Tabooo.id: Deep – Tangis itu pecah di depan gerbang sekolah.
Bukan tangis karena lapar.
Bukan pula karena tugas yang belum selesai.
Tangis itu muncul setelah suara benturan memecah sore. Sesaat kemudian, jeritan terdengar. Beberapa tubuh kecil terjatuh di aspal SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara. Sebuah mobil pengantar Makan Bergizi Gratis program yang lahir dari niat baik negara berubah menjadi sumber trauma.
Pada hari itu, negara hadir bukan melalui piring berisi gizi, melainkan lewat sirene ambulans yang memecah keheningan.
Program Baik yang Berhadapan dengan Kompleksitas Kota
Sejak awal, Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang sebagai jawaban atas masalah gizi anak. Negara ingin memastikan generasi muda tumbuh sehat, terutama di wilayah padat dan rentan. Di Jakarta Utara, program ini berjalan rutin sejak 24 Maret 2025. Setiap hari, kendaraan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) keluar-masuk sekolah tanpa hambatan berarti.
Namun, kota tidak pernah berjalan lurus seperti dokumen kebijakan.
Di lapangan, jalan sempit berkelok.
Selain itu, tanjakan menghadang.
Di sisi lain, manusia di balik kemudi membawa keterbatasannya sendiri.
Ketika sopir reguler jatuh sakit, mitra menggantikannya dengan sopir cadangan. Pergantian itu terlihat sah secara administratif. Namun, di titik inilah sistem mulai diuji.
Detik Singkat yang Mengubah Segalanya
Berdasarkan pemeriksaan awal kepolisian, kendaraan dalam kondisi prima. Rem berfungsi normal. Mesin bekerja baik. Mobil bahkan masih keluaran 2024. Masalahnya bukan pada logam atau mesin.
Masalah muncul pada kondisi manusia.
Sopir pengganti diduga kurang tidur dan tidak sepenuhnya fit. Saat bermanuver di area menanjak, ia kehilangan kendali. Mobil meluncur. Anak-anak dan seorang guru menjadi korban.
Sebanyak 11 anak sudah kembali ke rumah. Sementara itu, empat anak masih menjalani perawatan di RS Cilincing. Tujuh korban lain dirawat di RS Koja, termasuk satu guru. Dua di antaranya membutuhkan penanganan intensif.
Angka-angka ini memang terlihat rapi di laporan. Namun, di baliknya, ada anak yang kini takut mendengar suara mesin. Ada orang tua yang duduk gelisah di lorong rumah sakit sambil bertanya pelan: mengapa program sebaik ini bisa melukai anak kami?
Negara Hadir, Tapi Luka Tak Langsung Pulih
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, langsung turun tangan. Ia memantau kondisi korban. Ia berkoordinasi dengan rumah sakit. Selain itu, ia memastikan seluruh korban mendapat penanganan maksimal.
“Kami terus memantau dan melakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya.
BGN memperketat SOP kendaraan. Mereka meninjau ulang mekanisme penggantian sopir cadangan. Untuk sementara, mitra mengganti kendaraan operasional. Proses hukum pun diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian.
Secara kebijakan, langkah-langkah itu tepat. Namun, bagi keluarga korban, ketenangan tidak lahir dari pernyataan resmi. Ketenangan muncul saat anak berani kembali melangkah ke sekolah tanpa rasa takut.
Trauma yang Tak Pernah Tertulis di Buku Teknis
BGN juga menyadari satu persoalan krusial: trauma.
Trauma bukan sekadar luka fisik.
Trauma juga bukan sesuatu yang mudah diukur.
Rasa takut tidak tercantum dalam petunjuk teknis MBG. Kecemasan tidak masuk dalam daftar logistik. Padahal, trauma bisa tinggal lama di ingatan anak-anak.
Karena itu, BGN memilih berkoordinasi dengan pihak sekolah. Mereka menyiapkan layanan pemulihan psikologis. Selain itu, mereka memastikan program tidak dipaksakan berjalan sebelum anak-anak siap.
Keputusan ini penting. Di titik ini, negara mulai belajar bahwa kebijakan publik tidak selalu bisa dipaksakan hanya karena niatnya baik.
Ketika SOP Bertemu Kelelahan Manusia
Kasus ini membuka lapisan lain dari sistem pelayanan publik. Kita sering berbicara tentang SOP, izin, dan standar. Namun, kita jarang membicarakan kelelahan manusia yang menjalankan semua itu.
Sopir cadangan bekerja di pagi padat Jakarta.
Ia membawa tanggung jawab besar.
Namun, sistem mungkin tidak memberi cukup ruang untuk memastikan kesiapan mentalnya.
Kecelakaan ini tidak lahir dari rem blong atau mesin rusak. Ia lahir dari pertemuan antara manusia yang lelah dan sistem yang bergerak cepat.
Program Besar, Risiko yang Ikut Membesar
MBG adalah program nasional dengan cakupan luas. Ribuan sekolah terlibat. Ribuan kendaraan bergerak setiap hari. Di saat yang sama, risiko pun ikut berlipat.
Ketika negara memilih bergerak cepat, sistem pengaman harus bergerak lebih cermat. Tanpa kehati-hatian, niat baik bisa berubah menjadi ancaman, terutama bagi anak-anak.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menegaskan komitmen evaluasi terbuka. Investigasi internal berjalan beriringan dengan proses kepolisian. Selain itu, komunikasi dengan keluarga korban dijanjikan berlangsung transparan.
Namun, publik tentu akan menilai dari hasil, bukan dari janji.
Catatan Tabooo: Yang Sering Disembunyikan Sistem
Di titik ini, Tabooo memilih berhenti sejenak.
Menarik napas.
Lalu bertanya lebih dalam.
Apa yang sering disembunyikan sistem?
Jawabannya sederhana sekaligus rumit: kerentanan manusia.
Negara kerap tampil sebagai mesin besar yang rapi dan terukur. Namun, di baliknya, ada sopir yang lelah. Ada guru yang terluka saat melindungi muridnya. Ada anak-anak yang mendadak kehilangan rasa aman.
Kebijakan publik sering lupa bahwa keselamatan bukan hanya soal teknis. Keselamatan juga soal empati, jeda, dan keberanian untuk melambat ketika situasi menuntutnya.
Pertanyaan yang Masih Tertinggal
Kini, gerbang SDN Kalibaru 01 kembali terbuka. Aktivitas perlahan berjalan. Program MBG akan berlanjut. Negara berjanji belajar dari peristiwa ini.
Namun, satu pertanyaan masih menggantung di udara Jakarta Utara:
bisakah negara memastikan bahwa setiap niat baik tidak lagi melukai yang paling kecil?
Sebab bagi anak-anak itu, makan bergizi bukan sekadar soal nutrisi.
Ia adalah soal rasa aman. @dimas




