Tabooo.id: Vibes – Malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu, 11/04/2026, langsung terasa berbeda. Persija memang menang 3-0 atas Persebaya. Tapi lebih dari itu, dua gol Eksel Runtukahu memantik sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemenangan.
Di timeline, di grup WhatsApp, hingga kolom komentar nama Eksel mendadak ramai. Netizen tidak sekadar merayakan. Mereka mulai berharap. Dan di titik itu, sepak bola kembali berubah jadi ruang mimpi.
Gol yang Menghidupkan Harapan Lama
Eksel mencetak dua gol pada menit ke-53 dan 75. Ia membaca ruang dengan tepat, lalu menuntaskan umpan Allano Lima tanpa ragu.
Namun, publik tidak berhenti di situ. Mereka langsung mengaitkan performa itu dengan satu kata Timnas.
Di media sosial, dorongan terus bermunculan. Banyak yang menyebut Eksel layak mendapat kesempatan. Bahkan, sebagian netizen mulai membandingkannya dengan striker lain di liga.
Fenomena ini terus berulang. Setiap kali pemain lokal tampil menonjol, publik langsung mendorongnya ke panggung nasional. Karena itu, momen seperti ini selalu terasa lebih emosional.
Kenapa Pemain Lokal Sering Terlambat Diapresiasi?
Namun, di balik euforia itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam. Kenapa pemain seperti Eksel baru benar-benar dilirik setelah momen besar?
Padahal, ia sudah mencatat enam gol dan dua assist dari 18 laga. Selain itu, ia hanya butuh 912 menit untuk membuktikan kualitasnya. Artinya, performa itu tidak datang tiba-tiba.
Sayangnya, perhatian publik sering bergerak lambat. Banyak orang baru menyadari kualitas pemain setelah momen viral muncul. Akibatnya, konsistensi sering kalah oleh momentum. Pengamat sepak bola Indonesia, Akmal Marhali, menegaskan hal itu:
“Kita sering terlambat menghargai pemain lokal. Mereka baru dilirik setelah viral, bukan setelah konsisten,” ujar Akmal Marhali, 15 Januari 2024. Karena itu, kisah Eksel terasa familiar dan sedikit ironis.
Netizen, Emosi, dan Sepak Bola sebagai Ruang Pelarian
Di sisi lain, reaksi publik tidak muncul tanpa alasan.
Sepak bola di Indonesia bukan sekadar hiburan. Ia menjadi tempat orang melampiaskan emosi, membangun harapan, bahkan mencari pelarian.
Ketika realitas terasa berat, kemenangan tim kesayangan memberi jeda. Selain itu, kisah pemain seperti Eksel terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.
Ia sempat tersisih. Ia menunggu. Lalu, ia membuktikan diri. Karena itu, publik tidak hanya melihat gol. Mereka melihat perjuangan.
Rendah Hati di Tengah Sorotan
Namun, di tengah sorotan besar itu, Eksel tetap memilih jalan yang sederhana.
“Saya tidak berharap untuk ke situ. Tapi saya akan memberikan yang terbaik untuk tim. Kalau memang dari Tuhan ada kesempatan buat ke Timnas Indonesia, saya akan memberikan yang terbaik untuk itu,” ujar Eksel Runtukahu, Sabtu, 11/04/2026.
Ia tidak mengejar panggung. Sebaliknya, ia fokus pada proses. Dan justru karena itu, banyak orang semakin percaya.
Siklus yang Terus Berulang
Jika dilihat lebih jauh, cerita ini sebenarnya bukan hal baru. Pola yang sama terus terjadi:
- Pemain tampil bagus
- Publik mulai percaya
- Netizen mendorong ke Timnas
- Harapan membesar
Namun, sistem sering terlambat merespons. Karena itu, pertanyaannya kini berubah. Bukan lagi soal layak atau tidak.
Melainkan apakah sepak bola kita siap memberi ruang sebelum pemain harus viral lebih dulu?
Closing: Lebih dari Sekadar Dua Gol
Dua gol di GBK mungkin akan lewat begitu saja dalam statistik. Namun, rasa yang muncul setelahnya tidak mudah hilang.
Karena pada akhirnya, publik tidak hanya ingin melihat kemenangan. Mereka ingin merasa yakin bahwa harapan itu masih ada.
Dan lewat momen kecil seperti ini, sepak bola kembali mengingatkan satu hal:
kadang, kita tidak butuh keajaiban besar cukup satu momen yang membuat kita percaya lagi. @teguh







