Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Google Uji Baterai Udara: Simpan Listrik Pakai CO₂

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Google Taruh Harapan di Baterai “Udara”

Tabooo/id: Teknologi – Google menggandeng perusahaan rintisan asal Milan, Italia, Energy Dome, untuk mengembangkan teknologi baterai “udara” berbasis karbon dioksida (CO₂). Kolaborasi ini menargetkan penyimpanan energi skala besar untuk menopang operasional data center Google di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Pasifik.

Langkah ini menegaskan ambisi Google mencari solusi energi bersih yang stabil, bukan sekadar hijau di atas kertas.

Cara Kerja Baterai CO₂: Kubah Raksasa Penjaga Energi

Energy Dome menyimpan energi di dalam kubah raksasa berisi gas CO₂ terkompresi. Saat pembangkit energi terbarukan menghasilkan listrik berlebih, sistem langsung memanfaatkan energi itu untuk memampatkan gas.

Ketika kebutuhan listrik meningkat, sistem melepaskan tekanan gas. CO₂ yang mengembang memutar turbin dan menghasilkan listrik kembali. Satu fasilitas mampu menyimpan hingga 200 MWh energi, cukup untuk memasok listrik sekitar 6.000 rumah.

Teknologi ini mengubah masalah klasik energi terbarukan produksi yang tidak stabil menjadi peluang.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Dari Panas ke Turbin: Energi Disimpan Tanpa Baterai Konvensional

Saat menyimpan energi, sistem mendinginkan CO₂ menggunakan energi panas hingga mencapai suhu ruang. Proses ini mengubah gas menjadi cair selama sekitar 10 jam.

Ketika listrik dibutuhkan, sistem memanaskan kembali cairan tersebut hingga menjadi gas. Tekanan yang muncul langsung menggerakkan turbin. Semua proses berlangsung tanpa lithium, nikel, atau mineral tanah jarang.

Di sinilah Energy Dome mencuri perhatian Google.

Solusi untuk Energi Hijau yang Naik-Turun

Energi surya dan angin sering menghasilkan listrik berlebih di jam tertentu, lalu menurun drastis di waktu lain. Energy Dome hadir untuk menjembatani celah itu.

Sistem ini menyimpan energi saat produksi memuncak, lalu menyalurkannya kembali ketika matahari tenggelam atau angin berhenti berembus. Google menilai pendekatan ini cocok untuk semua jenis pembangkit terbarukan.

Ainhoa Anda dari Google menyebut standardisasi menjadi nilai jual utama. Sistem ini bisa dipasang secara Proyekdi lokasi dengan infrastruktur listrik yang sudah siap.

Prototipe Italia, Ambisi Global

Energy Dome saat ini membangun prototipe di lahan lima hektare di Sardinia, Italia. Jika proyek ini berjalan sukses, perusahaan berencana memperluas fasilitas ke India, Amerika Serikat, dan wilayah lain.

Google sendiri membidik lokasi data center yang memiliki surplus energi terbarukan. Dengan begitu, pusat data bisa langsung menarik listrik dari baterai CO₂ tanpa bergantung penuh pada jaringan konvensional.

Siapa Diuntungkan, Siapa Perlu Waspada?

Google jelas diuntungkan. Data center rakus energi kini mendapat pasokan yang lebih stabil dan ramah lingkungan. Industri energi terbarukan juga memperoleh solusi penyimpanan skala besar tanpa ketergantungan pada mineral langka.

Namun, teknologi ini tidak sepenuhnya bebas masalah. Baterai CO₂ menghasilkan emisi lebih besar dibanding baterai lithium. Risiko kebocoran gas juga tetap menghantui, terutama jika pengelolaan fasilitas lalai.

Energi Bersih, Tapi Jangan Lengah

Baterai “udara” memberi harapan baru bagi masa depan energi bersih. Namun, teknologi secanggih apa pun tetap butuh pengawasan ketat dan transparansi.

Jika tidak, upaya menyelamatkan iklim justru bisa berubah jadi cerita tentang kebocoran CO₂ yang “tidak sengaja” terjadi dan seperti biasa, publik baru tahu belakangan. @teguh

Tags: BateraiEnergiGoogleKonvensionalproyekResiko

Kamu Melewatkan Ini

Pintar Itu Banyak. Etis? Kok Jadi Minoritas?

Pintar Itu Banyak. Etis? Kok Jadi Minoritas?

by teguh
Mei 4, 2026

Di dunia digital yang penuh kebocoran data, ransomware, dan hacker kriminal, kabar ini terasa agak “nggak biasa”.Sementara itu, seorang siswa...

Bocah 14 Tahun, NASA, dan Negara yang Selalu Datang Terlambat

Bocah 14 Tahun, NASA, dan Negara yang Selalu Datang Terlambat

by teguh
Mei 4, 2026

Halaman sekolah di Subang tampak tenang seragam rapi, suara siswa, dan rutinitas yang terasa familiar. Namun siang itu, satu fakta...

Singkong Keju: Murah di Ladang, Mahal di Etalase, Berbahaya di Dapur

Singkong Keju: Murah di Ladang, Mahal di Etalase, Berbahaya di Dapur

by Anisa
Mei 2, 2026

Aroma gurih singkong keju terasa sederhana, tapi ceritanya tidak sesederhana itu. Harga melonjak, branding terlihat meyakinkan, namun dapur di baliknya...

Next Post
Hollywood Ramai Film Baru, Cameron Tetap Jadi Raja

Hollywood Ramai Film Baru, Cameron Tetap Jadi Raja

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id