Sabtu, April 11, 2026
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Ketidakadilan Terasa Wajar. Siapa yang Sedang Mengatur Ceritanya?

April 11, 2026
in Talk
A A
Ketidakadilan Terasa Wajar. Siapa yang Sedang Mengatur Ceritanya?

Ilustrasi tentang manusia yang dikelilingi arus data dan narasi, menggambarkan bagaimana realita perlahan dibentuk hingga terasa wajar. (Foto ilustrasi Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Kita merasa dunia berjalan normal.
Namun, perasaan itu belum tentu datang dari realita. Bisa jadi, narasi yang terus diulang membentuknya.
Jadi, siapa sebenarnya yang menulis cerita yang kita percaya?

Dari Apropriasi ke Dominasi: Rantai yang Dibangun Perlahan

Kekuasaan tidak muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, ia tumbuh melalui tahapan yang rapi dan terstruktur.

Pertama, aktor tertentu mengambil alih sumber daya, pengetahuan, atau ruang. Inilah yang disebut apropriasi.
Lalu, mereka memanfaatkan sumber daya itu untuk keuntungan ekonomi atau politik. Di sinilah eksploitasi terjadi.
Selanjutnya, mereka menjaga kontrol tersebut hingga menjadi sistem yang stabil. Pada titik ini, dominasi terbentuk.

Dengan kata lain, kekuasaan bergerak secara bertahap, bukan secara frontal.

Representasi: Cara Kekuasaan Mengatur Cara Kita Melihat Dunia

Namun, kekuasaan tidak hanya bekerja lewat kontrol sumber daya. Ia juga bekerja lewat cerita.

BacaJuga

Online Nyaman, Offline Terancam?

Polling: Buku Apa Lagi yang Perlu Dibongkar?

Aktor kekuasaan menyusun narasi tentang pembangunan, kemajuan, dan stabilitas. Kemudian, mereka menyebarkannya secara masif.
Akibatnya, publik mulai melihat realitas melalui sudut pandang tersebut.

Selain itu, data UNESCO tahun 2023 menunjukkan lebih dari 70 persen masyarakat perkotaan mengakses pemahaman sosial melalui platform digital.
Artinya, sebagian besar persepsi kita terbentuk dari sistem yang dikendalikan oleh algoritma dan institusi besar.

Jadi, ini bukan sekadar informasi. Ini proses pembentukan cara berpikir.

Dari Representasi ke Modifikasi: Ketika Pikiran Mulai Diarahkan

Masalahnya, proses ini tidak berhenti di representasi.

Kini, aktor kekuasaan tidak hanya menyampaikan cerita. Mereka juga membentuk batas cara kita memahami dunia.
Dengan demikian, representasi berubah menjadi modifikasi.

Dalam konsep “mind shaping”, arus informasi yang terus-menerus membentuk pola pikir masyarakat.
Akibatnya, orang menerima narasi dominan tanpa mempertanyakan asal-usulnya.

Sebagai contoh, dalam konflik agraria, perusahaan sering menyebut eksploitasi lahan sebagai “pembangunan nasional”.
Sementara itu, masyarakat adat sering diposisikan sebagai penghambat.

Padahal, laporan FAO menyebut mereka mengelola sekitar 80 persen keanekaragaman hayati global.

Di sini, narasi tidak sekadar menjelaskan realita. Narasi justru mengubah cara kita memahaminya.

Narasi Mengalahkan Struktur

Selanjutnya, kita melihat fenomena yang lebih dalam.

Dalam banyak kasus, publik lebih percaya cerita daripada struktur nyata.
Sebagai akibatnya, isu besar seperti ketimpangan ekonomi sering kalah oleh narasi identitas atau emosi.

Laporan International IDEA menunjukkan peningkatan penggunaan framing emosional dalam kampanye politik global.
Karena itu, masyarakat lebih mudah bereaksi daripada menganalisis.

Pada titik ini, struktur tidak hilang. Namun, orang berhenti melihatnya.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Sekarang, mari kita tarik lebih dekat.

Ketika narasi mengendalikan realitas, kamu tidak lagi melihat dunia secara objektif.
Sebaliknya, kamu melihat dunia berdasarkan cerita yang paling sering muncul.

Akibatnya, privasi terasa seperti pilihan, bukan hak. Ketimpangan terlihat normal. Bahkan, ketidakadilan terasa biasa.

Lebih jauh lagi, kamu bisa ikut mempertahankan sistem itu tanpa sadar.

Analisis Tabooo: Masalahnya Ada pada Siapa yang Menguasai Cerita

Banyak orang mengira masalah utama terletak pada siapa yang berkuasa.
Namun, kenyataannya lebih dalam dari itu.

Masalah utama terletak pada siapa yang mengendalikan narasi.

Ketika satu pihak menguasai cerita, mereka juga mengarahkan cara publik memahami realitas.
Akibatnya, dominasi tidak terlihat sebagai dominasi. Ia terlihat sebagai sesuatu yang normal.

Dan di sinilah letak kekuatan terbesar kekuasaan modern.

Closing

Mungkin dunia memang tidak berubah secepat itu.
Namun, cara kita melihat dunia berubah setiap hari.

Jadi sekarang pertanyaannya, apakah kita benar-benar melihat realita, atau hanya mengulang narasi yang sama? @dimas

Tags: apropriasiDominasiEksploitasiframingkekuasaanKesadaranKontrolmanipulasiNarasipersepsipikiranPolitikRealitaSistemSosialStruktur

REKOMENDASI TABOOO

OTT Kepala Daerah Lagi, Kapan RUU Perampasan Aset Disahkan?

OTT Kepala Daerah Lagi, Kapan RUU Perampasan Aset Disahkan?

by dimas
April 11, 2026

Tabooo.id: Deep - Kasus korupsi kepala daerah kembali muncul. Lagi, dan lagi.Penangkapan seolah bukan akhir, melainkan bagian dari siklus yang...

Yang Diperbanyak Motor, yang Dibatasi Riset: Ini Prioritas atau Ilusi?

Yang Diperbanyak Motor, yang Dibatasi Riset: Ini Prioritas atau Ilusi?

by dimas
April 11, 2026

Tabooo.id: Talk - Negara bergerak cepat. Namun, ke mana arah langkah itu?Saat pemerintah menyiapkan 25.000 motor, hanya 13.000 riset yang...

Tanam Pohon atau Tanam Citra? Di Era ESG, Tipis Bedanya, Tapi Dampaknya?

Tanam Pohon atau Tanam Citra? Di Era ESG, Tipis Bedanya, Tapi Dampaknya?

by teguh
April 11, 2026

Tabooo.id: Edge - Di zaman sekarang, jadi “hijau” itu gampang. Tinggal tanam beberapa pohon, bikin kampanye eco-friendly, lalu upload ke...

Next Post
Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

Recommended

Iran Tolak Gencatan Senjata: Ini Soal Damai atau Permainan Narasi Kekuatan?

Iran Tolak Gencatan Senjata: Ini Soal Damai atau Permainan Narasi Kekuatan?

April 7, 2026
“Songko”: Ketika Ketakutan Lama Kembali Hidup

“Songko”: Ketika Ketakutan Lama Kembali Hidup

April 8, 2026

Popular

Materialisme Tan Malaka: Realita Itu Nyata, Tapi Apa Kamu Siap Menerima? – Madilog Series #1

Materialisme Tan Malaka: Realita Itu Nyata, Tapi Apa Kamu Siap Menerima? – Madilog Series #1

April 10, 2026

Siapa Ibu Sebenarnya? Teror Psikologis di Balik Legenda Malin Kundang

April 2, 2026

Polling: Buku Apa Lagi yang Perlu Dibongkar?

April 11, 2026

Makam Tan Malaka: Ingatan yang Sengaja Disembunyikan?

April 10, 2026

Bupati Tulungagung Kena OTT, Publik Kembali Kehilangan Kepercayaan

April 11, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.