hanya memberi tanda suka. Tidak lebih. Namun di dunia yang bising, gestur kecil bisa bergema jauh. Like itu terasa seperti anggukan pelan dari kejauhan kami melihat kalian.
Dan mungkin, bagi anak-anak yang memegang papan karton itu, isyarat kecil tersebut sudah cukup untuk hari itu.
Sepak bola memang soal gol, Namun, kadang ia juga soal tangan yang terulur meski tak pernah masuk kamera. @teguh




