Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Identitas Mengalahkan Solidaritas: Ketika Musuh Utama Terlupakan

by dimas
Mei 31, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Ketika identitas menjadi pusat perlawanan, solidaritas perlahan memudar. Apakah gerakan sosial modern sedang kehilangan fokus terhadap akar ketimpangan yang sesungguhnya?

Tabooo.id – Ada sesuatu yang berubah dalam cara masyarakat melawan ketidakadilan.

Pada masa lalu, banyak gerakan lahir dari kemarahan terhadap kemiskinan, eksploitasi, dan ketimpangan ekonomi. Buruh turun ke jalan karena upah tidak mencukupi kebutuhan hidup. Petani melawan ketika perusahaan atau negara mengambil tanah mereka. Masyarakat menuntut perubahan karena mereka melihat sistem yang tidak adil mengatur hidup mereka.

Kini pemandangannya berbeda.

Ruang publik semakin ramai oleh pembahasan mengenai identitas. Orang memperdebatkan gender, ras, seksualitas, privilese, representasi, dan pengakuan sosial. Tentu saja, isu-isu tersebut penting. Banyak kelompok mengalami diskriminasi, kekerasan, dan pengucilan selama puluhan tahun.

Namun sebuah pertanyaan mulai muncul.

Ini Belum Selesai

Hari Kesembilan, Tim SAR Persempit Pencarian Jurnalis Hilang

Dari Teguran ke Tiga Pukulan: Kronologi Kematian Serda Ahmad

Mengapa pembicaraan tentang identitas terus membesar sementara pembicaraan tentang ketimpangan ekonomi justru mengecil?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Akan tetapi, jawabannya membuka perdebatan besar mengenai arah gerakan sosial modern.

Dari Solidaritas Menuju Fragmentasi

Tidak seorang pun dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa banyak kelompok mengalami penindasan.

Perempuan menghadapi diskriminasi. Kelompok minoritas menghadapi prasangka. Sebagian komunitas harus hidup di bawah tekanan sosial yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Karena itu, kemarahan terhadap ketidakadilan memiliki dasar yang kuat.

Masalah muncul ketika gerakan sosial mengubah fokus perjuangan. Banyak aktivis tidak lagi memusatkan perhatian pada musuh yang sama. Sebaliknya, mereka mulai memperdebatkan siapa yang paling tertindas dan siapa yang paling berhak berbicara.

Akibatnya, konflik internal menghabiskan energi yang sebelumnya mendorong perubahan.

Sementara para aktivis saling berdebat, korporasi tetap memperluas bisnisnya. Para pemilik modal tetap mengumpulkan keuntungan. Kelompok elite ekonomi tetap memperkuat pengaruh mereka.

Sebaliknya, kelompok-kelompok yang menghadapi tekanan hidup yang serupa justru saling mencurigai.

Di titik itu, solidaritas kehilangan ruangnya.

Ketika Struktur Ekonomi Keluar dari Sorotan

Perubahan tersebut tidak terjadi dalam semalam.

Perlahan-lahan, masyarakat mengalihkan perhatian dari struktur ekonomi menuju konflik identitas. Pada saat yang sama, biaya hidup terus meningkat. Harga rumah melambung. Lapangan kerja semakin tidak pasti. Ketimpangan kekayaan juga terus melebar.

Namun isu-isu itu jarang mendominasi percakapan publik.

Sebaliknya, banyak orang lebih tertarik pada konflik identitas yang memancing emosi dan memicu perdebatan cepat di media sosial.

Akibatnya, masyarakat semakin jarang bertanya siapa yang menguasai sumber daya ekonomi. Mereka lebih sering bertanya siapa yang memiliki privilese lebih besar.

Perubahan fokus tersebut mendorong banyak kritik terhadap arah gerakan sosial modern.

Menurut para pengkritiknya, gerakan sosial terlalu sering menyerang gejala dan terlalu jarang menyentuh akar persoalan.

Kampus dan Bahasa Politik Baru

Universitas memainkan peran penting dalam perubahan tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir, kampus melahirkan banyak teori tentang identitas, representasi, dan konstruksi sosial. Bersamaan dengan itu, pembahasan mengenai kelas sosial kehilangan posisi sentral yang dulu pernah dimilikinya.

Akibat perkembangan itu, bahasa memperoleh pengaruh yang sangat besar.

Banyak aktivis mulai percaya bahwa perubahan istilah akan menghasilkan perubahan sosial. Karena alasan itu, mereka menghabiskan banyak energi untuk memperdebatkan kata, simbol, dan representasi.

Padahal kenyataan sosial tidak menunggu perubahan istilah.

Buruh tetap bekerja dengan upah rendah.

Keluarga miskin tetap kesulitan membayar kebutuhan hidup.

Anak muda tetap menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Bahasa memang memengaruhi cara berpikir. Namun bahasa tidak otomatis mengubah struktur yang menciptakan ketimpangan.

Perempuan dan Batas Representasi

Perdebatan yang sama muncul dalam isu perempuan.

Gerakan perempuan berhasil membuka mata publik terhadap berbagai bentuk diskriminasi. Gerakan itu juga mendorong banyak perubahan penting di berbagai negara.

Namun sejumlah pertanyaan tetap muncul.

Apakah keberhasilan seorang perempuan menjadi direktur perusahaan otomatis meningkatkan kesejahteraan jutaan buruh perempuan?

Apakah hadirnya perempuan di jajaran elite ekonomi otomatis menghapus eksploitasi di tempat kerja?

Fakta menunjukkan bahwa identitas tidak selalu menentukan posisi seseorang dalam struktur kekuasaan.

Seorang perempuan bisa menghadapi diskriminasi gender. Namun pada saat yang sama, ia juga bisa memimpin perusahaan yang menekan upah pekerjanya.

Karena itu, banyak pengkritik tetap menempatkan kelas sosial sebagai faktor yang sangat menentukan.

Ini Bukan Sekadar Perdebatan Kampus

Sebagian orang menganggap perdebatan ini hanya hidup di ruang akademik.

Anggapan itu keliru.

Cara masyarakat memahami ketidakadilan akan menentukan cara mereka melawan.

Jika masyarakat melihat ketidakadilan sebagai konflik antaridentitas, mereka akan mengejar representasi, kuota, dan pengakuan simbolik.

Sebaliknya, jika masyarakat melihat ketidakadilan sebagai hasil dari struktur ekonomi yang timpang, mereka akan menuntut perubahan yang lebih mendasar.

Perbedaan cara pandang tersebut menciptakan garis pemisah besar dalam banyak gerakan sosial saat ini.

Ini Bukan Sekadar Identitas. Ini Soal Kekuasaan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah siapa kita.

Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang memperoleh keuntungan ketika kelompok-kelompok tertindas berhenti berjuang bersama.

Sejarah berulang kali menunjukkan pola yang sama.

Kekuasaan selalu lebih mudah menghadapi kelompok-kelompok kecil yang terpecah. Sebaliknya, kekuasaan selalu menghadapi kesulitan ketika kelompok-kelompok tersebut menemukan kepentingan bersama dan bergerak dalam satu arah.

Karena itu, setiap perpecahan memiliki konsekuensi politik.

Ketika buruh, perempuan, kelompok minoritas, dan masyarakat miskin saling memandang sebagai lawan, kekuatan mereka menyusut. Namun ketika mereka menemukan musuh yang sama, kemampuan mereka untuk menekan sistem meningkat secara drastis.

Di situlah ironi besar zaman modern muncul.

Semakin banyak orang berbicara tentang penindasan. Namun semakin sedikit orang membicarakan struktur yang menghasilkan penindasan tersebut.

Dan mungkin, itulah pertanyaan yang paling mengganggu.

Bukan soal identitas siapa yang paling penting.

Melainkan siapa yang paling diuntungkan ketika solidaritas berubah menjadi perpecahan. @dimas

Tags: AktivismeGerakan SosialKetimpangan EkonomiPerjuangan KelasPolitik IdentitasSolidaritas Sosial

Kamu Melewatkan Ini

Target Ekonomi 6 Persen: Angka Naik, Ketimpangan Mengintai

Target Ekonomi 6 Persen: Angka Naik, Ketimpangan Mengintai

by dimas
Agustus 14, 2026

Target ekonomi 6 persen pada 2026 menghadapi tantangan ketimpangan, kualitas pekerjaan, dan pemerataan manfaat pertumbuhan. Tabooo.id: Jakarta - Presiden Prabowo...

Ekonomi Tumbuh, Tapi Dompet Rakyat Belum Merdeka

Ekonomi Tumbuh, Tapi Dompet Rakyat Belum Merdeka

by dimas
Agustus 11, 2026

Ekonomi Indonesia terus tumbuh, tetapi ketimpangan dan daya beli rakyat masih menjadi persoalan. Ketika ekonomi tumbuh, siapa yang benar-benar menikmati...

Revisi Garis Kemiskinan, Membaca Ulang Realitas

Revisi Garis Kemiskinan, Membaca Ulang Realitas

by dimas
Agustus 6, 2026

Pemerintah mengkaji revisi garis kemiskinan agar lebih sesuai realitas. Langkah ini berpotensi mengubah potret kemiskinan Indonesia. Tabooo.id - Seorang buruh...

Next Post
Sejarah PKI: Lahir dari Kemarahan, Tumbuh dari Ketidakadilan

Sejarah PKI: Lahir dari Kemarahan, Tumbuh dari Ketidakadilan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id