Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Identitas Tak Lagi Gratis: Siapa yang Paling Terbebani?

by eko
April 28, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Pagi itu, Siti merogoh tasnya berkali-kali. Kosong. Dompetnya hilang dan bersama itu, KTP-nya ikut lenyap.
Bukan cuma identitas yang hilang. Di tengah wacana denda, itu berarti satu hal: masalah baru yang harus ia bayar.
Negara menyebutnya kelalaian. Warga kecil menyebutnya kenyataan hidup. Di titik itulah, dua realita mulai bertabrakan.

Tabooo.id: Deep – Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri menilai kehilangan KTP sering terjadi karena kurangnya tanggung jawab.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, bahkan menyebut jumlahnya mencapai puluhan ribu kasus per hari.

Logikanya sederhana: kalau gratis, orang jadi tidak peduli.

Namun di lapangan, ceritanya tidak sesederhana itu.

Ketika “Kelalaian” Tidak Sesederhana Itu

Bagi pekerja informal, buruh harian, atau pedagang kecil, kehilangan KTP sering terjadi bukan karena ceroboh.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Mereka bekerja di ruang yang tidak selalu aman: pasar padat, transportasi umum, hingga lingkungan kerja fisik yang keras.

Dompet bisa hilang dalam hitungan detik. Kartu bisa rusak karena hujan atau aktivitas berat.

Ini bukan soal lalai. Ini soal kondisi hidup yang tidak memberi banyak pilihan.

Yang Rentan, Justru Paling Sering Kehilangan

Ironisnya, kelompok yang paling sering kehilangan dokumen justru mereka yang paling sulit menanggung biaya tambahan.

Mereka yang berpindah-pindah tempat kerja, tinggal di ruang sempit, atau tidak punya tempat penyimpanan aman—lebih rentan kehilangan identitas.

Dan ketika denda diberlakukan, mereka juga yang pertama terkena dampaknya.

Di sini muncul pertanyaan penting:

apakah semua orang benar-benar punya kesempatan yang sama untuk “tidak lalai”?

Dari Hak Jadi Beban

Selama ini, administrasi kependudukan diposisikan sebagai layanan dasar.

Negara memastikan setiap warga memiliki identitas tanpa hambatan biaya.

Namun wacana denda mulai menggeser arah itu.

Identitas tidak lagi sepenuhnya menjadi hak ia berubah jadi tanggung jawab yang bisa dikenai konsekuensi finansial.

Di atas kertas, ini terlihat sebagai upaya mendisiplinkan.

Namun di lapangan, ini bisa terasa seperti tambahan beban.

Sistem atau Warga?

Kehilangan KTP sering dianggap kesalahan individu.

Padahal, sistem juga ikut berperan.

Apakah layanan penggantian sudah mudah diakses, prosesnya cepat dan sederhana.

Apakah edukasi soal pentingnya dokumen sudah merata?

Jika jawabannya belum, maka denda berisiko hanya jadi solusi cepat untuk masalah yang lebih dalam.

Ini Bukan Sekadar KTP

Ini bukan sekadar soal kartu yang hilang.

Ini soal bagaimana kebijakan sering menganggap semua orang hidup dalam kondisi yang sama.

Padahal kenyataannya tidak.

Yang paling sering kehilangan bukan yang paling ceroboh tapi yang paling rentan.

Dampak Nyata: Lebih dari Sekadar Denda

Bagi sebagian orang, denda mungkin terasa kecil.

Namun bagi yang lain, itu bisa berarti pilihan sulit:
membayar denda, atau menunda mengurus identitas.

Padahal tanpa KTP, akses ke layanan kesehatan, bantuan sosial, hingga pekerjaan formal bisa terhambat.

Satu kartu hilang, dampaknya bisa berantai.

Penutup

Kebijakan selalu terlihat masuk akal di atas kertas.

Namun realita di lapangan sering berbicara berbeda.

Ketika identitas mulai punya harga, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang lalai.@eko

Tags: administrasi kependudukanBima Aryadenda KTP hilangKebijakan PublikKemendagrirevisi UU Adminduk

Kamu Melewatkan Ini

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

by teguh
Oktober 17, 2026

Ada satu pertanyaan yang perlu pemerintah jawab sebelum memperluas fungsi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih siapa yang menjamin keamanan gaji ASN...

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih pada 2026: DPR Pertanyakan Dasar Hukumnya

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih pada 2026: DPR Pertanyakan Dasar Hukumnya

by teguh
Oktober 16, 2026

Rencana pemerintah menyalurkan gaji ASN melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memunculkan pertanyaan tentang dasar hukum dan mekanisme pelaksanaannya. DPR...

Handphone Gratis Belum Final, Rekening Rp50 Ribu Dianggarkan: Solusi atau Beban?

Handphone Gratis Belum Final, Rekening Rp50 Ribu Dianggarkan: Solusi atau Beban?

by teguh
Oktober 15, 2026

Pemerintah menyiapkan Program Handphone gratis dan anggaran pembukaan rekening digital senilai Rp50 ribu. Namun, rencana ponsel gratis masih memerlukan pembahasan....

Next Post
Kamu Cuma Mencium Bau, atau Sedang Menghirup Racun?

Kamu Cuma Mencium Bau, atau Sedang Menghirup Racun?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id