Tabooo.id: Deep – “Alhamdulillah… dapat penghargaan karena menanam pohon,” suara Mbah Sadiman, 72, terdengar sederhana. Tapi di balik kalimat itu, ada puluhan ribu pohon beringin yang tumbuh tegak di Hutan Gendol, membawa kehidupan bagi ratusan keluarga di Desa Geneng, Wonogiri.
Di sebuah auditorium Jakarta, Kamis (16/10/2025), Mbah Sadiman menerima Mandaya Award kategori Lifetime Contribution. Ia berdiri dengan badan yang menunduk sopan, tangan mengenggam piagam di atas podium. Menteri Pekerja Migran, Mukhtarudin, dan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, mengapitnya. Semua mata tertuju padanya, tapi pikirannya Mbah Sadiman tetap di antara pohon beringin yang ia tanam sejak 1996, di atas tanah gersang yang dulu hangus terbakar.
Mandaya Award sendiri adalah penghargaan nasional yang digagas Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Tujuannya sederhana tapi penting: memberi pengakuan kepada individu, komunitas, dan lembaga yang bekerja tanpa pamrih untuk pembangunan berkelanjutan.
Di Indonesia, penghargaan semacam ini jarang menyoroti aktor lokal yang kerap bekerja sendiri, tanpa media massa atau sorotan publik. Mereka adalah orang-orang yang membangun akar secara literal tanpa pamrih, dan dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Sadiman bukan sekadar penanam pohon. Ia adalah manusia yang membuat air tetap mengalir. Puluhan ribu beringin yang ditanamnya memunculkan mata air baru yang disalurkan ke rumah-rumah warga menggunakan pipa paralon sederhana. Di musim kemarau, desa yang dulu kesulitan air kini tidak pernah kering.
Di usia 72, langkah Mbah Sadiman masih mantap meski tangan sudah berkerut. Setiap pohon yang ia tanam adalah cerita perjuangan: tanah yang panas, hujan yang kadang datang telat, atau kerusakan hutan akibat ulah manusia lain.
“Sekarang saya juga menanam kopi robusta,” kata Sadiman sambil menunjuk barisan pohon muda yang rapi di Hutan Gendol. “Ini biar ada alasan buat saya tetap menjaga pohon beringin. Jadi selain merawat beringin, ya ada kopi, sing ana kasile [komersial].”
Bagi Mbah Sadiman, menanam pohon bukan sekadar aktivitas fisik. Itu adalah ritual, pengingat akan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Ia menanam tanaman hias di sekeliling beringin, supaya pohon besar terlihat sakral dan tak dirusak. Setiap akar beringin, setiap daun yang menari ditiup angin, adalah simbol ketekunan dan cinta pada lingkungan.
Di balik penghargaan dan piagam, ada pertanyaan yang lebih dalam: mengapa orang seperti Sadiman baru mendapat sorotan setelah bertahun-tahun? Mengapa sistem dan kebijakan sering terlambat memberi pengakuan?
Di Indonesia, pembangunan dan pelestarian lingkungan sering berbenturan. Proyek pemerintah atau korporasi kerap menimpa hutan-hutan lokal, sementara individu yang bekerja menjaga ekosistem nyaris tak terlihat. Sistem memberi penghargaan, tapi tidak selalu memberi dukungan awal atau perlindungan hukum yang memadai.
Sadiman menunjukkan bahwa aksi kecil, konsisten, dan tanpa pamrih bisa mengubah hidup banyak orang. Tapi sistem yang lamban membuat kita sering terlambat menilai siapa yang benar-benar berkontribusi. Hutan Sadiman bukan hanya pepohonan; ia adalah cermin dari prioritas sosial dan ketidakseimbangan perhatian: publik lebih cepat menyoroti gemerlap instansi daripada akar pohon yang menghidupi desa.
Hari ini, Mbah Sadiman berdiri di panggung Jakarta. Besok, ia akan kembali ke Hutan Gendol, menanam beringin baru, dan menunggu hujan berikutnya. Pekerjaannya sederhana, tapi maknanya besar: memberi kehidupan, bukan hanya kepada pohon, tapi kepada manusia dan bumi.
Hutan Sadiman adalah pengingat: perubahan besar sering dimulai dari hal kecil, dari kesabaran yang tak terlihat, dari dedikasi yang tidak diukur dengan popularitas. Dan ketika masyarakat atau pemerintah akhirnya memberikan penghargaan, itu bukan sekadar pengakuan, tapi peringatan bagi kita semua: jangan sampai manusia hebat baru terlihat setelah puluhan tahun.
Siapa yang menanam pohon hari ini, adalah siapa yang akan menenggelamkan kita dalam harapan besok.
Apakah kita siap menghargai mereka sebelum waktunya tiba? @sigit




