Hutan hendak diselamatkan, kru helikopter justru kehilangan nyawa setelah heli pemadam karhutla jatuh di Sungai Barito.
Kecelakaan ini menyisakan pertanyaan lebih besar daripada sekadar bagaimana helikopter itu jatuh. Sebab, armada yang seharusnya membantu memadamkan api justru mengalami kecelakaan saat menjalankan misi penanggulangan karhutla.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, membenarkan kabar meninggalnya Yayan.
“Iya meninggal dunia,” kata Berton di kutip dari Kompas.com, Minggu.
Berton mengatakan, tim menemukan Yayan dalam kondisi meninggal dunia. Petugas kemudian mengevakuasi jenazahnya ke Puskesmas Jenamas, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Selanjutnya, petugas berencana membawa jenazah melalui jalur darat menuju Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Minggu malam.
Sebelumnya, BNPB sempat melaporkan Yayan Soepiang Suri masih dalam pencarian. Informasi tersebut berubah setelah tim menemukan dan mengevakuasi korban.
Sementara itu, dua awak helikopter lainnya merupakan warga negara Australia. Mereka adalah Hugh Andrew John Page dan Michael John Beteridge.
BNPB menyebut keduanya telah ditemukan. Pemerintah juga memastikan mereka mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan penanganan medis sesuai kebutuhan.
Lima Jam Menuju Lokasi, Nyawa Menjadi Taruhan
Operasi pencarian dan pertolongan melibatkan sejumlah unsur. Kantor SAR Banjarmasin mengerahkan 18 personel menuju lokasi kejadian.
Menurut laporan Basarnas, tim berangkat pada pukul 13.10 WITA menggunakan kendaraan penyelamat dan kapal Rigid Inflatable Boat (RIB).
Jarak lokasi kecelakaan mencapai sekitar 141 kilometer dari Kantor SAR Banjarmasin. Sementara itu, jarak dari Dermaga Basirih mencapai sekitar 71 mil laut.
Tim memperkirakan perjalanan membutuhkan waktu sekitar lima jam. Operasi tersebut juga melibatkan TNI Angkatan Udara, Polri, Babinsa, serta masyarakat setempat.
Petugas membawa sejumlah peralatan, termasuk perahu karet, perlengkapan penyelaman, alat komunikasi, dan perangkat pendukung penyelamatan lainnya.
BNPB mengapresiasi respons Basarnas dan seluruh unsur yang membantu operasi tersebut.
Namun, keberhasilan menemukan korban tidak menghapus persoalan utama. Kecelakaan ini tetap membutuhkan penjelasan menyeluruh.
Ketika Armada Penanggulangan Bencana Justru Mengalami Kecelakaan
Ada ironi yang sulit diabaikan dalam peristiwa ini.
Helikopter tersebut menjalankan misi pemadaman karhutla. Namun, misi penyelamatan lingkungan itu berakhir dengan jatuhnya armada dan hilangnya nyawa seorang kru.
Persoalannya bukan sekadar soal kecelakaan penerbangan. Publik juga perlu mengetahui bagaimana kesiapan armada, kondisi operasional, hingga prosedur keselamatan dalam misi berisiko tinggi.
Apalagi, BNPB sebelumnya juga menghadapi kecelakaan dua helikopter saat menangani karhutla. Situasi ini membuat evaluasi operasi udara semakin mendesak.
Meski demikian, penyebab kecelakaan helikopter di Sungai Barito belum dapat disimpulkan. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan adanya kelalaian atau kegagalan prosedur sebelum hasil investigasi tersedia.
Tetapi satu hal tidak boleh ditunda: evaluasi keselamatan penerbangan harus berjalan serius.
Operasi pemadaman karhutla memang membutuhkan kecepatan dan keberanian. Namun, keselamatan kru tidak boleh menjadi harga yang dianggap wajar demi mengejar target pemadaman.
Nyawa Kru Bukan Angka dalam Operasi Karhutla
Bagi masyarakat, kecelakaan ini menjadi pengingat bahwa penanggulangan bencana bukan hanya soal memadamkan api atau menyelamatkan kawasan hutan.
Ada manusia yang bekerja di balik operasi tersebut. Mereka menghadapi risiko di udara, di tengah cuaca, dan dalam kondisi lapangan yang tidak selalu mudah diprediksi.
Yayan bukan sekadar satu nama dalam laporan operasi SAR. Ia adalah manusia yang kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan belasungkawa dan memastikan proses evakuasi selesai. Pemerintah juga harus menjelaskan hasil investigasi, mengevaluasi kelayakan armada, serta memastikan standar keselamatan benar-benar berjalan.
Sebab, jangan sampai dalam upaya menyelamatkan hutan dari api, keselamatan manusia justru menjadi hal yang dikorbankan. @dimas







