Tabooo.id: Deep – Di ujung landasan yang jarang dilirik, sebuah badan pesawat tua menunggu dalam diam. Waktu memudarkan catnya. Roda-roda besinya mencengkeram tanah. Tak ada jadwal lepas landas, awak, atau nama di papan keberangkatan. Selama bertahun-tahun, pesawat itu hadir sebagai bayangan logam hingga suatu hari seseorang akhirnya bertanya dengan ragu: pesawat siapa ini?
Jawaban itu datang terlambat. Bahkan terlalu terlambat. Tiga belas tahun terlambat.
Pesawat itu bernama Boeing 737-200 dengan nomor registrasi VT-EHH. Pesawat ini milik Air India. Setidaknya, itulah yang akhirnya manajemen akui pada November lalu. Selama lebih dari satu dekade, pesawat ini lenyap dari catatan internal maskapai nasional India. Ia tidak jatuh, tidak dibajak, dan tidak meledak. Pesawat itu sekadar terlupakan. Ia tertinggal di sudut terpencil Bandara Internasional Netaji Subhas Chandra Bose, Kolkata, layaknya barang yang ditinggalkan karena tak lagi muat di ingatan.
Di titik ini, kisah tersebut berubah arah. Ia tidak lagi berdiri sebagai soal administrasi ceroboh semata.
Saat Sistem Bergerak, Ingatan Tertinggal
Secara resmi, Air India memarkir pesawat ini di Kolkata pada 2012 setelah manajemen memensiunkannya dari layanan operasional. Saat itu, Boeing 737-200 memang sudah uzur. Generasi awal seri 737 ini lahir pada akhir 1960-an. Seiring waktu, dunia penerbangan melaju jauh meninggalkannya. Mesin menjadi lebih senyap. Badan pesawat makin ramping. Sistem data pun semakin rapi. Dalam lanskap baru itu, pesawat tua seperti VT-EHH tersingkir dari daftar prioritas.
Namun, bandara tidak pernah melupakan keberadaannya.
Setiap bulan, pengelola bandara mencatat biaya parkir. Mereka mengirim tagihan dan melayangkan surat. Nama Air India tercantum jelas sebagai pihak penanggung jawab. Meski begitu, maskapai menolak membayar. Alasannya terdengar sederhana, sekaligus ironis: mereka tidak menemukan catatan yang menyebut pesawat itu milik mereka.
Di sinilah logika mulai runtuh.
Bagaimana mungkin sebuah maskapai nasional kehilangan jejak satu pesawat utuh?
Pertanyaan itu menggantung lama. Hingga akhirnya, pihak bandara mengambil langkah tegas. Mereka mengirim permintaan resmi agar Air India segera memindahkan pesawat tersebut. Sejak saat itu, ruang untuk berpura-pura lupa tertutup rapat. Air India pun membuka arsip lama, menelusuri jejak, dan menyambungkan serpihan data. Proses itu berakhir pada satu temuan memalukan.
“Kami baru mengetahui bahwa pesawat itu milik kami dalam waktu dekat ini,” tulis CEO Air India, Campbell Wilson, dalam pesan internal kepada karyawan. Ia menyebut pesawat tersebut “hilang dari ingatan.” Ungkapan itu terdengar manusiawi. Namun, ketika frasa itu melekat pada mesin seberat puluhan ton, maknanya terasa ganjil.
Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Pesawat memang tidak bisa berbicara. Meski begitu, ia menyimpan sejarah panjang.
VT-EHH pernah mengangkut surat dan paket untuk India Post. Ia juga sempat berubah fungsi menjadi pesawat kargo. Sebelumnya, pesawat ini terbang bersama Indian Airlines—maskapai yang kemudian melebur ke dalam Air India pada 2007. Setelah merger itu, restrukturisasi datang berlapis-lapis. Sistem berganti. Manajemen menyatukan berbagai unit kerja. Data pun berpindah tangan.
Dalam setiap transisi, selalu ada sesuatu yang tertinggal.
Pesawat ini menjadi salah satunya.
Ketika Air India memasuki proses privatisasi pada 2022 dan Tata Group mengambil alih kendali, daftar aset berubah menjadi dokumen krusial. Aset yang tercantum berpindah tangan. Sebaliknya, aset yang tidak tercatat terancam lenyap. VT-EHH tidak muncul dalam daftar tersebut. Manajemen tidak mencatatnya, menghitungnya, atau mempertimbangkannya. Pesawat ini menyerupai kenangan lama yang dianggap selesai, padahal masih berdiri nyata.
Faktanya, pesawat itu tetap ada. Ia menyentuh tanah, memakan ruang, dan menunggu untuk disadari.
Manusia di Balik Logam
Analis penerbangan menilai kasus ini sangat jarang. Industri penerbangan menerapkan pengawasan ketat. Setiap baut memiliki nomor. Setiap mesin menyimpan riwayat perawatan. “Sulit membayangkan sebuah maskapai benar-benar kehilangan jejak sebuah pesawat,” ujar John Strickland dari JLS Consulting.
Namun kenyataan berkata lain.
Di balik angka dan dokumen, manusia terus bergerak. Petugas bandara melihat pesawat itu setiap hari saat melangkah menuju kantor. Staf administrasi rutin mengirim tagihan, meski mereka sadar peluang pembayaran tipis. Para teknisi memahami satu hal: pesawat ini tak akan terbang lagi, tetapi mereka juga tidak bisa mengabaikannya.
Di sisi lain, mungkin ada karyawan Air India yang pernah bekerja di unit kargo. Mereka mengingat samar satu pesawat tua. Lalu, perlahan, mereka melupakannya. Organisasi besar sering memaksa ingatan bekerja selektif.
Karena itu, kisah ini tidak hanya berbicara tentang satu pesawat. Ia menyingkap sistem yang membesar terlalu cepat hingga kehilangan detail. Ia memperlihatkan perusahaan yang sibuk bertahan, bertransformasi, dan menyelamatkan diri, lalu melupakan sudut-sudut sepi.
Harga dari Sebuah Lupa
Ketika Air India akhirnya mengakui kepemilikan pesawat itu, konsekuensi langsung menyusul. Bandara Kolkata menagih sekitar 10 juta rupee, setara Rp 1,9 miliar. Jumlah tersebut berasal dari akumulasi biaya parkir selama lebih dari satu dekade. Air India menyetujui pembayaran penuh. Kali ini, tidak ada bantahan.
Pada 14 November, pesawat itu akhirnya pergi. Namun, ia tidak terbang. Truk-truk besar mengangkutnya lewat jalur darat menuju Bengaluru. Perjalanan terakhir itu berlangsung tanpa sayap yang bekerja, tanpa suara mesin, dan tanpa penonton.
Lalu, pertanyaan penting pun muncul: apa yang sebenarnya sistem sembunyikan?
Pertanyaan yang Tertinggal
Kisah ini memperlihatkan bagaimana institusi besar kerap memuja efisiensi, tetapi rapuh dalam mengelola ingatan. Kebijakan, merger, dan privatisasi memang membersihkan neraca. Namun, pada saat yang sama, proses itu meninggalkan ruang gelap. Di ruang itulah sesuatu tertinggal. Bukan karena niat jahat, melainkan karena setiap orang mengira orang lain sudah mengurusnya.
Pesawat ini pun menjelma metafora. Ia mewakili aset yang dianggap tak lagi bernilai lalu disingkirkan. Ia menggambarkan masa lalu yang diperlakukan sebagai beban. Ia menunjukkan kecenderungan manusia dan sistem untuk membuang hal-hal yang tak lagi relevan.
Padahal, yang tidak relevan hari ini bisa berubah menjadi masalah besar esok hari.
Hampir tak ada pihak yang diuntungkan. Bandara menunggu terlalu lama. Publik mempertanyakan tata kelola. Air India menelan rasa malu. Sistem kembali diuji.
Pada akhirnya, area parkir kembali kosong. Tagihan telah lunas. Cerita seolah selesai.
Namun satu pertanyaan tetap menggantung.
Jika sebuah pesawat bisa hilang selama 13 tahun di bawah pengawasan industri penerbangan yang ketat, apa lagi yang luput dari perhatian? Aset kecil? Keselamatan? Atau manusia yang bekerja diam-diam di balik layar?
VT-EHH memang tak lagi berdiri di Kolkata. Namun kisahnya meninggalkan peringatan sunyi: di dunia yang terlalu sibuk bergerak maju, bahaya terbesar sering datang bukan dari kegagalan besar, melainkan dari hal-hal kecil yang perlahan kita lupakan hingga suatu hari, mereka memaksa kita untuk mengingatnya kembali. (red)







