Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Karhutla Lahap 100 Hektare Tahura Bukit Soeharto di IKN

by dimas
September 2, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Karhutla melahap sekitar 100 hektare Tahura Bukit Soeharto di kawasan IKN. Petugas menghadapi medan sulit dan keterbatasan akses saat memadamkan api.

Tabooo.id – Asap kembali naik dari kawasan hutan di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kali ini, api melahap kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto di Desa Sukomulyo, Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Kebakaran muncul pada Selasa (1/9/2026). Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 100 hektare.

Angka itu bukan sekadar ukuran di atas peta. Di baliknya, ada bentang hutan yang kehilangan ruang hidup.

Ada pula petugas yang harus berjalan menembus semak demi mengejar api.

Ini Belum Selesai

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

KPK Bongkar Dugaan Suap HGB: Urusan Tanah Berujung Koper Uang

Api Membesar, Medan Justru Membatasi

Pusdalops BPBD PPU menerima laporan kebakaran sekitar pukul 14.38 WITA.

Camat Sepaku Gamaliel Abimanyu Arliandito menyampaikan laporan tersebut kepada BPBD PPU.

Setelah itu, tim gabungan langsung bergerak menuju lokasi.

Namun, mereka menghadapi persoalan lain. Truk pemadam tidak bisa mencapai titik api karena akses jalan belum tersedia.

Akibatnya, petugas harus mencari cara lain untuk mendekati kobaran.

Mereka memangkas semak secara manual. Langkah itu membuka jalur bagi selang, pompa air, dan mesin alkon.

Dengan cara tersebut, petugas bisa membawa air lebih dekat ke titik kebakaran.

Medan yang sulit membuat pekerjaan berjalan lebih lambat. Sementara itu, semak kering terus menyediakan bahan bakar bagi api.

Tiga Titik Api Berhasil Ditekan

Tim gabungan berhasil memadamkan tiga titik api utama pada Selasa.

Namun, pekerjaan belum selesai.

Petugas tetap melakukan pendinginan pada Rabu (2/9/2026). Mereka berjaga untuk mencegah bara kembali menyala.

Langkah itu penting karena vegetasi kering masih mudah terbakar.

Api memang bisa mengecil dalam hitungan jam. Akan tetapi, ancaman tidak otomatis hilang ketika kobaran terakhir padam.

Satu bara kecil saja dapat kembali memicu kebakaran.

Karena itu, tim tetap berada di lokasi untuk memastikan api tidak meluas.

Ketika Hutan Tidak Memiliki Jalan

Di sinilah persoalan kebakaran Tahura Bukit Soeharto menjadi lebih besar.

Api bukan satu-satunya musuh petugas. Akses menuju lokasi ikut menentukan seberapa cepat mereka bisa bertindak.

Ketika kendaraan pemadam tidak dapat masuk, petugas harus mengganti mesin dengan tenaga manusia.

Mereka membuka jalur sendiri di tengah semak. Setelah itu, mereka menarik selang menuju titik api.

Situasi tersebut menunjukkan satu hal penting kecepatan penanganan tidak hanya bergantung pada jumlah personel.

Akses, kondisi vegetasi, sumber air, dan karakter medan juga menentukan.

Dengan kata lain, hutan membutuhkan sistem perlindungan yang bekerja sebelum api muncul.

Yang Terbakar Bukan Sekadar Semak

Kebakaran hutan sering terlihat seperti persoalan api.

Padahal, dampaknya jauh lebih panjang.

Ketika vegetasi terbakar, hutan kehilangan bagian dari ekosistemnya. Satwa kehilangan ruang hidup. Tanah juga menghadapi perubahan setelah tutupan vegetasi menghilang.

Di kawasan yang berada dekat IKN, persoalan itu terasa semakin penting.

Tahura Bukit Soeharto bukan sekadar hamparan hijau. Kawasan tersebut berada dalam lanskap yang memiliki arti strategis bagi masa depan IKN.

Karena itu, setiap kebakaran membawa pertanyaan yang lebih besar.

Seberapa kuat sistem perlindungan kawasan hutan ketika api datang?

Ini Bukan Sekadar Kebakaran. Ini Pola.

Kebakaran kali ini masih menyisakan banyak pertanyaan.

BPBD dan kepolisian masih mengumpulkan data untuk mengetahui penyebab serta total kerugian.

Artinya, publik belum memiliki jawaban akhir mengenai pemicu kebakaran.

Namun, satu fakta sudah jelas. Api mampu mencapai kawasan hutan seluas sekitar 100 hektare.

Lebih jauh lagi, petugas menghadapi keterbatasan akses ketika mencoba mengendalikan api.

Di titik inilah kita perlu melihat kebakaran bukan hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai ujian terhadap sistem.

Jika kawasan hutan penting sulit dijangkau saat kebakaran terjadi, maka persoalannya tidak berhenti pada siapa yang memadamkan api.

Kita juga perlu bertanya apakah sistem pencegahan sudah mengikuti risiko di lapangan.

Setelah Api Pergi

Pada Rabu, petugas masih berjaga.

Mereka mendinginkan tanah, memeriksa titik rawan, dan memastikan api tidak kembali menyala.

Setelah itu, perhatian publik mungkin perlahan berpindah ke berita lain.

Namun, hutan tidak pulih secepat siklus berita.

Bekas kebakaran tetap meninggalkan jejak. Vegetasi membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali. Ekosistem juga membutuhkan waktu untuk memulihkan keseimbangannya.

Karena itu, persoalan Tahura Bukit Soeharto tidak selesai ketika asap menghilang.

Pertanyaan terpenting justru muncul setelah api padam apa yang akan berubah agar kebakaran berikutnya tidak mengulang cerita yang sama?

Sebab, menjaga hutan bukan hanya pekerjaan ketika api sudah terlihat.

Menjaga hutan berarti memastikan risiko dapat dikenali, akses tersedia, dan pencegahan berjalan sebelum kobaran pertama muncul. @dimas

Tags: IKNKarhutlaKebakaran HutanLingkunganTahura Bukit Soeharto

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

by dimas
September 16, 2026

Karhutla 2026 meluas di sejumlah wilayah. Penanganan kasus kini turut menyoroti dugaan tanggung jawab korporasi, kewajiban pencegahan, dan penegakan hukum...

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

by dimas
September 14, 2026

Karhutla menerjang Jawa Timur dan Kalimantan Utara. BNPB mencatat sekitar 38 hektare lahan terbakar di Ponorogo, Pasuruan, dan Bulungan. Tabooo.id...

Tiga Helikopter Chinook Jepang Dikerahkan Lawan Karhutla Kalbar

Tiga Helikopter Chinook Jepang Dikerahkan Lawan Karhutla Kalbar

by dimas
September 12, 2026

Tiga Helikopter Chinook Jepang dikerahkan ke Kalbar untuk memperkuat operasi water bombing dan menghadapi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla....

Next Post
Menu MBG dan Ujian Keamanan Pangan: Dari Dapur ke Ambulans

Menu MBG dan Ujian Keamanan Pangan: Dari Dapur ke Ambulans

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id