Tabooo.id: Edge – Healing Ke Bali… Siapa yang tidak tergiur untuk liburan Ke Pulau Dewata ini. Namun, ada satu ironi yang cuma bisa dipahami kalau kamu pernah ke Bali saat musim liburan, kamu datang untuk healing, tapi pulangnya… justru butuh healing lagi.
Liburan Berakhir, Realita Mulai Antri
Di dalam bandara, orang-orang berdiri. Bukan karena santai. Tapi karena tidak ada pilihan. Mereka mengantri dengan koper berjajar, wajah yang mulai datar. Energi yang kemarin dipakai untuk foto sunset, sekarang dipakai untuk… bertahan.
Pemandangan ini seakan membuat bandara berubah fungsi. Bukan lagi tempat keberangkatan, melainkan jadi zona transisi dari bahagia ke realita.
“Healing Itu Nyata, Tapi Antrinya Realita”
Seorang wisatawan, sebut saja Eni (40), yang baru saja selesai liburan 5 hari di Bali, bilang dengan nada setengah bercanda.
“Di Bali aku tenang banget. Tapi di bandara, semua balik lagi. Capek, nunggu, desak-desakan. Healing-nya kayak ke-reset,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Sementara itu, Eko (30), yang datang bersama teman-temannya, punya versi yang lebih jujur, “Liburannya worth it sih. Tapi pulangnya chaos. Ini kayak habis recharge, langsung dipakai habis lagi di bandara.”
Lucunya, semua orang tahu ini akan terjadi. Tapi tetap datang. Tetap antri. Tetap mengulang.
Bali: Surga yang Terlalu Ramai
Masalahnya bukan di Bali. Masalahnya di semua orang yang punya ide yang sama di waktu yang sama.
Liburan = Bali
Healing = Bali
Foto bagus = Bali
Hasilnya?
Bali tidak lagi terasa seperti pelarian. Tapi seperti keramaian yang dipindahkan ke pulau lain.
Healing atau Konten?
Mari jujur sedikit. Berapa banyak orang ke Bali untuk benar-benar istirahat… dan berapa banyak yang datang untuk update story? Karena di era sekarang, healing bukan cuma soal rasa, namun juga soal validasi digital.
“Kadang kita nggak benar-benar istirahat. Kita cuma pindah tempat buat capek yang sama,” kata Jerry (24), seorang Lawyer yang ditemui di antrean.
Dan bandara adalah tempat di mana semua ilusi itu… mulai runtuh.
Koper Penuh, Energi Kosong
Lucunya, orang pulang dari liburan selalu bawa lebih banyak barang, seperti oleh-oleh, baju baru, sandal baru, dan sebagainya. Tapi ada satu hal yang sering tertinggal, Energi. Karena perjalanan pulang, antrian panjang, delay, keramaian, diam-diam menguras semuanya.
Siklus yang Kita Nikmati (dan Keluhkan)
Ini bukan pertama kali, dan jelas bukan terakhir. Setiap musim liburan:
- Kita lelah kerja
- Kita kabur ke Bali
- Kita merasa “sembuh”
- Kita pulang… dan lelah lagi
Siklusnya rapi. Hampir seperti sistem.
Antara Pelarian dan Kenyataan
Bali selalu dijual sebagai tempat untuk menemukan diri. Tapi mungkin yang lebih jujur adalah Bali adalah tempat untuk melupakan diri sementara.
Karena begitu kamu sampai di bandara, semua tentang deadline pekerjaan, tugas kuliah maupun sekolah, Dan semua reality kehidupan kembali. Tapi sebelum itu semua, kita diharapkan pada sebuah metafora antrian panjang. Kita semua harus antri… untuk kembali ke kehidupan yang sama.
Jadi, Kita Healing atau Cuma Pause?
Jadi, ini bukan sekadar antrean di bandara. Ini adalah cermin kecil dari gaya hidup kita hari ini, kita lelah, kita kabur, kita pulang, dan kita ulang. Di tengah semua itu, satu pertanyaan pelan-pelan muncul, Apakah kita benar-benar sembuh… atau cuma menunda capek? @tabooo



