Tabooo.id: Talk – Mari mulai dari pertanyaan yang agak mengganggu kita benar-benar kekurangan dokter, atau justru gagal menjaga yang sudah ada?
Kabar duka dari RSUD Cimacan pada 26 Maret 2026 kembali mengguncang. Seorang dokter muda yang sedang menjalani internship meninggal setelah tertular campak. Padahal, penyakit ini sudah lama dikenal. Lebih dari itu, penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi.
Jadi, ini bukan sekadar tragedi medis. Sebaliknya, ini sinyal keras tentang celah besar dalam sistem kita.
Ketika Penyembuh Justru Tak Terlindungi
Bayangkan situasinya. Seorang dokter muda datang ke daerah dengan risiko penularan tinggi. Ia seharusnya menjadi pelindung masyarakat. Namun, dalam kenyataannya, ia justru menjadi korban.
Selama ini, kita sering memuji “pengabdian”. Akan tetapi, tanpa perlindungan yang memadai, pengabdian bisa berubah menjadi risiko yang tidak adil.
Memang, pemerintah bergerak cepat setelah kejadian. Otoritas langsung melakukan penyelidikan epidemiologis dan mendistribusikan vitamin A. Di permukaan, langkah ini terlihat responsif.
Namun demikian, muncul pertanyaan penting: intervensi itu menyasar siapa? Anak-anak atau orang dewasa? Ketepatan sasaran menjadi krusial, apalagi risiko komplikasi campak pada orang dewasa jauh lebih tinggi.
Dengan kata lain, respons cepat saja tidak cukup. Respons yang tepat jauh lebih menentukan.
Angka Aman, Realitas Berbeda
Di sisi lain, data nasional menunjukkan cakupan imunisasi terlihat “aman”. Bahkan, laporan resmi menampilkan warna hijau yang menenangkan.
Akan tetapi, fakta di lapangan berkata lain. Indonesia justru menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus campak dalam beberapa bulan terakhir (WHO, Maret 2026).
Di titik ini, kita melihat paradoks. Di atas kertas, sistem tampak rapi. Sementara itu, di lapangan, banyak wilayah justru rapuh.
Selain itu, muncul 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di awal 2026. Angka ini bukan sekadar statistik. Sebaliknya, angka ini menunjukkan adanya celah serius dalam distribusi dan efektivitas imunisasi.
Karena itu, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan angka nasional. Kita perlu membaca realitas yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ambisi Besar, Prioritas yang Bergeser
Selanjutnya, mari kita lihat arah kebijakan. Kementerian Kesehatan saat ini tampak fokus pada peningkatan jumlah dokter. Narasi “kekurangan dokter” terus digaungkan, terutama untuk dokter spesialis.
Di satu sisi, langkah ini masuk akal. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: setelah mereka lulus, siapa yang menjamin keselamatan mereka?
Kita bisa mempercepat produksi tenaga medis. Kita juga bisa memperluas akses pendidikan. Akan tetapi, tanpa sistem perlindungan yang kuat, semua itu berisiko menjadi sia-sia.
Ibaratnya, kita terus menambah pemain, tetapi lupa memperbaiki aturan mainnya.
Padahal sebelumnya, Indonesia pernah memiliki sistem penugasan dokter yang relatif baik. Negara menyediakan fasilitas tempat tinggal, transportasi, hingga dukungan operasional.
Kini, sistem itu terasa melemah. Akibatnya, dokter di lapangan sering harus bertahan dengan perlindungan minim.
Perspektif Lain: Kompleksitas yang Nyata
Tentu saja, kita tidak bisa melihat masalah ini secara hitam-putih. Mengelola sistem kesehatan nasional bukan perkara mudah. Pemerintah harus menghadapi keterbatasan anggaran, distribusi tenaga yang timpang, serta koordinasi pusat-daerah yang sering tidak sinkron.
Selain itu, pasca pandemi, tantangan baru juga muncul. Kepercayaan publik terhadap imunisasi tidak selalu stabil. Informasi yang beredar pun sering simpang siur.
Namun demikian, justru karena situasi kompleks, pemerintah perlu menetapkan prioritas yang jelas. Dalam konteks ini, keselamatan tenaga kesehatan seharusnya berada di garis depan.
Tanpa itu, kebijakan sebesar apa pun akan kehilangan makna.
Jadi, Kita Sedang Salah Arah?
Jika kita rangkum, gambarnya cukup jelas. Seorang dokter muda meninggal karena penyakit yang bisa dicegah. Pada saat yang sama, negara terus mendorong peningkatan jumlah dokter.
Namun, perlindungan terhadap tenaga medis belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Akibatnya, muncul pertanyaan besar: apakah kita sedang mengejar target yang salah?
Kesehatan publik bukan hanya soal jumlah tenaga atau kecanggihan teknologi. Sebaliknya, ini soal bagaimana kita melindungi manusia di dalam sistem itu.
Penutup
Pada akhirnya, kita perlu jujur melihat prioritas. Menambah dokter memang penting. Namun, menjaga keselamatan mereka jauh lebih mendesak.
Tanpa perlindungan, setiap dokter yang turun ke lapangan sebenarnya sedang mengambil risiko besar.
Jadi, sebelum kita berbicara tentang kekurangan tenaga medis, mungkin kita perlu bertanya lebih dulu apakah kita sudah cukup menjaga mereka yang ada?
Lalu, kamu di kubu mana memperbanyak dokter, atau memastikan mereka pulang dengan selamat? @dimas



