Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand. Sentimen Malaysia terhadap Indonesia masih berlanjut di media sosial.
Tabooo.id – Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand di final. Namun, sentimen Malaysia terhadap Indonesia masih ramai di media sosial.
Indonesia akhirnya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026.
Garuda mengalahkan Thailand lewat adu penalti 4-2.
Skor 2-2 bertahan hingga extra time.
Kemenangan itu membawa Indonesia meraih gelar juara.
Namun, cerita Indonesia dan Malaysia belum selesai.
Rivalitas Berlanjut di Media Sosial
Malaysia gagal mencapai final setelah kalah dalam persaingan jumlah gol.
Indonesia dan Malaysia sama-sama mengumpulkan tujuh poin.
Indonesia mencetak 11 gol.
Malaysia mencetak sembilan gol.
Selisih itu membawa Indonesia ke final.
Malaysia kemudian mengalahkan Vietnam 1-0.
Hasil tersebut membawa Malaysia meraih posisi ketiga.
Indonesia melaju hingga partai final.
Garuda kemudian membawa pulang trofi.
Brand Indonesia Ikut Terseret
Rivalitas sepak bola kemudian bergerak ke media sosial.
Sejumlah pengguna Malaysia menyerukan boikot produk Indonesia.
Mereka juga membagikan daftar brand Indonesia di Malaysia.
Nama Kopi Kenangan, Indomie, dan J.CO muncul dalam percakapan tersebut.
Seruan itu juga menyasar musik dan hiburan.
Beberapa pengguna mengajak masyarakat Malaysia berhenti menikmati karya dari Indonesia.
Namun, sebagian pengguna Malaysia tidak setuju.
Seorang pengguna mempertanyakan alasan boikot produk halal karena persoalan sepak bola.
Perdebatan itu menunjukkan perbedaan sikap di media sosial.
Ketika Sepak Bola Masuk ke Rak Toko
Indonesia sudah memenangkan pertandingan.
Garuda juga sudah membawa pulang trofi.
Namun, rivalitas terus bergerak di media sosial.
Satu unggahan dapat memicu banyak respons.
Satu ajakan boikot juga dapat menyeret nama brand.
Pada titik ini, sepak bola tidak lagi hanya soal skor.
Rivalitas mulai menyentuh produk, musik, dan hiburan.
Sepak bola selesai di lapangan. Sentimennya justru lanjut di rak toko dan timeline.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang juara.
Indonesia sudah menjawabnya.
Pertanyaannya, seberapa jauh rivalitas olahraga perlu masuk ke kehidupan sehari-hari?@eko








